ALL Transportasi Publik

Bandara Yogyakarta Mendesak untuk Dipindah

DSC_0233 (Copy)
Nanda
Written by Nanda

Melihat kondisi terakhir, Bandara Adisutjipto dinilai sudah tidak mampu lagi melayani kebutuhan Yogyakarta. Pelabuhan udara ini sudah kelebihan kapasitas dan  tidak bisa diperluas, sehingga pembangunan bandara baru menjadi keharusan.

Sebagai bandara satu-satunya di Provinsi DIY, Adisutjipto menjelma menjadi bandara tersibuk ketiga di Pulau Jawa, hanya kalah padat dibanding Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dan Bandara Juanda di Surabaya. Sibuknya Bandara Adisutjipto tentu dapat dipahami mengingat pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Provinsi DIY dan kabupaten-kabupaten di sekitar DIY.

Selain memikul beban sebagai bandara komersial, Adisutjipto juga berperan menjadi lapangan terbang militer dengan menyandang nama Pangkalan Udara Adisutjipto. Di dalam komplek Lanud Adisutjipto terdapat aset-aset Angkatan Udara seperti Sekolah Penerbangan (Sekbang) dan Skadron Pendidikan yang ikut meramaikan landasan pacu Bandara Adisutjipto.

Peran ganda tersebut membuat bandara seluas 88.000 m2  ini kelebihan kapasitas. Kemacetan di depan bandara dan padatnya terminal penumpang menjadi bukti visual kelebihan kapasitas tersebut.

Kepala Seksi Teknik Bandara Dan Angkutan Udara Dinas Perhubungan Provinsi DIY, Didit Suranto, menyebutkan bahwa setiap harinya Adisutjipto melayani 124 penerbangan komersial dan 140 penerbangan militer. Akibatnya, pada 2013, Bandara Adisutjipto harus melayani 5,7 juta penumpang, jauh di atas kapasitas ideal sebesar 1,2 juta penumpang per tahun.

Untuk menanggulanginya, pihak otoritas bandara telah melakukan berbagai cara. Di antaranya adalah menambah taxiway dan memperluas apron kearah barat. Namun perluasan tersebut masih kurang optimal karena terbentur masalah lahan karena di sebelah barat bandara ada bangunan dan apron milik Pangkalan Udara Adisutjipto.

Didit menambahkan bahwa perluasan landasan pacu juga tidak bisa dilaksanakan karena terbentur ketersediaan lahan. Padahal menurutnya panjang landasan pacu sangat berpengaruh terhadap kenyamanan penumpang.

“Kami tidak bisa melakukan perluasan karena di sebelah barat ada jalan layang Janti dan di sebelah timur ada bukit yang memiliki nilai budaya yang tak ternilai,” ujarnya.

loading...

 

Permasalahan ini membuat penerbangan semakin menumpuk dan padat. Ines, mahasiswa asal Jakarta, mengaku kurang nyaman dengan kondisi bandara. Menurutnya, kepadatan terminal penumpang membuatnya kesulitan mencari tempat duduk di ruang tunggu.

“Saya merasa terganggu juga dengan adanya keterlambatan pesawat. Karena terlambat, ayah saya yang seharusnya menjemput di Soekarno Hatta jam 15:30 jadi harus menunggu lebih lama. Selain itu, saya juga capek menunggunya,” ujarnya.

Lucky, pemerhati penerbangan yang juga merupakan warga asli Yogyakarta, mengatakan bahwa dahulu pihak Angkatan Udara pernah didemo oleh mahasiswa karena pesawat latih yang terlalu bising dan mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Menurutnya, kalau penerbangan sudah terlalu ramai, sebaiknya bandara komersial harus dipindah.

“Dulu saat Hawk Mk.53 masih ditempatkan di Pangkalan Udara Adisutjipto, mahasiswa demo Angkatan Udara, menurut mereka pesawatnya bising, akhirnya Angkatan Udara mengalah dan skadronnya dipindah ke Madiun” ujarnya.

Didit menambahkan bahwa Bandara Adisutjipto rencananya akan dipindah, dan setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya lokasi yang dipilih adalah di Kulon Progo. Menurutnya, proses pembangunan bandara sudah melewati tahap konsultasi publik dengan warga setempat. Pada 31 Maret 2015 kemarin, Izin Penetapan Lahan (IPL) sudah turun menurut keputusan gubernur Nomor 65/KIP/2015.

“Saya pribadi bersyukur karena bandara tidak jadi dipindah ke Pangkalan Udara Gading di Gunungkidul, karena di sana crosswindnya sangat kuat dan akan berpengaruh ke kenyamanan dan keamanan penerbangan,” kata Lucky.

https://www.timetoast.com/timelines/proses-pembangunan-bandara-kulon-progo

loading...

About the author

Nanda

Nanda