ALL Lingkungan

Latihan Bencana yang Dilupakan

lucky
Written by lucky
bangunan pertokoan yang terletak di Kelurahan sumbermulyo luluh lantak ketika gempa 27 Mei 2006. foto oleh: Andika Pradipta

Bangunan pertokoan di Bantul yang hancur akibat gempa 27 Mei 2006.  (Andika Pradipta)

 

Meskipun pernah mengalami gempa yang menelan lebih dari 6.000 korban jiwa pada 2006, saat ini sekolah-sekolah di Kabupaten Bantul lupa untuk melakukan simulasi bencana.

Ketika membuka rapat koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Indonesia di Jakarta,  Wakil Presiden Jusuf Kalla menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pemahaman tentang mitigasi bencana. Kalla mengatakan pendidikan dan pemahaman akan bencana merupakan hal utama yang harus diberikan kepada masyarakat di daerah rawan, sehingga kerugian dan korban tidak akan terlalu banyak.

Namun kegiatan semacam itu belum bergeliat di Bantul. Di SMP 1 Bantul, misalnya, pada periode 2007-2010 tidak pernah dilakukan simulasi bencana. Padahal, pada saat gempa bumi apda 27 Mei 2006 bangunan sekolah tersebut luluh lantak. Begitu pula dengan SMA 2 Bantul yang terletak persis didepan SMP 1 Bantul, pada periode 2010-2013 tidak pernah ada simulasi bencana.

“Ketika saya sekolah di SMP 1 Bantul dan SMA 2 bantul tidak pernah ada pelatihan ataupun simulasi untuk menghadapi bencana. Seingat saya, selama 6 tahun saya sekolah di kompleks itu, tidak pernah ada simulasi bencana,”  tutur Fauzan yang kini kuliah  di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

Hal sama juga diungkapkan Alya, lulusan SMP 1 Bantul, yang mengatakan bahwa selama sekolah di SMP belum pernah ada latihan bencana. “Selama saya sekolah di SMA juga belum pernah ada simulasi bencana,” katanya, yang sekarang di SMA 8 Yogyakarta.

Riyanto, Kepala Sekolah SD Unggulan Aisyiyah, Bantul, mengatakan bahwa kegiatan simulasi bencana yang beberapa waktu lalu diselenggarakan di institusinya merupakan kerjasama antara pihaknya dan pihak dinas terkait.  “Kami  tidak rutin dalam mengadakan simulasi, tapi kami pernah beberapa kali mengadakan simulasi,” katanya. Pihaknya akan menyambut baik apabila kegiatan tersebut diadakan secara rutin. “Kegiatan semacam ini itu bagaikan sedia payung sebelum hujan, jadi biar anak-anak nanti tidak kaget dalam menghadapi kegiatan sesungguhnya,” katanya.

Menurut Beja Santoso, seorang PNS yang ditemui saat menjemput anaknya di SD Unggulan Aisyiyah, mengatakan bahwa latihan bencana perlu dilakukan untuk anak sekolah. “Kalau saya sudah sering merasakan gempa,  jadi  sudah terbiasa. Kalau anak-anak tidak tahu apa-apa, kasihan nanti bisa trauma (jika tidak dilatih),” katanya.

About the author

lucky

lucky