ALL Media Cetak

Mengais Rejeki dari Penjualan Koran yang Menurun

Syahrul mengendarai sepeda motornya dari daerah Gejayan untuk berjualan setiap hari di Perempatan Tugu Jogja dari pukul 06:00 hingga 14:00.
Syahrul mengendarai sepeda motornya dari daerah Gejayan untuk berjualan setiap hari di Perempatan Tugu Jogja dari pukul 06:00 hingga 14:00.
abiyoganantya
Written by abiyoganantya
Pak Syahrul mengendarai sepeda motornya dari daerah Gejayan untuk berjualan setiap hari di Perempatan Tugu Jogja dari jam 06.00-14.00.

Syahrul selalu berjualan setiap hari di Perempatan Tugu dari pukul 06:00 hingga 14:00.

Oplah surat kabar yang menurun secara nasional bisa dilihat dari penjualan koran secara eceran di Yogyakarta. Penurunan itu menjadi masalah besar bagi para pengasong koran seperti Syahrul, Lukas, dan Setiawan, yang mengandalkan hidup mereka pada penjualan koran di jalanan Yogyakarta.

Syahrul (50) terlihat masih bersemangat menjajakan surat kabar dagangannya di tengah terik matahari Perempatan Tugu , Minggu (15/3). Lelaki yang selalu memakai topi itu mengaku sudah berjualan hampir tujuh jam lamanya. Keringatnya terlihat mulai bercucuran karena terlalu sibuk mondar-mandir dari satu kaca ke kaca mobil lainnya demi menjual beberapa surat kabar yang masih tersisa.

”Belum laku semua ini,” kata Syahrul sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang dibawanya. Dia mengaku menjadi seorang pengasong surat kabar memang tidak mudah karena penghasilan yang diterimanya pas-pasan. Hal itu menjadi lebih sulit saat ini karena ia tahu bahwa korannya harus bersaing dengan media online yang kini semakin populer.

“Dulu bisa menjual hingga 100 eksemplar per hari, tapi sekarang cuma bisa 60-an lembaran saja,” kata Syahrul. Jika beruntung, dagangan yang laku bisa mencapai 85 eksemplar.

Untuk setiap koran yang laku, ia memperoleh Rp 500,00 dari perusahaan surat kabar. Namun jika setiap harinya mampu menjual 50 surat kabar dalam sebulan, maka ia akan mendapat bonus Rp 350,00 per eksemplar.

loading...

Kisah Syahrul juga dialami Lukas (13) dan Setiawan (10), kakak-beradik yang terpaksa menjadi seorang pengasong surat kabar. Mereka berjualan setiap hari di Pertigaan Taman Siswa demi membantu keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ditemui, Senin (16/3), Lukas dan Setiawan masih sibuk menjajakan surat kabar di tengah jalan. Mereka menggendong surat kabar dan terus mondar-mandir karena masih memiliki tanggungan dua tumpuk surat kabar di pinggir jalan yang terlihat rapi ditali. Lukas mengaku harus meninggalkan sekolah karena keluarganya tidak mampu membiayainya sekolah. “Saya tidak sekolah. Ini juga untuk bantu-bantu keluarga. Saya sendiri lima bersaudara, semuanya juga jualan” ujar si kakak, Lukas. Lukas berpendapat tidak masalah untuk tidak sekolah asalkan kebutuhan sehari-hari keluarga mereka tercukupi.

IMG_20150318_094240_1[1]

Setiawan (bertopi) mengaku mendapakan dagangan dari ayahnya yang mengambil langsung di kantor surat kabar pada pukul 05:00

Yani, salah seorang pembeli yang ditemui di pertigaan Taman Siswa, mengaku bahwa sebenarnya tidak ada niat untuk membaca surat kabar yang dijajakan Lukas dan Setiawan, namun hanya untuk membantu mereka saja. “Saya kasihan kalau melihat mereka, maka saya menyempatkan diri untuk membeli dagangan mereka,” ujar Yani.

Yani sebenarnya kurang setuju dengan situasi yang dialami oleh Lukas dan Setiawan yang harus bekerja walaupun sebenarnya bukan kewajiban mereka. Dia menyayangkan jika di usia sekolah, keduanya malah terjun ke jalan untuk membantu kehidupan keluarga.

loading...

About the author

abiyoganantya

abiyoganantya