ALL Seni Tradisional

Melestarikan Jathilan yang Mulai Punah

Mbah Jawawi beserta istri di samping ruang tamu kediamannya beserta peralatan pentas Jathilan (16 Maret 2015).
Fuad Rahardyan
Written by Fuad Rahardyan

Paguyuban Jathilan Krido Manunggal di Dusun Turen, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman merupakan upaya nyata masyarakat mempertahankan kesenian tradisional. Antusiasme terhadap budaya lokal yang semakin menurun membuat Yanto, ketua paguyuban, tak henti menggerakkan Jathilan.

 

Pak Yanto, di samping kediamannya, Turen, Ngaglik, Sleman (11 Maret 2015).

“Antusiasme terhadap jathilan sudah menurun. Anak-anak muda di sini ikut menari saja, tapi yang menggerakkan masih orang tua,” kata Yanto.

Yanto sudah memimpin paguyuban sejak awal didirikan, yakni 1980-an. “Dulu, namanya Turonggo Seto, lalu sebelum jadi Krido Manunggal bernama Catur Wargo. Saya sebagai koordinator di sini hanya ditunjuk. Mungkin saya wani tombok kalau ada apa-apa. Kalau tidak ada yang berani tombok tidak ada yang jalan. Kalau tidak ada pengorbanan tidak akan jalan,” kata Yanto.

Tempat tinggal yang berdampingan dengan lingkungan pondok pesantren membawa pro dan kontra bagi pergerakan Jathilan di Turen. “Saya bisa menempatkan diri, sewaktu di Jathilan semangatnya Jathilan. Kalau pengajian semangatnya pengajian, Begitu juga kalau ke masjid dan shalat. Ada orang yang tidak senang, tapi kalau tidak dilestarikan akan mati. Ada saja yang menghubungkan dengan agama, dikatakan syirik dan sebagainya. Padahal Jathilan digunakan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan Islam,” kata Yanto, yang pernah pergi haji.

Pentas Jathilan sendiri, sebut Yanto, sifatnya musiman. “Akhir-akhir ini melemah karena musim hujan. Musimnya ramai kan musim panas. Kami main kalau ada yang nanggap. Kalau ada panggilan dari Dinas Pariwisata kami akan bermain, paguyuban ini sudah resmi diakui oleh mereka,” kata Yanto.

Yanto mengatakan musik dan tarian Jathilan zaman sekarang tidak monoton seperti dulu. Instrumen musik Jathilan zaman dulu hanya menggunakan bende—gong berukuran kecil yang digantung—dan kendang saja. Saat ini, untuk musiknya sudah menggunakan drum, keyboard, maupun bass. Lagu yang dimainkan juga lagu-lagu baru, Campursari, dan dangdut. Tariannya pun saat ini kreasi semua.

“Sekali main biasanya tiga sampai empat babak. Dalam satu babak, penarinya bisa keluar enam hingga delapan dan penari perempuan akan bermain di salah satu babak. Terkadang, tiap babak diselingi gedruk––penari topeng. Yang membuat lama nanti sewaktu ada yang kesurupan. Sebenarnya sekarang sudah cukup aman karena sudah ada pawangnya, bahkan untuk penari perempuan menggunakan pawang perempuan. Durasi main keseluruhan kira-kira dari pukul sembilan pagi hingga maghrib,” kata Yanto.

Yanto merinci pembagian pendapatan hasil pentas. “Sekali main dapat tiga juta rupiah. Penari perempuan dari luar (kampung) mendapat upah masing-masing tiga puluh ribu rupiah, untuk ongkos transportasi. Penyanyi dari luar mendapat dua ratus ribu rupiah, dan untuk tata suara sebesar lima ratus ribu rupiah. Sedangkan, pemain asli paguyuban tidak dapat,” kata Yanto.

“Uang kas yang masuk hanya lima ratus ribu rupiah. Uang itu nantinya digunakan untuk perbaikan alat dan pembelian pakaian. Peralatan yang rusak harus dibawa ke bengkelnya,” kata Yanto.

Peralatan pentas sendiri disimpan di kediaman Mbah Jawawi, panggilan akrab ketua RT 02 Turen. “Sudah sejak awal disimpan di sini. Untuk perawatan biasanya cuma dibersihkan dengan lap,” kata Jawawi.

 

Mbah Jawawi beserta istri di samping ruang tamu kediamannya beserta peralatan pentas Jathilan (16 Maret 2015).

Mbah Jawawi, istri, dan peralatan Jathilan di rumah mereka pada 16 Maret 2015. (Fuad Noor Rahardyan)

Peralatan musik Jathilan berharga mahal. Harga seluruh peralatan mencapai 25 juta rupiah. Satu buah bende dan bende duduk yang berisi tiga mencapai 2,5 juta rupiah. Namun, drum dan organ belum termasuk.

Haryanto, seorang penari jaran yang juga ikut mengelola peralatan, mengatakan perawatan alat sudah jarang dilakukan. “Biasanya, properti jaran dibawa ke sungai kemudian dilap dengan air. Namun, sejak Januari belum pernah dibersihkan. Kalau dipakai rutin baru sering dibersihkan,” kata Haryanto.

Pada waktu-waktu tertentu, kata Haryanto, ada pengaruh makhluk halus pada peralatannya. “Tiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, peralatan pasti bergerak. Kuda yang abu-abu paling ganas, ditempatkan di lantai tidak mau. Kalau menjelang pentas saja tak pakani (diberi sesaji) kembang dan minyak. Saron juga kadang bunyi sendiri karena ditempatkan di lantai. Dulu sempat digantung tapi sekarang dibiarkan saja,” kata Haryanto.

About the author

Fuad Rahardyan

Fuad Rahardyan