ALL Pendidikan

63 Mahasiswa UGM Ikuti Tes Beasiswa Tanoto

Tak biasanya pojok selatan lantai 2 Gedung Pusat UGM didatangi mahasiswanya. Rupanya ada tes wawancara bagi calon penerima beasiswa National Champion Scholarship dari Tanoto Foundation.
Tak biasanya pojok selatan lantai 2 Gedung Pusat UGM didatangi mahasiswanya. Rupanya ada tes wawancara bagi calon penerima beasiswa National Champion Scholarship dari Tanoto Foundation.

Setelah melalui tes administrasi, psikotes, dan focus group discussion, tersisa 63 mahasiswa S1 UGM yang berkesempatan mengikuti tes wawancara National Champion Scholarship (NCS) yang diadakan Tanoto Foundation. Tes ini merupakan tahap akhir yang akan menentukan siapa yang layak menerima beasiswa dari pihak Tanoto.

Kamis (21/5) sekitar pukul satu siang, tujuh mahasiswa dengan jas almamater UGM duduk di depan Ruang Sidang 2 DPPA untuk melakukan tes wawancara. Pojok lantai 2 sayap selatan gedung Pusat UGM disulap menjadi sebuah ruang tunggu dengan sebuah meja registrasi bagi para peserta. Tampak beberapa di antara mereka sedang mengisi formulir sementara yang lain mempersiapkan diri. Para peserta akan dipanggil satu per satu untuk diwawancarai berdasarkan jadwal dan tim pewawancara masing-masing.

Salah satu peserta, Deborah (18), mengaku merasa gugup dalam melakukan tahap wawancara ini. Mahasiswi Sastra Perancis ini beranggapan bahwa tes kali ini adalah yang paling sulit baginya karena berkaitan dengan kepribadian diri yang tidak bisa dibuat-buat.

Selagi menunggu dipanggil wawancara, peserta mempersiapkan diri dan mengisi formulir yang berisi daftar pertanyaan seputar wawancara yang akan dilakukan.

Selagi menunggu dipanggil wawancara, peserta diminta mengisi formulir yang berisi daftar pertanyaan seputar wawancara yang akan dilakukan.

“Berbeda dengan tes administrasi, psikotes, dan FGD. Kami tidak tahu jawaban seperti apa yang diinginkan pewawancara. Harus hati-hati, supaya jawaban tidak jadi pertanyaan baru yang menjatuhkan,” kata Deborah.

Hal serupa disampaikan oleh peserta lainnya, Aisyah (20), yang sedang menghapal visi dan misi Tanoto Foundation ketika ditemui. Baginya tes wawancara ini sangat menegangkan, karena dilakukan sendiri-sendiri. Tiap peserta akan diwawancara oleh tiga orang di dalam sebuah ruangan tertutup.

“Waktu psikotes, satu ruangan ada sekitar 60 orang. Ketika FGD, satu kelompok berisi sepuluh orang. Walaupun semuanya saling bersaing, tapi terasa lebih nyaman karena bersama-sama. Kalau sekarang, kita dipisah-pisah. Ruang, sesi, dan hari,” kata Aisyah.

Tes wawancara National Champion Scholarship untuk UGM dilaksanakan selama dua hari berturut-turut, yaitu pada Kamis (21/5) dan Jumat (22/5). Di tiap harinya, tes dimulai pada pukul 08.00 WIB. Untuk tiap peserta diberi waktu maksimal 30 menit. Peserta pertama dijadwalkan pada pukul 08.00-08.30, peserta kedua pada pukul 08.30-09.00, dan demikian seterusnya hingga pukul 15.30 WIB. Untuk mempermudah pelaksanaan wawancara, pihak Tanoto membagi lagi pesertanya ke dalam tiga tim pewawancara. Jadi ada tiga peserta yang diwawancarai dalam satu periode, oleh Tim 1, Tim 2, dan Tim 3. Masing-masing tim beranggotakan tiga pewawancara yang berasal dari Yayasan Tanoto Foundation sendiri.

loading...

Pertanyaan yang diajukan saat wawancara sangat beragam, mulai dari kepribadian, pengalaman, hingga pengetahuan peserta tentang Tanoto Foundation. Tak heran seluruh peserta mencoba menghapal serba-serbi Tanoto Foundation dan saling bertukar informasi ketika berada di ruang tunggu. Peserta mengaku tidak memiliki gambaran pertanyaan yang akan diajukan, kecuali pertanyaan seputar Tanoto Foundation.

“Untuk persiapan saya cari-cari di Google, blog-blog peserta wawancara beasiswa NCS tahun-tahun yang lalu. Banyak yang ditanya soal Tanoto Foundation, Royal Golden Eagle (RGE), PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), dan lain-lain. Pokoknya tentang pihak mereka. Kalau ditanya begitu, mana bisa mengarang, makanya harus dihapal,” kata Aisyah.

National Champion Scholarship (NCS) dari Tanoto Foundation adalah program beasiswa yang dianggap bergengsi oleh mahasiswa Indonesia. Selain menawarkan biaya kuliah dan biaya hidup, penerima beasiswa juga akan diberikan pelatihan kepemimpinan, gathering, dan acara-acara lainnya. Jumlah uang yang ditawarkan NCS adalah Rp 5.000.000 per semester untuk biaya kuliah, dan Rp 600.000 per bulan untuk biaya hidup. Dibandingkan beasiswa lain, jumlah ini sangat besar.

Ada banyak lembaga atau yayasan yang menawarkan beasiswa bagi mahasiswa UGM. Contohnya beasiswa PPA, beasiswa Djarum, NCS oleh Tanoto Foundation, dan KSE. NCS adalah salah satu yang populer, karena berada di level nasional dan hanya tersedia untuk 8 universitas saja di Indonesia. Jumlah penerima pun dibatasi untuk 200 orang saja.

“Untuk mendapatkan beasiswa ini memang perlu usaha yang berkelanjutan dan persaingan yang ketat. Kami menggunakan sistem gugur, jadi dari tahap ke tahap jumlah peserta akan terus berkurang. Seperti Pada tes psikotes yang lalu jumlah peserta mencapai 139 orang, tapi kami saring lagi hingga tinggal 63 orang. Pokoknya yang memenuhi syarat diluluskan, yang tidak digugurkan,” kata Tonny V. Hasibuan selaku Head of Scholarship Program dari Tanoto Foundation.

Tonny, yang juga merupakan salah satu pewawancara, mengungkapkan bahwa tes wawancara tidak dilakukan serentak di 8 universitas. Tim dari Tanoto Foundation mengunjungi satu per satu universitas yang menjadi mitra tersebut sesuai waktu yang telah dijadwalkan. UGM sendiri menjadi univesitas ketiga yang dikunjungi setelah tes wawancara di Universitas Mulawarman pada 12 Mei dan Universitas Jambi pada 18 dan 19 Mei. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan di ITB pada 25 dana 26 Mei.

Untuk pengumuman peserta yang berhasil lulus tes wawancara dan berhak mendapatkan beasiswa, dijadwalkan akan dilampirkan pada situs resmi Tanoto Foundation pada akhir Juni atau awal Juli nanti. Tonny menjelaskan bahwa tidak ada batas atau jatah untuk tiap universitas. Siapa saja yang berada pada urutan 200 teratas, berhak memperoleh beasiswa.

“Tidak ada kuota untuk masing-masing universitas. Kalau 200 peserta dengan nilai teratas berasal dari UGM, maka 200 orang itu akan diambil semua. Demikian juga bila hanya 1 yang menduduki peringkat 200 besar dari UGM, maka hanya 1 orang itu saja yang mendapat beasiswa,” kata Tonny.

loading...

About the author

Ayu Octasihu F. Simangunsong

Ayu Octasihu F. Simangunsong

13/345398/SP/25558