ALL Transportasi Publik

Halte Park-and-Ride dan Basa-Basi Proyek Trans Jogja

Kapasitas tempat parkir di halte park-and-ride Ngabean tidak sebanding dengan jumlah penggunanya. Kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama masyarakat.
Chiara Anindya
Written by Chiara Anindya

 

Tujuh tahun pasca peluncuran Trans Jogja, visi Yogyakarta sebagai kota yang bebas polusi, minim kecelakaan, dan bebas macet masih sangat jauh dari kenyataan. Halte park-and-ride, salah satu program andalan TransJogja yang menyasar kalangan penglaju, masih belum mampu mengurangi jumlah kendaraan bermotor penglaju. Strategi Trans Jogja juga dinilai masih setengah hati, sehingga pengaruhnya kurang maksimal.

Agus Andrianto, Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat DIY, pada Selasa (24/3) menyatakan bahwa banyaknya penglaju dengan kendaraan pribadi setiap hari menjadi salah satu faktor utama penuhnya ruas jalan. Unit Pelaksana Teknis Daerah Trans Jogja telah mengantisipasi hal tersebut dengan menempatkan dua buah halte park and ride pada dua titik temu yang terletak di daerah suburban Yogyakarta, Prambanan dan Ngabean.

Halte park and ride (parkir dan melaju) diartikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai halte dengan fasilitas parkir bagi penglaju sehingga mereka bisa melakukan perpindahan moda transportasi dari pribadi ke umum. Dhani Rudianto, petugas darat di halte park and ride Ngabean, mengungkapkan bahwa pengguna jasa parkir titip di halte Ngabean hanya sepuluh orang per hari, yang kapasitas maksimalnya lima puluh motor. Mereka adalah pengguna rutin yang hampir setiap hari menitipkan kendaraan untuk melaju ke wilayah lain. “Semua pengguna halte ini adalah mahasiswa dan pekerja, biasanya lanjut naik 3B,” tambahnya.

Berbeda dengan halte Ngabean, pengguna fasilitas park and ride di halte Prambanan lebih banyak. Kartika Nastiti (25) merupakan pengguna setia layanan parkir titip ini. Ia dan kedua saudaranya sama-sama melaju dari Klaten ke Yogyakarta menggunakan bus Trans Jogja. “Tidak capek. Kalau naik Trans, pulang kantor bisa tidur di jalan,” kata Kartika. Ketika ditanya tentang prospek Yogyakarta memiliki layanan transportasi publik yang berkualitasKartika mengaku pesimis. Menurutnya, gagasan tersebut dapat direalisasikan asalkan ada penambahan armada dan perbaikan fasilitas bus Trans Jogja secara serius.

Ketika dihadapkan dengan sepinya pengguna layanan park and ride di halte Ngabean, Dhani mengaku maklum. Pasalnya, dibandingkan harus mengendarai Trans Jogja yang sering terlambat, menggunakan kendaraan pribadi memberi keleluasaan bagi masyarakat. “Armadanya juga masih sedikit, jadi kalau tidak terpaksaorang-orang daerah sini akan lebih memilih naik motor,” katanya.

Data dari Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah DIY menunjukkan bahwa pada 2011 terdapat penambahan jumlah kendaraan baru sebanyak 115.766 unit, dengan  80% merupakan sepeda motor. DPKAD DIY mencatat laju pertumbuhan kendaraan sebesar 14 – 15% setiap tahun.

Strategi setengah hati?

Pada kenyataannya, keberadaan Trans Jogja masih belum mampu menjadi pengganti kendaraan pribadi. Lilik Wachid Budi Susilo, peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM, berkata bahwa untuk bisa dikatakan berhasil, load factor (perhitungan nilai kegunaan suatu moda transportasi) harus mencapai angka 60%. Sigit Wahyu Wibowo, Kepala Bidang Operasional UPTD Trans Jogja, sepakat dengan itu. “Load factor Trans Jogja saat ini sekitar 38%, dari idealnya 60%,” ungkapnya saat ditemui pada Kamis (26/3).

Lilik memaparkan bahwa model pelayanan Trans Jogja sudah kurang tepat dari segi taktik, sehingga tidak mengherankan apabila pelaksanaan Trans Jogja saat ini kurang maksimal. “Salahnya adalah mereka hanya mengadopsi ide Transjakarta, tapi tidak diadaptasi. Padahal sistem tata kotanya saja sudah beda (Jakarta dan Yogyakarta),” katanya.

“Kalau memang serius mau mengurangi jumlah kendaraan bermotor, buat apa mereka (UPTD Trans Jogja) membuat halte di kanan-kiri jalan? Sekalian saja buat di tengah-tengah, biar lajur kendaraan pribadi berkurang (dan masyarakat beralih ke Trans Jogja),” kata Lilik.

Menanggapi kapan kira-kira Yogyakarta bisa bebas macetAgus berkata bahwa hal tersebut masih sangat sulit dilakukan. “Selain dari perbaikan fasilitas transportasi publik (Trans Jogja), pola pikir masyarakat juga harus diubah biar mereka mau naik kendaraan umum.”

Lilik juga sepakat dengan pernyataan Agus. “Pelaksanaan push and pull strategy yang baik juga harus digalakkan. Terapkan sistem harga parkir progresif biar pengguna kendaraan pribadi kapok,” katanya. “Anak-anak juga harus diajari cara menggunakan kendaraan umum, biar pola pikir masyarakat masa depan bisa berubah.”

About the author

Chiara Anindya

Chiara Anindya

Stuck between being a journalist... or a lecturer. I write and research things related to media and journalism.