ALL

Andong Malioboro, Menunggu Dijadikan Kendaraan Wisata

Salah satu andong di kawasan Malioboro. Gambar oleh Catharina Kania
Salah satu andong di kawasan Malioboro. Gambar oleh Catharina Kania
alya
Written by alya

Ketika keramaian liburan menjadi musuh banyak warga Yogyakarta, musim liburan adalah berkah kehidupan bagi para kusir andong. Mereka bisa narik hingga lima kali sehari, menutup hari-hari sepi saat tidak ada penumpang sama sekali. Mereka pun berharap andong dijadikan kendaraan wisata sehingga tarifnya tidak dinilai berdasarkan jarak, tapi pengalaman.

Marjiono (58) sudah menekuni pekerjaan sebagai kusir andong sejak tahun 1999, setelah sebelumnya sempat merantau ke Jakarta sebagai supir. Menjadi ketua Paguyuban Andong Malioboro sejak 2008, Marjiono mengaku bahwa bisnis andong jauh lebih menjanjikan di masa lalu saat andong tak berjumlah sebanyak ini. Juga sebelum ada macam-macam kendaraan, seperti bentor dan bus Transjogja.

Andong yang khusus beroperasi di daerah Malioboro sendiri sudah sesak dengan 365 anggota. Paguyuban Andong Malioboro tak mengizinkan ada andong lagi yang masuk ke wilayah mereka. “Untuk sekarang sudah tidak bisa ditambah lagi, sudah terlalu banyak anggotanya,” kata Marjiono, koordinator Paguyuban Andong Malioboro, yang ditemui di kediamannya di daerah Potorono, Banguntapan, Senin (1/6) lalu.

Paguyuban Andong Malioboro sendiri terdiri dari empat belas paguyuban regional, antara lain Kotagede 1, Kotagede 2, Gamping, Bantul, dan Pleret. Mujiono sendiri mengaku bahwa Malioboro sudah sempit dan penuh dengan segala aktivitas. Maka dari itu, tak ada andong baru lagi yang diizinkan untuk masuk ke kawasan Malioboro.

Sebagai Koordinator Paguyuban Andong Malioboro, Marjiono atau akrab dipanggil Jiono bertanggung jawab atas seluruh anggota kusir andong yang beroperasi di kawasan Malioboro. Tanggung jawab Jiono meliput Jalan Abu Bakar Ali hingga ke titik Kilometer Nol. Meskipun demikian, jika terjadi masalah di luar wilayahnya yang disebabkan oleh anggotanya, ia tetap harus bertanggung jawab. “Misalnya ada kecelakaan, kami  tanggung jawab. Walaupun di Alun-Alun, Tamansari, pasar, semuanya masuk ke saya.”

Bicara mengenai tarif, kawasan Malioboro memiliki tarif tersendiri yang sudah disepakati bersama. Tarif normal pada hari biasa enam puluh ribu rupiah, berlaku untuk satu kali keliling Malioboro, Kraton, kembali lagi ke Malioboro. Berbeda dengan tarif pada saat liburan, harga bisa naik dua sampai tiga kali lipat, sekitar seratus lima puluh hingga dua ratus ribu. Angka ini pun hanya diterapkan pada wisatawan lokal, sementara turis asing biasanya diberikan harga hingga tiga ratus ribu.

Pada hari biasa, satu kusir andong tidak biasa mendapatkan banyak penumpang. “Kadang kalau hari biasa, nggak narik juga biasa,” kata Jiono. Hal ini senada dengan Yudi, seorang kusir andong di Malioboro. “Kalau hari biasa bisa narik, bisa tidak,” katanya saat ditemui di Malioboro, Rabu, (27/5) lalu.

Namun di hari-hari ramai wisatawan, misal di masa libur sekolah atau di waktu libur lebaran, kusir andong biasa panen penumpang. “Rata-rata kalau pas ramai bisa bawa pulang lima ratus hingga enam ratus ribu, bisa sampai lima kali tarikan,” kata Yudi, kusir andong Malioboro, yang aslinya tergabung dalam Paguyuban Andong Gamping ini.

Angka itu sebenarnya tak jauh dengan biaya yang dikeluarkan untuk merawat kuda-kuda mereka. “Satu kuda sehari cuma tiga puluh ribu,” kata Jiono. Jika dihitung pertahun, jumlah pengeluaran tak jauh berbeda dari pemasukan yang notabene hanya panen pada saat liburan. Ia sendiri biasa memberi makan kudanya dengan cincangan daun kacang dicampur dedak. “Kalau mandi ya pakai Rinso saja, atau sabun biasa juga tidak apa-apa. Tidak pernah beli sampo khusus kuda,” katanya.

Namun, andong tidak hanya mengandalkan pelanggan dalam operasional. Andong juga memasang tarif untuk sponsor yang mau beriklan pada andong mereka. “Ini, SoftCare kontrak untuk satu tahun, satu juta. Kemarin Telkomsel,” katanya. Iklan-iklan itu biasanya ditempelkan di bagian belakang andong. Angka yang ia sebutkan pun berlaku hanya untuk satu andong. Tarifnya sendiri tidak pasti, tergantung hasil negosiasi dengan pihak pengiklan. Belum lama ini juga mereka mendapatkan ‘bantuan’ dari PLN berupa pakaian sorjan dan celana serta blangkon sebanyak tiga pasang, juga kursus bahasa Inggris dasar.

loading...

Sayangnya, pemerintah sendiri tidak memberikan bantuan pada andong-andong di Yogyakarta. Anggaran yang dialokasikan sebatas biaya pegecatan ulang per tahun yang dikucurkan hanya untuk seratus lima puluh ‘andong wisata’. Andong wisata merupakan beberapa andong pilihan yang terdaftar di Dinas Pariwisata. “Pernah ada baju dari Dinas Pariwisata,” kata Jiono. “Tapi sudah lama sekali, tahun 2010. Mungkin pikirnya karena kita sudah banyak yang iklan,” katanya lagi.

Menyoal persaingan dengan kendaraan wisata lainnya, becak, Jiono mengaku kecewa atas persaingan yang dirasa tidak cukup sehat. Becak sendiri telah menyepakati harga standar sejumlah dua puluh lima ribu hingga lima puluh ribu sekali narik, berdasarkan rapat awal dengan Satpol PP.

Namun nyatanya, Jiono mengatakan bahwa tarif becak amburadul. Sopir becak hanya mematok harga lima hingga sepuluh ribu rupiah, namun secara sengaja mengantarkan penumpangnya ke tempat-tempat pedagang oleh-oleh yang telah disepakati, demi sepeser komisi. “Kami semua  maunya  walaupun cari komisi, tapi jangan sampai tarif itu diubah-ubah,” kata Jiono. Menurutnya, hal ini merusak harga pasar, dan berimbas juga pada andong. “Mereka merusak tarifnya, jadi merusak yang lainnya juga,” katanya.

Kecurangan juga tak hanya sebatas harga. Komisi diberikan oleh toko hanya jika penumpang yang mereka bawa berbelanja dari toko mereka. “Kalau penumpangnya nggak belanja, ya, ditinggal sama tukang becaknya,” katanya lagi. Ia mengaku, takutnya hal ini membuat penumpang tidak percaya lagi pada kendaraan wisata di Malioboro.

Jiono juga mengaku kurang senang dengan keberadaan becak motor (bentor). “Kalau mau becak biasa, harusnya dikayuh sama orang, nggak pakai mesin,” katanya. Menurutnya, ketidaksesuaian ini kemudian menjadi masalah, karena menurunkan jumlah andong.

Ditanya mengenai posisi andong dalam konteks wisata, Jiono dengan yakin berkata bahwa andong merupakan kendaraan wisata, bukan moda transportasi biasa. “Ini catnya warna hijau dan kuning, sudah peraturan dari Kraton,” katanya. “Hijau itu, kalau kata ngarsa dalem, adalah warna Kraton.”

Sementara itu, menurut peneliti dari Pusat Kajian Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM, Lilik Wachid, andong bukanlah moda transportasi, melainkan kendaraan tradisional. Maka dari itu, Lilik sempat mengusulkan bahwa andong ditekankan kembali menjadi kendaraan pariwisata, di mana pelanggan membayar berdasarkan pengalaman, bukan berdasarkan jarak.

Terkait dengan masa depan, Lilik mengatakan bahwa andong bukan transportasi yang ideal di masa mendatang. Ia  mengiyakan ketidakadilan yang muncul antara tenaga mesin dan manusia.  “Contohnya, becak sekarang sudah bentor,” katanya. Baginya, andong dan becak kurang mengindahkan beberapa kaidah transportasi, salah satunya adalah dalam hal kesetaraan. “Becak dan andong itu kita membayar orang dan kuda berdasarkan kekuatan ototnya, tenaganya. Tarifnya pasti murah, tidak manusiawi, tidak hewani.”

Lilik juga sempat menyinggung sedikit mengenai kasus kuda yang melahirkan di tengah jalan beberapa bulan lalu. Tentang hal ini, Jiono mengatakan. “Itu tidak benar, kuda itu hanya jatuh. Dimuat di berita, melahirkan, padahal cuma jatuh di jalan, di titik Kilometer Nol,” kata Jiono. Menurutnya, kuda itu bahkan sampai sekarang belum melahirkan.

“Katanya orang Jogja nggak punya perikemanusiaan, kuda hamil dipaksa narik. Saya jelaskan, kalau kuda nggak narik di jalan, dia ngamuk di kandang,” katanya. Menurut Jiono, hingga usia kehamilan kuda sepuluh bulan, kuda masih bisa bekerja dan lebih senang diajak berlari-lari.

loading...

About the author

alya

alya

Alya Chandra Pinanditha Darulaksono
13/345997/SP/25606

Pejuang gelar sarjana.