ALL Transportasi Publik

Jumlah Armada Minim, Trans Jogja Belum Layak Gantikan Bus Kota

Salah satu bus jalur 3B sedang menuju ke arah Halte Giwangan
Salah satu bus jalur 3B sedang menuju ke arah Halte Giwangan

Saat ini Trans Jogja baru memiliki 74 armada dengan delapan rute yang telah beroperasi sejak 2007. Jumlah ini sebenarnya masih sangat sedikit apabila dibandingkan dengan total bus kota yang mencapai 240 armada. Warga pun lebih memilih bus kota daripada Trans Jogja karena alasan luasnya layanan.

Agus Andrianto, Ketua Organisasi Angkutan Darat (ORGANDA), mengatakan bahwa sudah ada rencana untuk penambahan jumlah jalur. Jalur yang saat ini masih berjumlah delapan, akan ditambah menjadi 17. Hal tersebut didasarkan pada Peraturan Gubernur DIY. “Proses pembahasannya dimulai pada April 2015, rencananya akan ada penambahan jumlah armada menjadi 161-165 unit,” kata Agus.

Perihal penambahan jumlah jalur dan armada dibenarkan oleh Erwin Setiawan, pengurus Seksi Perkotaan Dishubkominfo DIY dengan cakupan angkutan perkotaan. Namun sayangnya berkaca dari pengalaman pada 2011, penambahan jumlah jalur dan armada tidak selalu berjalan mulus. Pada 2011 rute 4A dan 4B mulai beroperasi, tetapi belum sampai setahun, operasionalnya ditangguhkan.

Salah satu permasalahan yang dialami rute 4A dan 4B pada 2011 adalah penempatan halte yang belum siap. Selain itu, armada pun bermasalah karena ada yang rusak dan ada pula yang masa kontraknya habis.

Untuk mengatasi hal itu, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta kemudian menerima hibah bus dari Lampung. Sayangnya perizinan operasional tidak bisa berjalan cepat karena harus diajukan ke provinsi. Baru pada 2014, rute 4A dan 4B bisa kembali beroperasi meski jumlah armadanya masih yang paling sedikit.

Halte Prambanan menjadi awal perjalanan jalur 1A dan memiliki jumlah armada terbanyak

Halte Prambanan menjadi awal perjalanan jalur 1A, yang memiliki jumlah armada terbanyak dibanding jalur lainnya.

Permasalahan tentang perizinan dan jumlah armada Trans Jogja juga diungkapkan oleh Lilik Wachid Budi Susilo, peneliti di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM. Menurut Lilik, saat ini sebenarnya Yogyakarta belum membutuhkan transportasi cepat, namun banyak kebijakan yang masih salah kaprah.

loading...

Kebijakan yang salah itu salah satunya disebabkan oleh habisnya masa kontrak Trans Jogja dengan operator Jogja Tugu Trans (JTT) pada 2014. JTT kemudian meminta perpanjangan satu tahun hingga 2015. Apabila kontrak jangka panjang ingin dilanjutkan, Trans Jogja bermasalah dengan KPPU terkait tidak bisa dilakukannya penujukkan langsung. Jalan yang bisa ditempuh adalah mengadakan tender. Namun tender juga bisa bermasalah sebab kondisi bus Trans Jogja saat ini banyak yang rusak.

“Seharusnya pihak Trans Jogja mempunyai rencana berkala. Sekarang mereka bingung karena sampai masa kontraknya habis di 2015, konsepnya masih belum jelas, jumlah armadanya tidak mencukupi,” kata Lilik.

Lilik juga berkata bahwa tentang jumlah armada yang ideal perlu dilakukan perhitungan secara detail, apalagi karena Trans Jogja disebut sebagai pengganti bus kota. Hal itu tidak bisa dilakukan apabila Trans Jogja masih belum jelas apakah diarahkan sebagai transline atau feeder. Kedua hal tersebut berbeda perlakuannya. Hal lain yang harus diperhitungkan adalah luas wilayah yang dijangkau.

“Trans Jogja itu secara konsep masih salah. Kenapa masih harus dijalankan? Ini memang harus diatur lebih baik. Jadi susah ketika harus memperbaiki atau meninjau izin di tengah jalan,” kata Lilik.

Penumpang Masih Memilih Bus Kota

Rencana kadang tidak sejalan dengan kondisi riilnya. Trans Jogja yang diharapkan bisa menjadi pengganti bus kota ternyata pelayanannya dianggap belum maksimal menurut para penumpang.

Suhardi (45) terpaksa memilih untuk masuk ke Halte Trans Jogja Giwangan (08/03). Dia telah menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk mencari angkutan pengganti bus kota jalur 7 ke arah Gejayan yang sedang tidak beroperasi karena itu adalah hari Minggu. Meskipun baru dua kali naik Trans Jogja, Suhardi merasa kurang puas dengan sedikitnya jumlah armada serta waktu tunggunya.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Seruni (41). Dia berpendapat bahwa jumlah armada dan rute Trans Jogja belum sebanyak bus kota. Seruni biasanya lebih memilih bus kota jalur 7 untuk menuju ke tempatnya bekerja di daerah LPP.

 

loading...

About the author

Muhammad I. Anas (Aef)

Muhammad I. Anas (Aef)

Suka menulis dan menonton.
13/345981/SP/25595