ALL Iklan Luar Ruang

Jogja Jadi Kyoto Saja

Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama Yoshinori , duta besar Jepang untuk Indonesia,  dalam peresmian Torii Gate, Gerbang Sister Province Yogyakarta-Kyoto di Malioboro, 5 Juli 2012.
Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama Yoshinori , duta besar Jepang untuk Indonesia, dalam peresmian Torii Gate, Gerbang Sister Province Yogyakarta-Kyoto di Malioboro, 5 Juli 2012.
laksamanashan
Written by laksamanashan

Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X berkata sangat mengapresiasi kerjasama yang terjalin hampir 30 tahun antara Yogyakarta dan Kyoto, Jepang. Persahabatan Sister Province diakui menghasilkan kolaborasi budaya saling menguntungkan. Akan tetapi, tidak semua aspek positif kolaborasi budaya ini diambil oleh Yogyakarta. Penataan reklame media luar ruang di Yogyakarta, misalnya, semestinya juga mengambil sisi adiluhung seperti di Kyoto.

Kyoto adalah kota yang menyimpan banyak sejarah Jepang, sebagaimana Yogyakarta untuk Indonesia. Di tengah arus deras modernisasi Jepang, Kyoto tetap berusaha menjaga sebagai cagar budaya.

Butuh keberanian pemerintah kota untuk menerapkan peraturan perencanaan panorama kota baru. Pemerintah Kota Kyoto mulai tegas mengeluarkan peraturan tentang media luar ruang pada 1 September 2007. Bagaimana dengan Yogyakarta, saudara muda kota Kyoto?

“Saya mengimbau seluruh aparat daerah, baik itu provinsi maupun kabupaten dan kota agar bersama-sama menertibkan lalu-lintas dan juga ruang iklan yang dapat mengganggu pandangan mata. Wajah Yogyakarta yang penuh papan reklame tersebut akan menjadikan penilaian kurang baik, terlebih karena itu yang langsung dilihat dan menjadi wajah Yogyakarta,” kata Sultan pada Pisowanan Agung Rakyat Yogyakarta Jogja Gumregah, peluncuran slogan Jogja Istimewa di Pagelaran Kraton, Sabtu (7/3) sore. Penertiban papan reklame di seluruh wilayah Yogyakarta menurut Sultan adalah hal utama menyikapi keistimewaan Yogyakarta dan semangat Jogja Gumregah. Sudah terlampau banyak media luar ruang terpasang di ruang yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk beriklan di kawasan miniatur budaya ini.

Gagasan Sultan didukug sepenuhnya oleh Jhohanes Marbun, Ketua Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA). “Kami berharap, di masa akan datang, semua baliho nama toko atau jenis iklan lainnya tidak lagi menutupi wajah Malioboro; lebih tertata seperti halnya Kyoto,” katanya.

loading...

Pertokoan di jalan Malioboro saat ini penuh oleh papan reklame dan nama toko yang mayoritas menutupi gedung kuno. Penataan media luar ruang kawasan Malioboro sebagai ruang publik dan pusat perbelanjaan dipandang sekedar dari wacana ekonomi. Hal ini ditegaskan oleh Jhohannes bahwa secara estetika pusat kota Yogyakarta kini terkesan pusat bisnis dan mengabaikan kesan budaya. Penataan yang sudah longgar ini berdampak tidak baik terhadap eksistensi ikon kota Jogja serta disinyalir mendorong budaya konsumtif bagi masyarakat Yogyakarta. Selain itu, pembatasan ukuran media luar ruang akan memperindah kawasan yang selalu dipadati wisatawan  dengan tampilnya kembali wajah gedung setelah sempat tertutup papan reklame ukuran raksasa. “Apabila dikaji melalui perspektif kebudayaan, penataan media luar ruang ini berpihak pelestarian nilai-nilai sejarah,” tambah Johannes saat ditemui pada Minggu (8/3) siang.

“Di Kyoto, kami memiliki area khusus untuk iklan, seperti vendhing machine, eskalator bahkan bus. Biasanya ukurannya kecil dan jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi punya desain lucu. Jadi kami suka. Billboard di Kyoto tidak pernah ditempel langsung di gedung, karena warga Kyoto menganggap bangunan tersebut memiliki nilai sejarah tinggi,” kata Sayaka Shiratori, wisatawan asal Tokyo di kawasan titik nol Yogyakarta.

Di sepanjang Malioboro terdapat lebih dari 50 bangunan tua namun hanya 10 bangunan benar-benar masih memperlihatkan fasad atau muka bangunan aslinya. Selebihnya, wajah bangunan tertutup papan iklan dan baliho ukuran besar. “Ini mencengangkan, terlebih Malioboro ikon kota Jogja,” kata Widiyastuti, Kepala Seksi Pembinaan dan Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Yogyakarta pada Kamis (12/3) sore.

Wacana penataan media luar ruang kawasan cagar budaya dianggap banyak berpihak pada sisi ekonomi. Ini menyimpang dengan visi kota. “Visi Yogya ‘kan bertumpu bidang kebudayaan. Untuk menerjemahkannya maka kawasan Malioboro perlu menjadi salah satu percontohannya. Sebagai kawasan cagar budaya, penataan Malioboro harus memerkuat khasanah budaya yang khas.  Saat ini baliho didirikan tanpa memandang konsep dan unsur lokalitas. Terlebih wisatawan pasti lebih suka gedung-gedung kuno tampak bersih,” kata Jhohannes Marbun di Sekretariat MADYA.

“Jogja memang sister-nya Kyoto, tapi versi lethek.” kata Vero, seorang mahasiswa lokal yang sering berlibur ke Jepang.

Tampak jelas, sejak peraturan media luar ruang Kyoto diberlakukan, kota itu semakin menampakkan pamornya. Semangat Kyoto semestinya juga dibawa ke Yogyakarta, sehingga kerjasama itu tidak hanya berhenti di upacara.

loading...

About the author

laksamanashan

laksamanashan