ALL Media Cetak

Bisnis Kios Majalah dan Koran Berada di Ujung Tanduk

1913
abiyoganantya
Written by abiyoganantya
1913

Sigit mengaku majalah National Geographic menjadi salah satu favorit mahasiswa, walaupun sebulannya hanya terjual lima eksemplar.

Sigit, pemilik salah satu kios majalah dan jajanan di Kantin FIB UGM, tampak sibuk melayani banyaknya pembeli pada Selasa (31/3). Mereka bukan berdesakan untuk membeli majalah yang tergantung di etalase, namun untuk membeli makanan dan minuman. Mereka juga terlihat tidak peduli pada beragam edisi majalah beraneka ragam yang ditawarkan di sana.

Sigit mengaku dirinya sudah berjualan majalah dan koran di Bonbin sejak 2009. Awalnya, dia melihat peluang bisnis yang menjanjikan saat memutuskan untuk menjual majalah dan koran. “Di sini kan juga banyak mahasiswa, jadi kalau mau jualan majalah dan koran tempatnya strategis,” ujar Sigit.

Namun, menurut Sigit, sejak naiknya popularitas ponsel pintar dua tahun terakhir ini, usaha yang dijalaninya mulai surut karena banyak pelanggannya yang lebih memilih mengakses informasi di internet. Kiosnya pun saat ini penuh dengan berbagai majalah yang tidak laku.

Untuk mengurangi kerugian, Sigit sering  membanting harga majalahnya supaya banyak mahasiswa yang tertarik membelinya. “Kalau yang tidak laku, majalah National Geographic yang biasanya dijual Rp 50.00,00 menjadi Rp 25.000,00. Kalau yang sudah lama tidak laku, bisa Rp 10.000,00 dapat tiga,” kata Sigit.

Sigit menambahkan, jika kondisi sepinya pelanggan majalah dan koran terus berlanjut, bukan tidak mungkin dirinya akan untuk menutup kiosnya. Hal ini disebabkan pendapatan dari penjualan majalah dan koran tidaklah seberapa.

“Mau bagaimana lagi, ini juga masih banyak majalah yang belum terjual, malah ada majalah edisi tahun lalu. Majalah-majalah tersebut juga sudah tidak bisa diretur,” tutur Sigit.

Hal ini membuat salah satu pembeli majalah di kios Sigit, Fiki, turut prihatin akan kondisi tersebut. Fiki berpendapat bahwa kemudahan mengakses internet saat ini membawa dampak negatif bagi kios majalah dan koran yang berada di Bonbin. “Sepertinya sudah mulai ikut tergerus oleh internet. Buktinya mereka masih banyak menjual majalah edisi lama. Jadi tampak bahwa penjualan majalah di tempat itu mulai kurang laku,” kata Fiki.

loading...

Nasib kios yang dikelola Sigit serupa dengan milik Asyril di daerah Lempuyangan. Asyril yang berjualan sejak 2005 itu mengaku saat ini pendapatannya dari majalah dan koran menurun padahal ia masih harus menafkahi dan menyekolahkan anaknya.  Situasi tersebut memaksa dirinya berjualan bensin di samping kiosnya untuk menambah pendapatan.

“Saya tidak bisa bergantung pada koran saja karena sekarang juga sudah mulai sepi. Jadinya terpaksa berjualan bensin,” ujar Asyril.

Hal serupa juga dialami oleh kios yang dijaga Sudar di depan Rumah Sakit Panti Rapih. Sudar mengungkapkan bahwa penjualannya semakin menurun karena kalah bersaing dengan surat kabar online. Sudar menjelaskan bahwa dulu kiosnya mampu menampung hingga 20 koran, namun sekarang ini hanya 10 koran saja. Semua koran itu pun terkadang juga tidak laku semua. “Setelah pukul 12:00, kalau masih ada koran yang belum terjual, bisa dipastikan sudah tidak laku lagi. Padahal setiap harinya kami hanya mengambil 10 koran saja” kata Sudar.

Minimnya pendapatan memaksa Sudar berjualan pulsa di kiosnya. Sudar menjelaskan bahwa kiosnya tidak bisa bertahan jika tidak ditunjang dari pendapatan pulsa. “Pendapatan koran kan tidak seberapa. Mau tidak mau harus berjualan pulsa untuk tambah-tambah,” kata Sudar.

Mulai ditinggalkannya kios koran dan majalah oleh para pelanggannya ternyata tidak menggoyahkan strategi Warning Magazine—majalah yang bergerak di bidang musik–untuk tetap mendistribusikan prouduknya ke kios koran dan majalah. Hal ini diungkapkan oleh salah satu penulis di Warning, Yudha, yang masih tetap menjadikan kios koran dan majalah sebagai salah satu ujung tombak distribusi.

“Kami tidak menyebarkan majalah di semua kios pinggir jalan. Kami memilih kios yang strategis, di sekitar kampus atau kos-kosan, sesuai dengan target pasar kami. Sejauh ini cukup efektif karena kios yang kami pilih menjadi salah satu kios yang sering dikunjungi,” ujar Yudha.

Seiring berjalannya waktu, Yudha menyadari bahwa eksistensi kios koran dan majalah tidak bisa selamanya bertahan sebagai salah satu saluran distribusi Warning. Maka dari itu, Warning yang merupakan Grup Media, mulai merintis bidang lain, termasuk radio dan televisi. “Perlu diakui, kehadiran majalah online membuat perkembangan majalah cetak menjadi stagnan, tidak lagi seluas di masa jayanya. Budaya cepat menuntut orang untuk selalu cepat, termasuk dalam menerima informasi.”

 

loading...

About the author

abiyoganantya

abiyoganantya