ALL Hotel

Gedongtengen: Incaran Investor Hotel

Di Kota Yogyakarta, sektor pariwisata adalah penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Ini erat sekali dengan hotel, tempat pertama yang dicari wisatawan. Gedongtengen adalah kecamatan dengan jumlah hotel terbanyak, yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Apa untung-ruginya bagi Gedongtengen?

Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi DIY, terdapat 1.154 hotel pada 2012, yang meningkat menjadi 1.168 hotel pada 2013. Kota Yogyakarta tercatat sebagai daerah hotel terpadat dengan jumlah hotel 386 pada 2012, yang meningkat menjadi 401 pada 2013.

Incaran Investor

Dari 14 kecamatan di Kota Yogyakarta, Kecamatan Gedongtengen menjadi kawasan terpadat hotel, dengan jumlah 135, terdiri dari 9 hotel berbintang dan 126 hotel non bintang.

Kecamatan Gedongtengen memiliki dua kelurahan, yakni Pringgokusuman yang memiliki 14 hotel non bintang dan 34 asrama atau pondokan, sementara pada Kelurahan Sosromenduran, terdapat 9 hotel berbintang, 100 hotel non bintang, dan 29 asrama atau pondokan. Banyaknya bangunan hotel yang didirikan pada lahan yang kian terbatas ini menyebabkan rumah-rumah warga saling berhimpitan  rumah-rumah warga saling berhimpitan maupun berhimpitan dengan bangunan hotel.

Jalan tikus sebagai akses utama menuju perkampungan warga yang dipadati hotel.

Jalan kecil sebagai akses utama menuju perkampungan Gedongtengen yang padat hotel.

“Pembangunan hotel di kawasan Sosromenduran sendiri sudah dimulai dari sektar tahun 1990. Kawasan ini yang paling dekat aksesnya ke Malioboro. Di sini pun dikenal sebagai kampung internasional karena banyaknya wisatawan mancanegara yang berkunjung,” ungkap Edi, Ketua RT 03 Sosrowijayan.

Warga asli daerah Gedongtengen mayoritas bekerja di hotel sekitar, menjadi pemandu wisata maupun mendirikan losmen pribadi.

Mengenai perizinan pendirian hotel kepada penduduk asli, Edi mengaku bahwa sebelumnya selalu dilakukan sosialisasi dan koordinasi. Meskipun terkadang memang terjadi ketakutan warga akan adanya dampak buruk dari pembangunan dan operasionalisasi hotel, seperti ketersediaan air dan kebersihan lingkungan, menurut Edi belum pernah terjadi masalah besar terkait dampak buruk akibat pembangunan maupun operasionalisasi hotel.

Mengenai potensi terjadinya akulturasi budaya asing yang mencampuri budaya lokal, Edi mengakui bahwa adat dan kultur budaya setempat menyesuaikan dengan budaya asing yang dibawa wisatawan dalam maupun luar negeri. Namun demikian, beberapa hal tetap menjadi persoalan, seperti budaya berpakaian minim wisatawan yang seolah menjadi visualisasi yang lumrah bagi warga sekitar, termasuk bagi anak di bawah umur.

 

Pembangunan hotel baru masih berlangsung di Gedongtengen.

Pembangunan hotel baru masih berlangsung di Gedongtengen.

Dilema Gedongtengen

Mengamati hal ini, Dana Hasibuan dan AB. Widyanta, staf pengajar jurusan Sosiologi UGM menjelaskan, jika dilihat dari sudut pandang ilmu sosiologi, maka fenomena kepadatan hotel ini erat kaitannya dengan relasi sosial. Semakin banyak hotel di suatu daerah, maka perlu dipertanyakan bagaiamana hal itu berpengaruh terhadap kesejahteraan penduduk sekitar, yang diwujudkan dalam hal ekonomi, ketersediaan listrik dan air, dan akses masyarakat.

loading...

“Masalahnya ada pada social impact assessment. Yang harus ditelusuri adalah dampak lingkungan terhadap warga sekitar, seperti sumur misalnya. Yang kedua adalah akses masyarakat terhadap infrastruktur publik. Penting juga dikategorisasikan dampak-dampak sosial yang dikhawatirkan akan terjadi, seperti relasi sosial di antara warga pasti akan terganggu. Proses social capital mereka pasti akan terganggu,” kata AB. Widyanta.

Sementara itu, dikaji dari sudut pandang ilmu psikologi, Koentjoro, guru besar Fakultas Psikologi UGM menuturkan, terdapat dampak psikologis yang ditimbulkan dari banyaknya bangunan hotel, terutama bangunan hotel yang tinggi. Sama seperti dampak yang ditimbulkan dari banyaknya reklame yang dipasang di sudut-sudut jalan, bangunan hotel yang menjulang tinggi menimbulkan efek depresi.

“Banyaknya wisatawan yang datang seharusnya bisa diatur lebih jauh lagi untuk tidak hanya sebatas berkunjung ke obyek-obyek wisata, tetapi juga bisa belajar mengenai budaya Yogya. Ini tidak berlaku pada Yogyakarta saja, tetapi bagi seluruh Indonesia. Dengan banyaknya warisan sejarah kebudayaan Indonesia, wisatawan itu bisa didorong berkunjung ke Indonesia untuk berwisata budaya. Tepat jika di Indonesia ini memang digalakkan wisata budaya seperti itu,” katanya.

Dengan berjalannya pariwisata yang seperti sekarang ini, walaupun penduduk pribumi ikut dilibatkan, mereka biasanya ditempatkan pada posisi bawah,” kata Koentjoro.

Di sisi lain, kepadatan hotel di Yogyakarta juga memberikan dampak kasat mata dari aspek tata ruang dan geografis wilayah. Mengenai hal tersebut, Lutfi Muta’ali, staf pengajar Fakultas Geografi UGM, menuturkan bahwa tak ada masalah pada maraknya pembangunan hotel di daerah Gedongtengen sendiri, karena memang wilayah tersebut tercatat sebagai kawasan pariwisata. Berbeda apabila area yang dipetakan untuk sebuah hotel tidak diperuntukkan bagi kawasan pariwisata, seperti misalnya kawasan perumahan penduduk.

Namun , pembangunan hotel sendiri harus diberi perhatian penuh pada kapastias tampung. Menurut Lutfi, daya tampung itu sendiri dapat diidentifikasi dari sumber daya air dan kenyamanan.

“Daya tampung menjadi ukuran yang bisa kita gunakan untuk mengetahui apakah daerah tersebut masih boleh dibangun hotel atau tidak. Kita memiliki instrumen AMDAL, tapi hampir semua AMDAL tidak ada yang menolak. Semua AMDAL berbunyi boleh, hanya dengan catatan. Nah hal ini nanti erat kaitannya dengan kontrol. Siapa yang mengontrol? Ketika diinspeksi bisa jadi dia mengambil air di sisi A, tapi ketika tidak diinspeksi dia mengambil air dari sisi lain. Jadi masalah yang paling krusial memang daya tampung, kontrol, dan tentunya pengaturan izin,” kata Lutfi.

Jalanan sempit Gedongtengen dan hotel yang bersebelahan dengan rumah penduduk.

Jalanan sempit Gedongtengen dan hotel yang bersebelahan dengan rumah penduduk.

Keadaan yang demikian menjadi dilema bagi wilayah Gedongtengen, lebih luas lagi bagi Yogyakarta. Dengan label sebagai kota wisata yang dituntut untuk menyediakan akomodasi yang memadai bagi wisatawan, Yogyakarta seakan berada dalam dilema antara pengembangan sektor pariwisata dan pertahanan terhadap budaya asli. Permasalahan seperti perizinan, AMDAL, dan perhatian terhadap lingkungan sekaligus relasi sosial wajib menjadi fokus perhatian.

Ini menjadi masalah ketika Yogyakarta yang seharusnya mengembangkan seni dan budaya, tapi pembangunan hotel berkembang lebih cepat daripada kegiatan seni dan budaya itu sendiri.

loading...

About the author

fitria chusna farisa

fitria chusna farisa