ALL Klub Sepakbola

Kitman PSS Sleman, Pekerja Serba Bisa

nurmahfudh
Written by nurmahfudh

Sore itu (17/03/2015), tribun biru Stadion Maguwoharjo cukup sesak. Para Sleman Fans dengan antusias menonton latihan punggawa PSS Sleman. Di tengah seriusnya sesi latihan yang digelar, seorang dengan seragam nomor punggung 00 asyik sendiri memainkan bola di pinggir lapangan. Sosok yang tidak asing bagi pendukung PSS itu adalah Surya Kuda, kitman PSS Sleman yang telah mengabdi selama tujuh tahun.

Kitman itu sebenarnya memang pembantu, tapi supaya keren disebutnya kitman. Pekerjaannya memang sekadar bantu-bantu. Tapi kalau ada yang menganggap sepele pekerjaan kitman, dosa besar dia kalau masih suka sama sepakbola,” katanya bersemangat.

Kitman juga sering melakukan hal di luar tugasnya. Surya pernah diberi tanggung jawab layaknya seorang manajer tatkala PSS menjalani tur ke Bumi Cendrawasih, Papua. Ini karena PSS tak punya cukup dana untuk memberangkatkan seluruh pemain dan kru, sehingga Surya dipaksa merangkap tugas manajer.

“Saat itu manajemen sedang tidak punya uang. Akhirnya uang 30 juta plus tiket untuk 23 orang dipasrahkan kepada saya. Uang itu untuk pesan hotel yang layak agar pemain bisa fokus ke pertandingan,” kata Surya.

Surya menceritakan awal mula dia menjadi kitman PSS Sleman. Dia dulu seorang sopir pemerintah daerah Sleman yang tidak memiliki minat pada dunia sepakbola, tapi kemudian disuruh menjadi sopir pribadi Gaston Castano dan pelatih Horacio Montes.

Seringnya berinteraksi menjadikan Surya sedikit demi sedikit mengerti sepakbola dan mulai jatuh cinta pada sepakbola. Kecintaannya bertambah tatkala Rudy Keltjes membesut PSS.

“Mungkin kalau dulu tidak jadi sopirnya Gaston sama Horacio saya tidak mungkin jadi kitman. Mereka itu orang-orang yang mengenalkan saya kepada sepakbola Sleman. Apalagi setelah Rudy Keltjes jadi pelatih, saya semakin betah kerja di sini, ” jelasnya.

Hubungan yang terjalin antara Surya dan Rudy Keltjes memang sangat akrab, meskipun pada dasarnya dia selalu berusaha menjalin keakraban dengan semua pelatih. Hanya saja ketegasan yang dimiliki Rudy menjadikan Surya mengidolakan pelatih blasteran Belanda-Situbondo tersebut. Menurut dia, sosok pelatih yang ideal adalah seperti Rudy. “Selama saya di sini, pelatih yang paling cerdas itu Keltjes, dia itu disiplinnya tinggi plus pintar kalau mencari pemain-pemain muda,” terangnya.

Selain sebagai kitman, Surya juga memiliki pekerjaan yang sangat dibutuhkan tim, yaitu pendamping pemain. Pendamping pemain bertujuan pemain semakin merasa betah membela PSS. Menurutnya, di tengah kompetisi yang semakin bergelimang uang ini, kedekatan dapat menjadi unsur pembeda. Saking dekatnya dengan pemain, tak jarang para pemain diskusi dengan Surya berapa hendaknya nilai kontrak yang dia minta ke manajemen.

Surya juga berperan sebagai motivator. Dia berujar kepiawainnya menjadi seorang motivator bagi tim tak lepas dari pelajaran yang dia ambil dari pelatih-pelatih yang hilir mudik menangani PSS.

Bertambahnya pekerjaan yang dikerjakan oleh Surya tidak dibarengi dengan jumlah pundi-pundi yang masuk ke dompetnya. Ia memang jarang protes kepada manajemen perihal ketimpangan gaji dengan kru lainnya asalkan sesuai dengan porsi kerja masing-masing. Meski jarang protes, tidak berarti Surya diam saja apabila ada sesuatu yang dia rasa tidak seimbang. Pernah suatu saat dia protes akibat tidak seimbangnya gaji yang diberikan antara dirinya dengan tukang pijat klub.

“Dia (tukang pijat) itu kerja hanya saat pertandingan dan latihan. Latihan pun juga sering tidak datang. Masa kerja tidak beres seperti itu gajinya lebih besar. Saya langsung protes ke manajemen,” ujar Surya.

Ketidakjelasan struktur manajemen sempat menyiratkan niat Surya untuk keluar dari PSS. Jika suatu saat benar-benar keluar dari PSS, Surya berharap bisa menjadi kitman untuk tim nasional Indonesia atau menjadi kitman bagi klub daerah yang masih sepi dukungan masyarakat sekitar.

“Kalau keluar dari PSS saya punya cita-cita bisa ikut bantu-bantu di timnas. Kalau tidak direkrut timnas, saya mau membantu mengembangkan klub-klub lokal yang masih minim dukungan dari masyarakat sekitar”, ungkap Surya.

 

 

 

About the author

nurmahfudh

nurmahfudh