ALL Iklan Luar Ruang

Istimewa, Sebatas Slogan?

Spanduk Jogja Istimewa membuat kondisi Malioboro sempat semrawut usai lauching Jogja Gumregah, Rabu (11/3).
Spanduk Jogja Istimewa membuat kondisi Malioboro sempat semrawut usai lauching Jogja Gumregah, Rabu (11/3).
laksamanashan
Written by laksamanashan

Sejak peluncuran slogan Jogja Istimewa yang meriah pada 7 Maret lalu,  sejumlah pihak menilai kampanye itu belum diikuti gerakan nyata untuk menunjukkan kesitimewaan. Bahkan kampanye Jogja Istimewa justru ikut mengotori tata ruang kota dengan pemasangan baliho di berbagai sudut kota.

Johannes Marbun selaku ketua Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA), mempertanyakan di manakah letak istimewa slogan baru Yogyakarta tanpa adanya gerakan nyata. Pasalnya paska peluncuran Jogja Istimewa, ratusan reklame masih dipasang di kawasan Malioboro. Hal ini dinilai tidak efektif. Johannes menambahkan bahwa Pemerintah Yogyakarta seharusnya melakukan tindakan nyata dengan membersihkan reklame-reklame yang ada di Malioboro yang menjadi ikon Yogyakarta ini.

Reklame untuk peluncuran logo Jogja Istimewa yang dihelat Sabtu lalu tersebut masih membanjiri sepanjang kawasan jalan Malioboro hingga rabu (11/3). Spanduk Jogja Istimewa sebagai pemeriah peluncuran tersebut telah menjadikan fasad Malioboro terlihat semakin semrawut. Wanto, juru parkir depan pusat perbelanjaan Malioboro, mengatakan bahwa acara Jogja Gumregah sudah selesai namun ratusan reklame belum dicopot.

“Acara besarnya sudah selesai, tetapi saya belum tahu kapan spanduk-spanduknya dicopot. Padahal reklame tersebut cukup mengganggu,” kata Wanto sambil memindah motor dari titik lokasi sebuah spanduk yang tampak rentan rubuh, pada Rabu (11/3) siang.

Berlarutnya pemasangan reklame Jogja Istimewa terlihat telah menampar wajah khas Malioboro yang bahkan keasriannya sudah surut. “Kawasan Malioboro semakin semrawut. Malioboro menjadi reklame,” kata Johannes mengkritik reklame yang liar tersebut.

Kepala bidang Peraturan Penegakan Perundangan Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Yogyakarta, Udiyono, saat ditemui pada Rabu (11/3) siang, mengaku pihaknya akan melakukan penertiban terhadap spanduk-spanduk yang melintang di atas badan jalan. Termasuk terhadap spanduk Jogja Istimewa. “Kami mendasarkan diri pada Perwal yang menyebutkan bahwa tidak boleh ada spanduk yang melintang di atas jalan. Untuk pinggir badan jalan masih belum ada payung hukum kuat untuk menindaknya,” kata Udiyono.

loading...

Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Reklame di Kota Yogyakarta saat ini masih dibahas. Pembahasan tersebut memerlukan banyak kajian, salah satunya adalah menunggu koordinasi dengan pemerintah provinsi yang minta ditunda sementara karena sedang melakukan pembahasan penataan tata ruang di wilayah DIY hingga akhir Maret.

Hal itu dikatakan Suwarto, Ketua Panitia Khusus Raperda Penyelenggaraan Reklame.”Kalau pansus sendiri beranggapan, tidak bisa kalau ada wacana Kota Yogyakarta tanpa reklame. Kalau tanpa reklame, saya sangat tidak setuju. Seharusnya bisa diatur lebih baik,” katanya.

Raperda belum tuntas, dan hingga Rabu (1/4) siang, sampah visual dalam bentuk reklame Jogja Istimewa masih terlihat di jalan-jalan kota Yogyakarta.

Sumbo Tinarbuko selaku penggagas gerakan Reresik Sampah Visual, saat ditemui Rabu (1/4) siang menyerukan apabila pemerintah dan pejabat publik akan mengelola ruang publik hendaknya menjaga amanah yang dimandatkan. Salah satu representasi sebuah kawasan yang ramah dan nyaman adalah baliho dan papan iklan tidak menyerang kemerdekaan visual warga atau wisatawan yang mengunjungi kawasan tersebut.

“Kalau saya justru mendukung jika di kawasan Yogyakarta bersih dari reklame atau media luar ruang. Toko-toko cukup memasang nama toko saja, sedangkan untuk memperkenalkan produk, mereka bisa menggunakan dinding dalam toko atau lantai toko tersebut,” kata Sumbo.

Menurut Sumbo, sebagai kota budaya dan menyandang predikat istimewa seharusnya Yogyakarta memiliki dewan kurator yang bertugas mendampingi dan memandu pemerintah kota Yogyakarta menata iklan luar-ruang agar selaras dengan budaya Yogyakarta.

Dalam acara Jogja Gumregah beberapa waktu lalu, Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur DIY sudah meminta pemerintah kabupaten dan kota agar segera menertibkan iklan luar-ruang yang menjadi reklame.

Meskipun gubernur sudah memerintahkan, baliho iklan masih menjajah ruang publik hingga sekarang.

 

loading...

About the author

laksamanashan

laksamanashan