ALL Seni Tradisional

Lestarikan Angklung, Kreativitas Anak Muda

Dok. Pribadi Salah satu penampilan komunitas angklung FEB UGM di Taman Budaya Yogakarta.

Salah satu penampilan komunitas angklung FEB UGM di Taman Budaya Yogakarta. (Hidayatmi)

Kita mengenal angklung sebagai salah satu alat musik tradisional asli Indonesia yang diwariskan oleh nenek moyang dari abad ke-17 di Jasinga, Bogor. Saat ini angklung tersebar di 17 provinsi di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Jenis-jenis angklung tersebut antara lain ada Angklung Bandeng dari Garut dan Angklung Dogdog Lonjor dari Sukabumi. Tak hanya di Indonesia, ternyata angklung telah lama terkenal di berbagai negara salah satunya Thailand. Bahkan, masyarakat di sana telah diperkenalkan dengan angklung sejak usia dini.

Yogya yang dikenal sebagai kota pendidikan tak luput dari perhatian dalam mengembangkan dan melestarikan budaya angklung. Meski tak sebanyak  sanggar-sanggar di Jawa Barat sebagai daerah asli pemilik angklung, komunitas angklung juga tumbuh berkembang di Yogyakarta.

Di Malioboro, terdapat berbagai komunitas angklung yang menunjukkan kebolehan dalam memainkan alat musik. Lagu-lagu yang dimainkan pun tidak hanya lagu-lagu daerah, namun juga mengikuti perkembangan tren,  seperti lagu Buka Sitik, Satu Jam Saja, Goyang Dumang dan lain sebagainya.

Di antara komunitas angklung tersebut adalah New Banesa. Komunitas yang tampil setiap malam ini memiliki anggota yang dapat dibilang masih muda yaitu sekitar 20-30-an tahun. Ejin salah satu pendiri komunitas mengatakan, “Selagi masih muda kita memanfaatkan waktu luang untuk melestarikan seni tradisional”.

Tak terlalu sulit mengajarkan anggotanya dalam memainkan angklung, karena menurut Ejin mereka memang telah mengenal angklung sejak kecil meski secara otodidak. Untuk alat musik angklung, dia dan teman-teman memilih untuk membuatnya sendiri. Ejin yang memang sudah memiliki pengalaman dibidang seni khususnya angklung sempat diundang dalam pagelaran budaya di Singapura 2014 silam. “Tapi kami tidak ambil, karena yang diundang individu bukan grup. Atas nama solidaritas, Mas Ejin menolaknya,” kata Singgih, salah satu anggota komunitas.

Gb 2. Selama masih muda kenapa tidak ikut melestarikan seni tradisional, ungkap Enji (Tengah). (Dok. pribadi)

“Selama masih muda, kenapa tidak ikut melestarikan seni tradisional,” kata Enji (tengah). (Dok. Hidayatmi)

Selain mereka, banyak komunitas angklung yang menghibur di perempatan-perempatan jalan Yogya. Di antaranya berada di Jalan Sudirman, yaitu perempatan toko buku Gramedia. Selain itu, di kalangan mahasiswa, angklung pun cukup menarik untuk dipelajari. Salah satunya adalah Nelsa, mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM, yang mengaku sempat belajar bermain angklung, “Saya pernah belajar main angklung, meski tidak terlalu mahir, angklung itu alat musik yang unik menurut saya”.

Pada 18 November 2010, angklung didaulat sebagai warisan budaya dunia tak benda (intangible cultural heritage) oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Hal ini tentunya membuat angklung semakin diminati oleh masyarakat Indonesia khususnya generasi muda.

Lana Nurani, salah satu anggota komunitas seni di UGM mengatakan dirinya optimistis akan perkembangan angklung di kalangan anak muda Yogyakarta. Menurutnya, dukungan dari pemerintah dengan mengadakan festival-festival seni yang mengundang partisipasi anak muda sangat bagus bagi perkembangan angklung.

About the author

Hidayatmi

Hidayatmi