ALL

Gerakan Sosial Menolak Pembangunan Hotel

photo

Maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta beberapa tahun terakhir mendapat reaksi keras dari berbagai komunitas dan organisasi masyarakat Yogya. Mereka menolak pembangunan hotel baru dan menuntut keberpihakan pemerintah pada warga.

Akhir-akhir ini kian banyak permukiman warga, ruang terbuka, dan fasilitas publik yang beralihfungsi menjadi hotel. Warga yang tinggal berdekatan dengan bangunan hotel mau tak mau merasakan dampak buruk operasionalisasinya. Di Miliran, warga mengalami kekeringan air sumur pada 2014 akibat Hotel Fave. Warga Gowongan RT 14 dan RT 15 juga mengalami hal serupa oleh Hotel 1O1. Informasi mengenai dampak tersebut cepat tersebar dan menjadi isu publik.

Warga Yogya pun melakukan gerakan sosial mengecam dampak buruk operasional hotel atau pembangunan hotel baru kepada pemerintah dan investor hotel.  Mereka juga aktif menularkan pengetahuan kepada sesama warga mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap dampak pembangunan hotel. Semangat tersebut mereka wujudkan dalam berbagai kegiatan, seperti diskusi umum, seni, audiensi, dan lain lain.

Salah satu gerakan itu adalah Warga Berdaya Yogyakarta. Komunitas yang aktif sejak 2013 ini mengkritisi isu-isu lingkungan yang muncul. Namun, karena besarnya dampak pembangunan hotel yang dinilai telah melampaui batas, gerakan Warga Berdaya saat ini dominan pada aksi penolakan pembangunan hotel baru.

“Warga Berdaya Yogyakarta sesungguhnya adalah spirit warga Yogya, baik warga asli maupun domisili, untuk mewujudkan Yogya yang ideal dan lebih baik. Tidak ada anggota resmi dari Warga Berdaya. Siapa pun yang mendukung prinsip dan praktik pembangunan yang lestari dan adil di Yogya, itulah Warga Berdaya,” kata Elanto Wijoyo, aktivis Warga Berdaya Yogyakarta.

Selain Warga Berdaya, Pemuda Tata Ruang (PETARUNG) menjadi salah satu pionir komunitas yang mengkrtitisi kondisi Yogya yang kian padat hotel. PETARUNG merupakan komunitas pemuda yang peduli terhadap perkembangan wilayah di Yogya dan Indonesia pada umumnya. Komunitas ini resmi berdiri pada 20 Desember 2012 oleh 15 mahasiswa Magister Perencanaan Kota dan Daerah Universitas Gadjah Mada (MPKD-UGM).

“PETARUNG sebenarnya tidak hanya fokus pada isu kepadatan hotel di Yogya. Tetapi saat ini pembangunan hotel di Yogya memang kian marak, banyak berdampak pada tata kota dan lingkungan. Sehingga hal tersebut saat ini menjadi salah satu fokus PETARUNG,” kata Angger Kwarazami Khamaisya, Ketua PETARUNG.

Warga Berdaya dan PETARUNG secara terang-terangan mengecam maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta. Aksi penolakan diwujudkan melalui berbagai aktivitas, seperti diskusi publik, riset mendalam, audiensi, aksi seni mural, teatrikal, dan lain sebagainya.

loading...

Warga Berdaya Yogyakarta secara aktif menggelar berbagai aksi, seperti focus group discussion (FGD) dan diskusi publik. Bahasannya kurang lebih mencakup dampak buruk pembangunan hotel, seperti gangguan saluran air, percampuran budaya asing, hingga tingkat pemanfaatan sumber daya. Di samping itu, FGD dan diskusi publik juga membahas potensi warga untuk menjadi pengawas langsung pembangunan hotel dan hak warga untuk menentukan perizinan berdirinya hotel.

Tercatat, pada 2 Oktober 2014 lalu, dalam aksi menolak maraknya pembangunan hotel, Warga Berdaya menggelar aksi mural di Jembatan Kewek mengusung tema Jogja Asat. Pada 14 Mei 2014, juga ada aksi menolak pembangunan hotel dengan menggelar aksi street art bersama para seniman. Aksi ini sekaligus untuk memperingati Merthi Kutha 2. Warga Berdaya juga aktif memberi pengetahuan seputar perkembangan pergerakannya dan isu pembangunan hotel di Jogja melalui webnya.

Sementara itu, kegiatan PETARUNG lebih berfokus pada riset dan audiensi. “Dari berbagai kegiatan dan agenda PETARUNG, yang menjadi fokus kami saat ini adalah riset. Mengenai maraknya pembangunan hotel, langkah yang kami tempuh pertama kali adalah riset, menelaah dan menganalisis sebab dan akibat maraknya pembangunan hotel di Yogya. Setelah itu, baru kami bisa menentukan sikap selanjutnya seperti menggelar berbagai diskusi publik, advokasi, dan sebagainya,” kata Bhita Hervita Ardianti, koordinator Humas dan Kesekretariatan PETARUNG.

Untuk kegiatan audiensi, PETARUNG pada umumnya menggelar diskusi dalam rangka mempertemukan pendapat antara warga, pemerintah, dan pihak investor hotel.

Kegiatan PETARUNG beberapa waktu lalu antara lain audiensi kepada Bappeda Yogya, melakukan advokasi mengenai perwujudan keadilan ruang publik yang netral bagi warga maupun pemerintah, tata kota, serta pembangunan hotel. Tak hanya itu, PETARUNG juga kerap berkontribusi dalam berbagai diskusi dan workshop seputar isu tata kota dan lingkungan. PETARUNG berharap, upaya mereka dalam mengembangkan berbagai isu dapat dijadikan sumber referensi masyarakat luas untuk memandang isu sekaligus mengambil sikap, serta menjadi rekomendasi bagi pemerintah.

loading...

About the author

fitria chusna farisa

fitria chusna farisa