ALL Seni Tradisional

Growol, Warisan Leluhur yang Bisa Menjadi Solusi Pangan

DSC0148
nadzifah
Written by nadzifah

Oleh: Amsa Nadzifah

Ketika kenaikan harga beras terjadi, masyarakat mulai mencari alternatif pengganti beras. Growol, yang berbahan dasar singkong, bisa menjadi pilihan utama. Selain murah, kadar gulanya rendah menjadi keunggulan dibanding nasi.

Winayah (54), salah satu warga Yogyakarta yang sering berpaling ke growol ketika harga beras di luar kemampuannya. “Kalau seperti saat ini, di rumah tidak ada persediaan beras, kami beli growol. Kemarin, seperempat potong itu habis untuk makan siang dan makan malam sekeluarga. Growol juga bagus buat yang sakit gula seperti suami saya. Keuntungan lain, kalau sarapan growol, perutnya tidak sebah,” katanya.

Growol adalah makanan pokok khas Kulon Progo dan sudah lama dikonsumsi warga sana. Kondisi alam Kulon Progo mendukung pengembangan growol. Karena bahan baku growol harus diperoleh dari areal tanah dengan kadar air yang rendah, sehingga hasilnya adalah ketela dengan tekstur yang keras. Tekstur ketela akan memengaruhi lama kualitas growol, karena jika ketela yang digunakan mengandung banyak air hasil growolnya lebih cepat basi dan bau.

Masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta bagian selatan dulu, membagi makanan menjadi beberapa jenis, yakni makanan pokok, makanan selingan, dan makanan untuk upacara. Berdasarkan bahannya, makanan pokok adalah nasi beras, nasi growol, nasi thiwul, dan nasi gogik. Nasi growol, thiwul, dan gogik merupakan makanan pokok pengganti nasi beras, yang dinikmati oleh lapisan masyarakat tertentu.

loading...

Serat Centhini yang ditulis pada 1814 menceritakan makanan sayur besengek, umumnya sayur ini dihidangkan dengan nasi, namun oleh masyarakat Kulon Progo sayur ini ditemani oleh growol. Kebiasaan ini masih dipelihara warga Kulon Progo hingga sekarang, selain sayur besengek growol juga kerap ditemani pentho yang berbahan baku kelapa muda dan telur, sedangkan kethak yang berbahan baku endapan dari pengolahan minyak kelapa.

Proses produksi growol merupakan bukti keahlian teknologi fermentasi masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta masa lalu. Secara sederhana, bahan dasar growol yakni singkong diambil buahnya, kemudian dipsahkan dari akar buahnya, rendam menggunakan air bersih sekitar dua-tiga hari hingga menjadi pati. Proses selanjutnya adalah pembilasan sebanyak tiga sampai empat kali, yang bertujuan supaya bersih dan bau pati hilang. Kemudian kandungan air pada pati dihilangkan agar growol dapat bertahan tiga atau empat hari. Setelah itu, pencacahan, perebusan selama lima belas hingga dua puluh menit, dan pencetakan. Alas cetaknya adalah daun pisang yang telah direbus terlebih dahulu sehingga growol tidak lengket dengan daun pisangnya.

Sukiyem, pembuat growol tradisional di Banjaran, Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo.
©nadzifah

Pembuat growol tradisional saat ini semakin sedikit, rata-rata pembuat growol sudah berusia enam puluh tahunan keatas. Saat ditemui di rumahnya (8/3) Sukiyem nenek dari empat cucu ini menyatakan, “Sekarang di daerah ini tidak ada yang membuat growol selain saya. Anak saya juga tidak mau meneruskan produksi growol, karena hasil yang diperoleh tidak seberapa dibanding kerja kerasnya.”

Warsi, penjual growol di Pasar Pripih Kulon Progo, juga menyatakan hal sama. “Rata-rata yang beli sudah seusia saya, kira-kira 50 tahun-an ke atas. Kalau sehari-hari ya paling beli seperdelapan, seperempat saja. Tapi kalau harga beras naik, ada juga yang beli sebagai pengganti beras,” kata Warsi.

 

loading...

About the author

nadzifah

nadzifah