ALL Seni Tradisional

Dusun Turen, Oasis Seni Jathilan

Fuad Rahardyan
Written by Fuad Rahardyan

Di tengah modernisasi Yogyakarta yang meminggirkan seni tradisional, Jathilan masih menemukan suaka untuk hidup di Dusun Turen, Ngaglik, Sleman. Dusun yang terletak di sebelah barat Jalan Kaliurang Km 12 ini masih memiliki orang yang menggerakkan paguyuban dan warga yang setia menontonnya.

Jalan sepi mengurus paguyuban Jathilan tetap dijalani oleh Yanto, ketua Paguyuban Jathilan Krido Manunggal, dan beberapa pengurus lain. Krido Manunggal telah berdiri sejak 2004 dan kini memiliki enam puluh anggota aktif.

Hari yang beranjak sore tidak menyurutkan minat warga Turen untuk menyaksikan penampilan Paguyuban Jathilan Krido Manunggal di acara Pentas Seni Kelurahan Sardonoharjo pada 18 April 2015. (Fuad Noor Rahardyan).

Hari yang beranjak sore tidak menyurutkan minat warga Turen untuk menyaksikan penampilan Paguyuban Jathilan Krido Manunggal di acara Pentas Seni Kelurahan Sardonoharjo pada 18 April 2015. (Fuad Noor Rahardyan).

Semangat yang tetap tinggi ini sebagian besar karena dukungan warga dusun, yang masih menggemari pertunjukan kuda lumping Yogyakarta itu. “Antusiasme warga sini besar dan ramai, kalau ada pentas Jathilan pasti penuh. Saat hujan cukup deras pun masih tetap ramai orang menonton,” kata Yanto.

Patrol, sebagai mantan pemain musik di Paguyuban Jathilan yang sama, masih setia membantu saat ada pentas. “Dulu angkatan awal-awal saya main gong sendirian, bisa sampai empat babak. Tapi, sementara saya melepaskan diri dulu, tidak bermain,” kata Patrol.

“Kalau ada yang bermain, saya ikut menonton. Biasanya saya juga njagani kalau ada (penari) yang ke luar arena saat pentas. Saat kesurupan kan tidak boleh sampai luar arena. Dulu sering kalau ada yang ndadi lari entah ke mana. Kalau sekarang sudah pada tertib,” kata Patrol.

Masuknya penari topeng (gedruk) ke dalam arena yang menandai dimulainya tahap ndadi, 18 April 2015. (Fuad Noor Rahardyan)

Masuknya penari topeng (gedruk) ke dalam arena yang menandai dimulainya tahap ndadi, 18 April 2015. (Fuad Noor Rahardyan)

Bayu, seorang warga Turen, turut serta mendukung pergerakan paguyuban Jathilan setempat. “Saya baru dua kali menonton paguyuban setempat bermain. Mainnya bagus, malah menurut saya kemampuan anak-anak di sini di atas rata-rata. Padahal latihan pun jarang, tapi berani langsung tampil dan (mereka) bisa mengatasi penonton kalau terlalu ramai. Warga juga antusias, semua mendukung. Saya pun ikut membayar iuran menjelang pentas, minimal sepuluh ribu rupiah,” kata Bayu.

“Kalau hobi nonton Jathilan sudah sejak kecil. Inginnya sih di sini juga ikut main di bagian musiknya, main gitar, tapi berhubung saya masih tergolong warga baru di sini, ya tidak enak. Sempat diajak (bergabung) juga waktu itu,” kata Bayu.

Menurut Bayu, Turen dapat dikatakan sebagai basis kesenian karena bermacam-macam jenis paguyuban kesenian yang aktif hingga saat ini. “Kesenian tradisional di sini bisa dikatakan komplit, dari mulai Jathilan, Karawitan, Wayang Kulit, Kethoprak, Campursari, sampai musik modern dan shalawatan pun ada. Untuk Jathilan sendiri, sekarang tidak aktif karena masih musim hujan. Setelah lebaran nanti ramai lagi,” kata Bayu.

Yanto menambahkan bahwa ada tradisi warga Turen dalam rangka melestarikan kesenian tradisional. “Saat Agustusan, warga kampung keluar semua untuk karnaval. Semua bentuk kesenian pun keluar. Pemain Jathilan pun ikut serta. Penari jaran berjalan di barisan depan dan diiringi alat-alat musik yang ditempatkan di mobil bak terbuka. Semua kesenian membaur, dari yang berkostum Jathilan sampai yang memakai baju muslim. Satu kecamatan (yang mengadakan karnaval) baru di Turen sini. Sekarang sudah ada yang mau mengikuti, tapi tidak seramai kami. Warga sini kompak,” kata Yanto.

Menurut Badhi, seorang warga Turen, kesediaan warga untuk membiayai diri masing-masing adalah salah satu faktor berjalannya karnaval tersebut. “Untuk total biaya mengadakan karnaval ini pasti lebih dari lima puluh juta rupiah. Bahkan, sebagian besar sampai menyewa kostum hanya untuk ikut meramaikan. Belum lagi masalah konsumsi. Warga secara sukarela membawa masing-masing,” kata Badhi.

“Karnaval warga bisa mencapai dua kilometer, dimulai dari jalan kampung menuju jalan raya Kaliurang, bergerak ke utara dan memutar lewat barat untuk kemudian kembali lagi ke kampung. Penonton dari luar pun ramai. Tahun kemarin sudah yang kesembilan kalinya diadakan. Camat dan Lurah bahkan ikut serta saat pawai, naik andong beserta istri dan anaknya dengan macak jowo,” kata Badhi.

About the author

Fuad Rahardyan

Fuad Rahardyan