ALL Iklan Luar Ruang

Iklan Luar Ruang yang Melupakan Citra Kota

sumber-Majalah-Balairung-Edisi-50.XXVIII.Februari-2014-2

Citra Yogyakarta sebagai kota pelajar dan budaya sepertinya harus mulai dipertanyakan. Citra itu pelan-pelan tertutup oleh bayang-bayang iklan luar ruang yang berantakan. Yogya pun tidak memiliki titik-titik baliho yang khusus diperuntukkan untuk menampilkan dua wajah itu.

Baik buruknya sebuah kota dapat dilihat dari lingkungan fisik dominan yang ada pada kota tersebut. Yogyakarta terkenal dengan julukan pelajar dan budaya karena memiliki banyak perguruan tinggi dan artefak budaya. Namun, lautan baliho iklan membawa pengaruh yang negatif bagi citra itu.

“Lihat saja iklan pendidikan di Yogya masih cukup sedikit, padahal Yogya sendiri adalah kota pelajar,” kata Ade Budiati,  kepala Dupindo Advertising. Ia mengatakan bahwa untuk mendapatkan titik bagi iklan pendidikan tidaklah mudah. “Klien saya, 70 persen adalah instansi pendidikan dan untuk mendapatkan titik yang strategis untuk iklan pendidikan itu tidak mudah. Iklan pendidikan kalah dengan iklan produk yang berani membayar mahal,” katanya.

“Iklan dengan tema budaya juga tidak jauh beda nasibnya. Dulu di kawasan titik nol ada satu titik baliho yang khusus diperuntukan untuk promosi acara budaya. Tapi, sekarang ada peraturan bahwa dari kawasan tugu sampai Krapyak dilarang menampilkan reklame,” ujar Ade. Ia melihat bahwa saat ini Yogya tak lagi memiliki titik-titik iklan luar yang dirancang khusus untuk menampakan citra Yogya sebagai kota pelajar dan budaya.

Kisbiyantoro,  Kepala Seksi Pendaftaran dan Pendataan Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan Keuangan (DPDPK) Kota Yogyakarta, saat ditemui pada Senin (23/3) juga mengakui bahwa keberadaan iklan luar ruang, terutama reklame, sangat berpengaruh terhadap citra Yogyakarta sebagai kota pelajar.

loading...

Putri Nurwitasari sebagai penduduk asli Kota Yogyakarta juga beranggapan bahwa reklame saat ini justru mengurangi citra Yogya sebagai kota budaya. “Coba kalau misalnya bentuk reklame dibuat seperti kekayon, pasti itu akan lebih mencerminkan julukan Yogyakarta sebagai kota budaya,” ujarnya.

Sumber: Majalah Balairung Edisi 50/XXVIII/Februari 2014

Sumber: Majalah Balairung Edisi 50/XXVIII/Februari 2014

Ade sendiri menyatakan bahwa untuk saat ini  keberadaan iklan luar ruang di Yogyakarta sudah terlalu banyak. Dari data yang diterbitkan Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung pada  2014, tercatat ada lebih dari 800 titik iklan luar ruang tetap yang ada pada lima kawasan strategis. Kisbiyantoro juga mengatakan bahwa titik reklame di Yogyakarta , baik yang permanen maupun insidental, berjumlah  lebih dari 4.000 titik, setengahnya merupakan reklame yang bersifat permanen.

Ironisnya, dari semua titik yang ada tersebut Ade mengatakan bahwa tidak ada iklan luar ruang yang mencitrakan Yogya sebagai kota pelajar maupun budaya. Menyikapi hal tersebut, maka diperlukanlah sebuah regulasi sebagai solusi. “Setidaknya, pemerintah harus memberikan titik-titik khusus untuk iklan-iklan pendidikan.  Ironis jika iklan pendidikan justru kalah jumlah dengan iklan hotel dan apartemen,” ujarnya saat menyinggung mengenai regulasi.

Soal regulasi sendiri, hingga saat ini Pemerintah Kota Yogyakarta masih menggunakan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Nomor 8 Tahun 1998 sebagai pedoman dalam mengatur penyelenggaraan reklame. Rencana pergantian Peraturan Daerah (Perda) tersebut memang sudah lama. Kisbiyantoro mengatakan bahwa saat ini pembentukan perda tersebut masih dalam proses. “Perancangannya sudah hampir selesai. (Proses) ini sudah sekitar 3 tahun,” katanya.

loading...

About the author

Aliftya Amarilisyariningtyas

Aliftya Amarilisyariningtyas

13/345882/SP/25573