ALL Seni dan Olahraga

“Lepot dan Jumanis”, Ketika Ketela di Panggung Sandiwara

elfi
Written by elfi

“Kang ketelanya di mana? Kemarinkan sudah tak suruh beli ketela di pasar Karangkajen, sekarang mana ketelanya?”

Itu adalah penggalan salah satu dialog yang diucapkan Jumanis, penjual gethuk yang kini kehilangan bahan baku utama gethuknya, dalam pentas teater Lepot dan Jumanis oleh Teater Gadjah Mada.

Teater Gadjah Mada, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa UGM, telah berhasil mementaskan “Lepot dan Jumanis” di empat kota, yaitu Yogyakarta, Purwokerto, Magelang dan Kudus. Pementasan ini merupakan kerjasama Teater Gadjah Mada dengan Bhakti Budaya Djarum. Sebelumnya Lepot dan Jumanis telah dipentaskan di Universitas Pendidikan Indonesia  dalam serangkaian acara Festival Teater Mahasiswa Nasional VII (Festamasio VII) Bandung.

“Lepot dan Jumanis” bercerita tentang sepasang suami istri yang terpaut jauh usianya. Hanya kehidupan sederhana  yang mereka alami sebagai penjual gethuk di desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan pemerintahan. Namun suatu ketika ketela menghilang dari peredaran, Lepot dan Jumanis tak bisa lagi membuat gethuk.

Di saat itulah, justru banyak orang silih berganti mendatangi rumah kumuh mereka, menanyakan keberadaan gethuk. Dari babu, istri bupati yang menjadi korban mode, preman, tentara bahkan tetangga, semuanya datang menanyakan gethuk buatan mereka.

Tak hanya permasalahan ketela, kebijakan pemerintah seperti kenaikan harga BBM juga ikut melatari cerita tersebut. Bagaimana masyarakat pinggiran seperti Lepot dan Jumanis yang tidak memiliki sepeda motor maupun kompor gas bisa menjadi korban atas kebijakan pemerintah.

 

Pada pertunjukan yang dipentaskan di Auditorium Universitas Muria Kudus pada 23 Mei, penonton sedikit dibuat bingung dengan keberadaan pasta gigi berbagai ukuran, dari yang kecil bahkan sampai sebesar orang.  Salah seorang penonton, Risma, bertanya, “Itu tadi odolnya untuk apa ya?” Novi, Mahasiswa Teknik Universitas Muria Kudus, juga mengungkapkan keherannya, “Pasta gigi yang sebesar itu maksudnya apa ya? Kok bisa ada pasta gigi seperti itu?”

Menanggapi banyaknya kebingungan, Shoim  Mardiyah, pemeran Jumanis sekaligus sutradara pementasan ,  menjelaskan peran besar ketela, “Ketela itu tidak hanya bahan utama gethuk maupun thiwul, tapi industri besar pun juga menggunakan ketela. Kosmetika, etanol, bahkan pasta gigi, semuanya pakai ketela. Bahkan pemerintah saja sampai impor ketela untuk memenuhi kebutuhan industri,” kata Shoim saat ditemui seusai pentas (23/5).

Saat ditanya tentang rangkaian tur empat kota yang diberi nama “Lepot dan Jumanis Tamasya ke-4 Kota”, Shoim menjelaskan sangat banyak hambatan dalam proses tersebut seperti saat acara Festamasio ada salah satu anggota yang ketinggalan kereta karena ketiduran, saat pentas outdoor di Purwokerto semua properti basah terkena air hujan serta bentroknya kegiatan latihan dan pentas dengan kegiatan perkuliahan.

“Kemarin saja saat kami berangkat ke Kudus, mobil pick up yang mengangkut properti juga sempat ditilang polisi di Magelang,” tambah Shoim.

Berkaitan dengan proses produksi, Citra Kurnia selaku pimpinan produksi merasa senang dengan pementasan di Kudus tersebut, yang menjadi penutup rangkaian tur. “Akhirnya setelah berbulan-bulan perjuangan, proses yang kami mulai sejak Oktober 2014 yang lalu kini berakhir dengan sukses,” kata Citra.

Hal serupa juga diungkapkan Dhanang, aktor yang memerankan sosok Lepot. “Setelah proses panjang yang penuh tantangan ini akhirnya saya bisa lepas dari sosok tua Pak Lepot, kembali muda lagi,” kata Dhanang yang saat itu masih belum membersihkan riasnya.

Seperti pementasan “Lepot dan Jumanis” sebelumnya, forum diskusi selalu diadakan seusai pentas. Selain sebagai forum apresiasi, forum diskusi tersebut juga sebagai forum pemahaman bagi penonton. Ada hubungan yang erat ketela dengan pasta gigi dan bahan-bahan industri lainya. Jika semula ketela adalah bahan alternatif pangan dan bahan makanan tradisional, kini industri-industri besar pun juga memperebutkan ketela sebagai bahan baku produknya. (elfi)

(Visited 21 times, 1 visits today)

About the author

elfi

elfi