ALL Media Radio

Bahasa yang Benar dalam Jurnalisme Radio

Retyan
Written by Retyan

Satu hal yang selalu dibanggakan RRI adalah penggunaan bahasa Indonesia yang benar dalam siarannya. Saat radio-radio swasta tidak lagi merasa penting menggunakan bahasa Indonesia yang baik, RRI tetap konsisten dengan pilihan itu. Hal ini, bersama jurnalisme yang baik dan berimbang, menjadi tujuan RRI untuk semakin baik melayani seluruh lapisan masyarakat.

Lulu Rahadi, penyiar senior RRI Yogyakarta, menjelaskan bahwa RRI adalah stasiun radio yang sangat memerhatikan produk jurnalismenya. Salah satu hal pokok dalam jurnalisme adalah penggunaan bahasa secara baik. Di sini, menurut Lulu, para penyiar dituntut bisa merangkai kata dan membawakan acara menggunakan bahasa Indonesia secara benar, bukan dengan bahasa gaul masa kini.

Kegiatan penyiaran yang dilakukan RRI Yogyakarta sehari-hari dipantau oleh Balai Bahasa Yogyakarta terkait dengan tepat-tidaknya penggunaan bahasa mereka. Atang Basuki, dari Bidang Pemberitaan RRI Yogyakarta, mengatakan pegawainya berupaya keras untuk menggunakan bahasa Indonesia yang tepat, netral, dan berimbang.

Gabriella Rosita Dei, seorang pendengar setia radio, menganggap bahwa langkah RRI Yogyakarta dalam pemilihan kata ini begitu penting karena dapat menjadi kontrol di masyarakat. “Idealnya, memang media bersifat netral dan tidak memihak, karena media merupakan salah satu alat kontrol dalam masyarakat. Jadi, memang seharusnya banyak konten seperti itu,” ungkapnya.

Terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia yang benar dalam siaran, Gabriella mengatakan, “Radio yang memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia dalam berbicara itu bagus, soalnya secara tidak langsung mengajari kita bagaimana cara berbahasa yang baik. Lagipula sudah jarang sekarang acara-acara yang menggunakan bahasa formal. Sehingga, anak muda sekarang bila dituntut untuk berbahasa formal, menyesuaikan waktu dan tempat, terkadang kurang tepat penggunaannya.”

Gambaran kesibukan tim redaksi pemberitaan di RRI Yogyakarta oleh Retyan Suci A.

Bidang Pemberitaan di RRI Yogyakarta Tersusun dari Tiga Seksi: Liputan Berita & Dokumentasi, Olah Raga, dan Pengembangan Berita (Retyan Suci)

RRI Yogyakarta Memiliki Total 25 Penyiar Radio yang Bekerja Kurang Lebih Lima Jam Perhari

RRI Yogyakarta Memiliki Dua Puluh Lima Penyiar Radio yang Bekerja Kurang Lebih Lima Jam Per Hari (Retyan Suci A.)

 

Rekrutmen dan Diklat

Untuk menuju siaran yang baik, SDM yang berkualitas adalah keharusan. RRI pun selalu berupaya mengumpulkan dan melatih talenta-talenta terbaik yang dimiliki generasi muda Indonesia.

Adi Suyanto, Kepala Bidang Sumber Daya Manusia RRI Yogyakarta, menyatakan bahwa di RRI terdapat dua jenis pegawai. Pertama, Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan yang kedua Pegawai Bukan Pegawai Negeri Sipil (PBPNS). Status PNS ini diperoleh mereka yang dulu direkrut RRI sebelum masa reformasi ketika RRI masih memiliki Pejabat Pembina Kepegawaian.

Setelah reformasi, RRI tidak lagi memiliki Pejabat Pembina Kepegawaian. Sehingga, seluruh pegawai yang direkrut setelah masa reformasi berstatus PBPNS.

Perekrutan PBPNS diawali dengan pengajuan permohonan kekurangan SDM oleh RRI cabang kepada RRI pusat. Selanjutnya, RRI pusat akan memprosesnya dan mengadakan tes SDM. Orang-orang yang berhasil dalam tes kemudian akan direkrut menjadi PBPNS dan digaji dengan sistem kontrak.

Biasanya tes PBPNS dilaksanakan per-rayon. Jika ingin mencari Sumber Daya Manusia untuk RRI cabang Yogyakarta, maka diadakan tes PBPNS wilayah Barat. Wilayah Barat sendiri mencakup Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pengadaan tes mengambil lokasi di salah satu kota yang terletak di wilayah bersangkutan.

Selain melalui tes, para peminat dapat mengikuti proses magang terlebih dahulu. Orang-orang yang telah magang di RRI dan terlihat berkompeten, biasanya akan diajukan oleh masing-masing bidang untuk selanjutnya dijadikan pegawai tetap. Salah satu jebolan magang di RRI Yogyakarta yang berhasil dijadikan pegawai tetap (PBPNS) adalah Lulu Rahadi. Lulu menyatakan bahwa dirinya magang pada 2004 dan ditawari untuk bekerja di RRI Yogyakarta sebagai penyiar pada 2005. Lulu kini tengah menempuh tahun ke sepuluhnya menggeluti dunia penyiaran.

Setiap tahunnya, RRI pusat mengadakan pelatihan atau diklat untuk para pegawai RRI cabang, tidak terkecuali RRI cabang Yogyakarta. Mulai dari diklat untuk para penyiar, diklat kesekretariatan, diklat teknik, dan lainnya. Untuk setiap diklat, RRI cabang mengirimkan paling tidak dua orang di bidang yang bersangkutan. Menurut Lulu, diklat yang ada membuat para pegawai semakin mengenal nilai-nilai RRI dan keahlian yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

 

 

 

 

About the author

Retyan

Retyan

Retyan Suci A.
13/349587/SP/25818