ALL Media Media Cetak

Andy Agency, Agen Koran yang Tetap Bertahan di Era Digital

Bisnis agensi surat kabar Andy Agency tetap berjalan meskipun ada ancaman dari kehadiran media daring.
Bisnis agensi surat kabar Andy Agency tetap berjalan meskipun ada ancaman dari kehadiran media daring.

Pada 1983, keluarga Andy mendirikan sebuah agen surat kabar karena melihat potensi dan tingginya permintaan masyarakat terhadap media cetak.  Puncak kejayaan bisnisnya terjadi pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.  Namun ketika media daring semakin dipilih oleh masyarakat, bisnisnya pun mulai menurun.

Kantor Andy Agency yang beralamat di Jl. Teratai 5/183 Perum Condong Catur beroperasi pukul 3 hingga 6 pagi. Siang hari digunakan sebagai tempat laundry.

Kantor Andy Agency yang beralamat di Jl. Teratai 5/183 Perum Condong Catur beroperasi pukul 3 hingga 6 pagi. Siang hari digunakan sebagai tempat bisnis laundry. Doc: Andy Agency

Andy Agency adalah sebuah agen surat kabar yang didirikan pada 1983 oleh orangtua Andy Rakhmat Santoso, yang kini memegang kendali penuh. Dasar didirikannya agensi yang bergerak di bidang usaha langganan surat kabar dan majalah ini adalah banyaknya masyarakat Yogyakarta yang membutuhkan informasi dari surat kabar. Kebutuhan masyarakat akan informasi ini berkembang dari hari ke hari.

“Karena berlangganan, sifatnya jadi terikat. Setiap hari ada pasti ada yang terjual, entah berita hari itu sedang menarik atau tidak. Jadi tidak perlu menunggui pembeli karena ada pelanggan yang sudah pasti,” kata Andy.

Namun setelah teknologi memperkenalkan kemudahan media daring kepada masyarakat, Andy tidak memungkiri adanya penurunan oplah langganan surat kabarnya. Menurutnya hal ini wajar karena media daring lebih efisien dan murah. Perangkat-perangkat teknologi yang dapat terkoneksi dengan internet sudah tersebar di seluruh kalangan masyarakat menjadi faktor pendukung popularitas media daring di tengah masyarakat.

“Masyarakat pasti cari yang lebih mudah, yang lebih murah. Media daring sangat mudah diakses dan hanya meminta biaya akses internet. Masuk akal bila masyarakat beralih ke media daring,” kata Andy.

Sebenarnya jumlah penjualan surat kabar Andy Agency terus meningkat dari tahun ke tahun. Tiga tahun belakangan pun masih tetap meningkat. Namun peningkatan ini tidak seperti lima tahun yang lalu, di mana peningkatan oplahnya tiap tahun tinggi. Ada penurunan peningkatan oplah sekitar 1-5 persen.

Menurut data Andy, surat kabar yang paling banyak diminati pelanggannya adalah Kompas dan Kedaulatan Rakyat. Namun untuk surat kabar Kompas , selama dua hingga tahun belakangan jumlah oplahnya menglami penurunan. Menurut Andy, hal ini disebabkan maraknya masyarakat yang memilih mencari berita di situs daring. Kompas termasuk salah satu media yang populer dan besar, pengelolaan terhadap produk-produk informasinya pun tergolong baik. Versi daring Kompas ditampilkan dalam desain yang menarik dan mudah dimengerti. Tidak heran bila masyarakat beralih ke versi daring.

loading...
Andy Rakh

Andy Rakhmat Santoso, pendiri sekaligus direjtur Andy Agency.

Rata-rata jumlah oplah surat kabar Andy Agency mencapai 2.500 eksemplar per harinya. Seluruh surat kabar tersebut merupakan pesanan dari pihak-pihak yang berlangganan. Jadi Andy Agency tidak lagi mendistribusikan surat kabar ke toko buku atau kios koran, melainkan mengantar langgsung ke rumah pelanggan setiap hari.

“Kalau diantar setiap hari ke depan pintu rumah, masyarakat tidak akan ketinggalan informasi. Harga yang kami tawarkan juga tidak mahal. Makanya banyak masyarakat yang berlangganan,” kata Andy.

Sementara itu, minat pelanggan terhadap surat kabar cetak juga sudah menurun karena kehadiran media daring, salah satunya ditunjukkan oleh Silvi (20).  Silvi mengaku bahwa keluarganya dulu sempat berlangganan surat kabar. Namun seiring perkembangan teknologi dan kesibukan keluarganya, minat membaca surat kabar cetak menjadi berkurang. Sejak dua tahun yang lalu keluarga mereka berhenti berlangganan surat kabar cetak dan mengandalkan media daring.

“Mau bagaimana lagi, sudah tidak sempat baca yang panjang-panjang. Kalau lagi santai, kami beli yang eceran di kios atau loper koran. Untuk berlangganan,rasanya sudah sulit,” kata Silvi.

Bagaimanapun, masih ada juga pelanggan yang setia dengan media cetak. Lilis (37) adalah salah satu contohnya. Meskipun sudah ada media daring, keluarganya masih suka membaca surat kabar. Ia sediri tidak setiap hari membaca surat kabar tersebut, namun setidaknya ada anggota keluarga lain yang akan membaca.

“Kalau tidak saya, suami yang baca. Sesekali anak-anak juga ikut baca. Orangtua saya juga masih suka baca. Jadi tetap berlangganan. Kalau lewat internet, paling hanya saya dan suami yang baca,” kata Lilis.

Menyadari tren beralihnya warga ke media daring, Andy mengaku santai. Penjualannya tetap meningkat dari tahun ke tahun meskipun peningkatannya tidak setinggi lima tahun yang lalu. Menurutnya, meskipun media daring mudah diakses dan dekat dengan masyarakat, minat membaca masyarakat Sleman masih besar. Mungkin tidak setiap hari dibaca sepenuhnya, tapi setidaknya pelanggan masih setia untuk berlangganan setiap hari.

Andy percaya untuk saat ini agensinya dapat bertahan dan tetap memperoleh keuntungan. Apalagi agensinya fokus ke instansi, sekolah, dan perumahan yang permintaan berlangganannya cenderung stabil.

“Saat ini masih aman, masih banyak yang menyukai surat kabar. Misalnya saja perusahaan atau hotel, mereka selalu menyediakan surat kabar terbaru untuk karyawan atau tamunya. Maka dari itu mereka akan tetap berlangganan,” kata Andy.

loading...

About the author

Ayu Octasihu F. Simangunsong

Ayu Octasihu F. Simangunsong

13/345398/SP/25558