ALL Media Cetak

Bisnis Media Cetak (Belum) akan Mati

Mayoritas pembaca Kedaulatan Rakyat adalah pelanggan lama yang loyal, inilah penyebab mengapa oplah Kedaulatan Rakyat tetap stabil hingga saat ini.
Mayoritas pembaca Kedaulatan Rakyat adalah pelanggan lama yang loyal, inilah penyebab mengapa oplah Kedaulatan Rakyat tetap stabil hingga saat ini.

Di tengah gempuran perkembangan media daring yang semakin pesat, bisnis media cetak di Yogyakarta masih  berjalan penuh keyakinan. Setidaknya untuk saat ini.

Cuaca panas di perempatan Tugu Yogyakarta pada Rabu (11/3) terasa makin menyengat bagi Wahyu Hutapea. Selama lima jam berjualan, surat kabar dagangannya masih tersisa 42 dari 80 surat kabar yang ia pegang hari itu. Karena siang semakin panas dan belum ada tanda-tanda dagangannya akan terjual, ia kemudian melangkah ke salah satu sudut pertokoan yang teduh untuk beristirahat sejenak. Selagi beristirihat Wahyu mengeluhkan jumlah dagangannya beberapa waktu terakhir yang terus menurun. “Padahal total jualan saya sehari sudah dikurangi dari 100 menjadi 80,” katanya.

Penurunan oplah yang dialami Wahyu merupakan pengaruh nyata dari perkembangan media daring. Hal ini diamini oleh Subaidi Ishak, Deputi Penelitian dan Pengembangan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat. Menurutnya, di Yogyakarta, tren ini telah terjadi sejak dua hingga tiga tahun yang lalu. Akibat informasi di media daring yang gratis dan lebih mudah diperoleh, media cetak pun mulai ditinggalkan.

Meskipun oplah surat kabar menurun, dampaknya belum terlalu mengkhawatirkan. “Ada penurunan tiras, tetapi tidak drastis,”  ungkap Subaidi. Untuk Kedaulatan Rakyat, penurunan oplah yang terjual tidak secara otomatis berpengaruh pada jumlah pemasukan dari iklan.

 

Mayoritas pembaca Kedaulatan Rakyat adalah pelanggan lama yang loyal, inilah penyebab mengapa oplah Kedaulatan Rakyat tetap stabil hingga saat ini.

Mayoritas pembaca Kedaulatan Rakyat adalah pelanggan lama yang loyal, inilah penyebab mengapa oplah Kedaulatan Rakyat tetap stabil hingga saat ini.

 

Salah satu hal utama yang menjadi daya tarik bagi pengiklan adalah citra dari surat kabar itu sendiri. Contohnya tingkat penjualan Kedaulatan Rakyat dan salah satu surat kabar lokal lain hampir sama, tetapi pengiklan tetap memilih kami meskipun harganya lebih mahal,” kata Subaidi. Ia meyakini bahwa hal ini terjadi karena pengiklan tertarik pada citra Kedaulatan Rakyat sebagai surat besar di Jogja.

loading...

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Anditya Heru Permana, seorang pengusaha angkringan. Lelaki ini baru saja memasang iklan lowongan pekerjaan untuk karyawan angkringan di Kedaulatan Rakyat. Citra surat kabar tersebut memegang peranan penting dalam keputusannya memilih tempat beriklan. ”Saya milih pasang iklan di Kedaulatan Rakyat karena Kedaulatan Rakyat merupakan surat kabar besar dan banyak pembacanya,” jelas Anditya.

Ketika media cetak masih menjadi salah satu pilihan utama bagi pengiklan, hal tersebut mulai tidak berlaku bagi pembaca. Media daring mulai banyak dipilih pembaca sebagai tempat utama mendapatkan informasi, seperti diungkapkan Nur Muhammad Mahfudh, pembaca setia media daring. “Media daring itu lebih murah, lebih praktis karena bisa dibuka di gawai. Beritanya lebih cepat dan aktual dibanding media cetak,” kata mahasiswa Universitas Gadjah Mada ini.

 

Pasokan iklan di media daring sangat bergantung pada rating sebuah situs. Jika ratingnya makin tinggi, maka, iklan yang datang semakin banyak.

Pasokan iklan di media daring sangat bergantung pada rating sebuah situs. Jika ratingnya makin tinggi, iklan yang datang semakin banyak.

 

Kelebihan-kelebihan media daring tersebut, menurut Subaidi, harus diantisipasi oleh pengusaha media cetak. Mengantisipasi perkembangan media daring yang begitu pesat, Kedaulatan Rakyat telah menyediakan surat kabar versi elektronik atau e-paper. Perusahaan surat kabar ini juga telah membuat situs berita daring Kedaulatan Rakyat. Beberapa surat kabar lokal lain seperti Tribun Jogja, Bernas Jogja, dan Radar Jogja juga membuat kanal berita daring. Hal ini tentunya dilakukan untuk memastikan bahwa bisnis perusahaan media tetap eksis di masa depan ketika media daring akan berjaya. “Saya percaya suatu saat media cetak pasti akan mati,” tutup Subaidi.

loading...

About the author

Farras Muhammad

Farras Muhammad