ALL

Becak Emas Hotel Phoenix, Kerjasama Saling Menguntungkan

Cat Emas Pada Sisi Kanan Becak The Phoenix Hotel
almandhira
Written by almandhira

Tidak ada perjanjian sebelumnya antara para pengayuh becak dan pihak Hotel The Phoenix, tapi keduanya telah bekerjasama saling menguntungkan selama puluhan tahun. Program CSR dari Hotel Phoenix dengan tujuh belas pengayuh becak berwarna emas itu adalah bentuk relasi yang mendukung wisata budaya Yogya.

Suyadi, salah satu supir becak becak emas, mengaku bahwa memang sebelumnya tidak ada perjanjian mengenai pengelolaan becak oleh pihak hotel. “Pengelolanya itu organisasi becak. Sementara kami di Phoenix itu hanya numpang cari makan. Membantu untuk melayani tamu hotel,” ujarnya. Suyadi juga mengatakan bahwa awalnya organisasi becak yang mengajukan diri kepada pihak hotel dan kemudian akhirnya mendapatkan sponsor.

Dalam kerjasama ini, pihak hotel tidak ikut campur mengenai tarif becak. Para supir becak memiliki sistemnya sendiri agar pendapatannya bisa sama rata satu dengan lainnya. Mereka menggunakan urutan papan yang terdiri dari nama-nama supir becak.

Pihak hotel juga membantu perekonomian mereka dengan memberikan sponsor berupa cat, logo pada becak, dan seragam. Bahkan setiap tahunnya Suyadi mengatakan bahwa pihak hotel akan mengecat ulang becak mereka.

Keberadaan logo Hotel Phoenix pada becak mereka bukan hanya sebagai penanda saja, namun juga untuk menarik para wisatawan dan memberitahukan bahwa ini bukan becak sembarangan, sehingga mereka akan lebih percaya dan nyaman. “Mungkin saja waktu menngantar pulang-pergi tamunya menjadi tidak takut. ‘Tadi saya naik becak Phoenix nomor sekian, gitu,’” kata Sumono, pengayuh becak  yang mangkal di Hotel Phoenix.

Hotel Phoenix merupakan nyawa bagi para supir becak itu. Pemasukan mereka bergantung pada banyaknya wisatawan yang menginap di sana. Suyadi mengatakan bahwa pada bulan Juni hingga Agustus adalah waktu para wisatawan ramai berdatangan sehingga mereka dapat menarik becak lebih dari dua kali sehari.

Sementara itu, peraturan pemerintah mengenai larangan untuk rapat di hotel memberikan dampak yang kurang baik bagi para tukang becak ini. “Selama ini sepi sekali, karena ada peraturan tidak boleh rapat di hotel. Saya kemarin dua hari sekali narik, padahal biasanya bisa tiga sampai empat kali sehari,” ujar Sumono.

Setiap perusahaan, termasuk hotel pasti memiliki corporate social responsibility (CSR) sebagai tanggung jawab sosial mereka terhadap masyarakat sekitar. “CSR menurut saya adalah kewajiban, tanggung jawab setiap perusahaan. Dua persen dari keseluruhan keuntungan adalah milik warga sekitar yang membutuhkan,” ujar Awang, staf humas di sebuah hotel.

Begitu juga yang dikatakan oleh Herni, staf di Tourism Center Dinas Pariwisata, bahwa setiap hotel dalam membangun hubungannya dengan masyarakat bukan cuma dengan memperkerjakan mereka di hotel itu, namun lebih kepada CSR, apa yang akan mereka lakukan di daerah sekitarnya.

 

 

About the author

almandhira

almandhira