ALL Transportasi Publik

Becak Biasa vs Becak Wisata: Tarif yang Berbeda

Saat ini jumlah becak wisata lebih banyak daripada becak biasa, dan ini menimbulkan kerancuan tarif karena tarif becak wisata lebih mahal daripada becak biasa. Jika harga khusus wisatawan ikut diterapkan pada penumpang biasa, misalnya pedagang atau warga sekitar, terjadilah ketidakpastian tarif standar.

Dunia pariwisata Jogja sudah lama mengenal dua jenis becak, yaitu becak biasa dan becak wisata. Mulanya becak wisata hanya terkenal di  dua kampung turis Prawirotaman dan Sosrowijayan dengan mayoritas penumpang adalah wisatawan mancanegara. Namun, kini becak wisata bisa ditemukan di hotel-hotel di seluruh kota, dengan nama hotel tertera di sisi kanan-kiri becak.

(07/03) Harry Van Yogya, "Hari ini belum dapat penumpang. Lagi bukan ramai-ramainya."

Seorang pengayuh becak wisata Prawirotaman, Harry Van Yogya, menceritakan kronologi becak wisata milik hotel, “Becak yang di depan hotel itu dulunya hanya melayani wisatawan, dan semuanya wisatawan asing. Seiring berkembangnya zaman, banyak hotel bermunculan, dan kini penumpangnya juga wisatawan domestik.” Dengan semakin meratanya jumlah hotel di Yogyakarta saat ini, becak wisata pun semakin luas persebarannya.

Peningkatan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara mengubah pikiran beberapa pengayuh becak biasa untuk beralih dan ikut mengajukan proposal ke manajemen hotel. Setelah disetujui, becak akan segera dipasangi logo hotel sedangkan pemiliknya juga diberi seragam dan beberapa fasilitas lain secara berkala misalnya ketika libur hari raya. Selain itu, alih fungsi becak biasa menjadi komoditas wisata hotel juga ditunjang oleh kerja sama dengan beberapa tempat wisata dan sentra buah tangan.

Untuk keseharian, para pengayuh becak wisata memang tidak dikenai pungutan tambahan seperti untuk tempat transitnya. Becak wisata diposisikan sebagai sarana untuk melakukan promosi wisata hotel sekaligus menunjukkan ciri khas Yogyakarta. Peyek, pengayuh becak wisata Hotel Horison, mengungkapkan bahwa tidak ada kontrak waktu dari manajemen hotel, terserah selama hotel masih berdiri. Namun, pihak hotel tidak ikut menanggung biaya perawatan dan perbaikan apabila ada becaknya yang rusak. “Kalau rusak ditanggung sendiri. Tapi kalau memperbarui cat bisa,” kata Peyek.

Peyek sebelumnya menjadi pengayuh becak biasa  di Malioboro, namun karena sistemnya yang carut-marut pada akhirnya becaknya pun sering beralih fungsi menjadi angkutan wisata. Selain itu, ketika masih di Malioboro, penghasilan yang diperoleh sering tidak sesuai harapan, tarif yang berlaku hanya sesuai kesepakatan. Setelah pembangunan Hotel Horison selesai satu setengah tahun yang lalu, dia memutuskan untuk beralih menjadi pengayuh becak wisata hotel hingga saat ini.

Papan tarif becak di depan hotel dengan nama-nama pengayuh becak yang diganti setiap hari sesuai kehadirannya (c) Foto oleh AEF

Papan tarif becak di depan hotel dengan nama-nama pengayuh becak yang diganti setiap hari sesuai kehadirannya (c) Foto oleh AEF

Secara ideal, untuk becak wisata tarif termurah adalah 15.000 rupiah dengan tujuan dekat, misalnya dari Jalan Mangkubumi ke Jalan Malioboro. Sedangkan untuk becak biasa, tarif standar berkisar di 7.500 hingga 10.000 rupiah per kilometer. Tarif tersebut masih dikeluhkan oleh beberapa penumpang sebagai mahal.

“Saya biasanya dari Mangkubumi ke Malioboro harus bayar 10.000 hingga 15.000. Ini sudah coba saya tawar, tapi tidak bisa. Harusnya kalau terjangkau ya di kisaran 5.000 rupiah,” kata Retno, penumpang becak biasa yang baru saja turun di Pasar Beringharjo.

Bagaimanapun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pengemudi becak wisata memiliki jaminan tarif yang lebih baik dibanding pengemudi becak biasa.  Hotel Horison dan @Hom, misalnya, memasang tarif tertulis jarak tempuh dari hotel ke beberapa objek wisata. Namun, karena becak wisata, tarif “wisata” itu bisa berlaku penuh saat musim liburan saja. Seluruh pengayuh becak jelas menginginkan tarif wisata, tapi ini seringkali bertentangan dengan kebutuhan penumpang biasa yang melihat becak semata alat transportasi, bukan sebagai bagian dari pariwisata Jogja.

About the author

Muhammad I. Anas (Aef)

Muhammad I. Anas (Aef)

Suka menulis dan menonton.
13/345981/SP/25595