ALL Media Cetak

Kedaulatan Rakyat, Menjaga Keseimbangan Koran Cetak dan Media Daring

20150401_090716 (FILEminimizer)

Surat kabar cetak dirisaukan oleh popularitas media daring yang terus meningkat, tapi Kedaulatan Rakyat mau tidak mau harus membuat media daring juga. Bagaimana KR menyikapi dua versi media ini?

Waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi, lima orang warga lokal kota Yogyakarta terlihat berdiri menatap jejeran papan mading di depan kantor iklan surat kabar Kedaulatan Rakyat (KR), bergantian membaca lembar-lembar surat kabar yang ditempel di sana. Salah satunya Hendro (48), ia segera beranjak menuju sepedanya setelah selesai membaca berita-berita yang disajikan hari ini. Sudah menjadi rutinitas bagi pria ini untuk mampir membaca berita di kantor KR setiap paginya.

“Saya selalu ingin tahu peristiwa apa yang terjadi hari ini. Tidak punya gawai, jadi menikmati informasi dengan cara ini,” tutur Hendro.

Jejeran papan-papan ini menjadi sumber informasi harian gratis yang digemari masyarakat lokal.

Papan-papan ini menjadi sumber informasi harian gratis yang cukup diandalkan masyarakat lokal.

Hendro adalah satu dari cukup banyak masyarakat Yogyakarta yang masih setia pada surat kabar cetak. Menurutnya, informasi yang disajikan pada surat kabar cetak sangat jelas dan detail, tidak seperti media daring yang hanya mengandung garis besar berita saja.

“Pernah saya buka di komputer anak saya, tapi rasanya terlalu pendek dan seadanya. Meskipun diperbarui sekali sehari, saya lebih piih yang cetak,” lanjutnya.

Perihal perilaku membaca surat kabar cetak yang masih populer di kalangan masyarakat ini disetujui pula oleh Ahmad Luthfi, Wakil Pimpinan Redaksi Kedaulatan Rakyat Online. Berdasarkan survei Nielsen yang dilkukan per triwulan, jumlah rata-rata pembaca surat kabar KR versi cetak mencapai 300.000-400.000 orang per harinya. Sementara versi daring, masih cukup tertinggal dengan jumlah pembaca harian kurang lebih 70.000 orang saja. Salah satu penyebab jumlah pembaca surat kabar versi daring masih sedikit adalah pembaca setia KR yang kebanyakan berasal dari kaum orang tua.

“KR termasuk surat kabar lama di Jogja, pelanggan-pelanggan lama mengaku lebih suka dengan sensasi membalik lembaran kertas koran, terdengar aneh, tapi hal seperti ini ada. Yang suka baca versi daring itu umumnya anak-anak muda,” jelas Luthfi.

Para pengiklan pun masih menaruh kepercayaan pada surat kabar cetak. Vinna (23), memilih untuk memajang iklan persewaan mobil dan motor miliknya di KR versi cetak. Meskipun sadar akan popularitas media daring di kalangan anak muda, Vinna yakin iklannya akan lebih banyak dibaca bila dipajang di surat kabar versi cetak.

“Saya sendiri suka baca berita dari internet. Tapi saya tidak pernah sadar dengan iklan-iklan yang disajikan , yang menarik perhatian hanya tulisan berita saja. Saya rasa anak-anak muda lain juga begitu. Kalau di versi cetak kan ada halaman khususnya, jadi iklannya lebih diperhatikan,” ujar Vinna.

Luthfi mengaku bahwa pendapatan iklan masih didominasi oleh penghasilan dari iklan surat kabar cetak. Perbandingan iklan di surat kabar cetak dan di situs daring, krjogja.com, masih sangat jauh berbeda. Untuk modal pengelolaannya, masih berasal dari keuntungan iklan surat kabar cetak. Padahal ruang iklan yang ditawarkan pada versi daring lebih bervariasi. Ada dua kategori iklan di situs daring KR, yang dikelola oleh pihak KR dan iklan yang dikelola oleh pihak pengiklan.

“Di situs daring, pengiklan bisa membeli kapling dan ruang pada situs kami, sehingga pengiklan sendiri yang mengubah-ubah tampilan iklannya. Di versi cetak, hanya bisa menampilkan gambar dan kontak pengiklan. Tapi tetap saja yang laris yang di cetak.” kata Luthfi lagi.

loading...

Situs daring milik KR sudah dibuat sejak tahun 2000, namun tulisan yang disajikan masih sama persis seperti berita yang disajikan pada versi cetak. Versi daring KR saat itu hanya berupa e-Paper. Barulah pada 1 Juli 2009, bidang media daring KR memutuskan untuk melakukan pengelolaan serius. Berita yang disajikan pada situs daring tidak lagi sama dengan versi cetak, tetapi dilakukan inovasi yaitu penyajian berita-berita aktual yang terus diperbarui. Karena perkembangan teknologi yang kian maju, KR menyesuaikan diri dengan kemudahan yang ditawarkan teknologi.

“Penting untuk masyarakat cepat mengetahui informasi, teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia. Maka dari itu kami dan perusahaan media cetak lainnya pun memutuskan untuk membuat versi daring,” jelas Luthfi.

Meskipun teknologi dan internet semakin dekat dengan kehidupan manusia zaman sekarang, Luthfi menilai bahwa hal ini masih belum menjadi ancaman besar bagi KR. Dari segi pendapatan saja, surat kabar cetak membawa laba yang jauh lebih banyak dari versi daring. Pengelolaan dan pengembangan situs daring juga dibiayai dengan uang dari penghasilan surat kabar cetak, bahkan hingga hari ini. Situs daring milik KR masih belum dapat membiayai dirinya sendiri. Namun, Luthfi mengaku bahwa oplah cetak KR memang menurun dalam beberapa tahun terakhir akibat popularitas media daring, meskipun tidak drastis, hanya sekitar 1 hingga 5 persen saja.

Ahmad Luthfi: "Secara nasional, oplah penjualan surat kabar cetak di Indonesia memang mengalami penurunan. Namun penurunan yang dialami KR tidak terlau signifikan, kenaikan oplah dari-hari ke hari cenderung stabil."

Menurut Ahmad Luthfi, penampilan koran cetak KR jauh lebih menarik daripada versi daring yang monoton.

Selain untuk memanfaatkan perkembangan teknologi, situs daring milik KR dibuat untuk diakses masyarakat yang tidak terjangkau oleh KR versi cetak, seperti di sejumlah daerah di Jawa Tengah, atau di luar negeri. Sehingga masyarakat Yogyakarta yang berada di luar kota ataupun luar negeri sekalipun dapat mengikuti perkembangan peristiwa yang terjadi di kota Yogyakarta. Luthfi mengaku tidak begitu setuju bila dikatakan KR membuat situs daring semata-mata untuk tren.

“Semua perusahaan media memang membuat situs daring sebagai persiapan menghadapi perkembangan teknologi, tetapi bukan hanya itu. KR berniat mendekatkan informasi kepada orang-orang di luar jangkauan surat kabar cetak.”

E-Paper pada situs daring KR baru mulai diperbarui pada pukul 10.00 WIB. Ini dilakukan supaya ada waktu untuk menyebarkan surat kabar versi cetak yang sudah mulai dipasarkan sejak pukul 03.00 WIB. Pihak KR tetap melakukan antisipasi agar surat kabar cetak tetap dibaca masyarakat. Bila diperbarui bersamaan, ada kemungkinan oplah pembaca versi cetak berkurang.

“Media daring dibuat untuk mengikuti teknologi, tapi kami tetap akan menjaga eksistensi surat kabar cetak. Kami bukan membunuh media cetak,” tegas Luthfi.

Zaman sekarang banyak perusahaan media cetak besar yang mulai mengembangkan sayap ke berbagai bidang bisnis. Ada yang membuat versi TV, radio, bahkan bisnis hotel. Ini dilakukan untuk menjaga kestabilan pendapatan perusahaan media yang mendapat ancaman dari berbagai kemajuan teknologi. Demikian pula halnya dengan KR yang memiliki rencana untuk membangun sebuah hotel. Namun lagi-lagi Luthfi menegaskan, keputusan-keputusan ini dilakukan untuk mengikuti zaman. Keberadaan surat kabar cetak akan tetap dipertahankan dengan segala cara, karena surat kabar cetak adalah sumber berita yang penting bagi masyarakat. Isi berita pada media cetak sifatnya rinci dan jelas, sementara media daring sifatnya aktual. Kedua bentuk media berita ini sama-sama penting dan harusnya saling mendukung. Di masa depan pun, beliau berharap media cetak tetap eksis dan berjalan beriringan dengan media daring.

“Bahkan setelah melewati zaman dinosaurus sekalipun, kecoa masih hidup bahagia sampai sekarang, kan?” kata Luthfi sambil bercanda.

loading...

About the author

Ayu Octasihu F. Simangunsong

Ayu Octasihu F. Simangunsong

13/345398/SP/25558