ALL

Mengulas Sepakbola Indonesia di Fisipol UGM

Diskusi sepakbola nasional pada Kamis (28/5) di Fisipol UGM.
nathasha
Written by nathasha

Diskusi “Menilik Masa Depan Persepakbolaan Nasional” yang digelar Forum Olahraga Fisipol (28/5) di Fisipol UGM membahas kondisi sepakbola tanah air terkini, termasuk nasib pemain sepakbola di Indonesia.

Dihadiri oleh tiga pembicara yang mengerti seluk beluk sejarah sepakbola Indonesia, terutama PSSI, diskusi ini menarik perhatian mahasiswa dan khalayak umum. Tiga pembicara tersebut Sirajudin Hasbi, salah satu pendiri Football Fandom Indonesia, Guntur Oetomo, mantan pelatih mental timnas U-19, dan Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi UMY yang juga merupakan pengamat sepakbola dan penulis buku “Bonek: Komunitas Supporter, Pertama dan Terbesar di Indonesia”.

 

Ada sejumlah permasalahan yang ditemui dalam persepakbolaan Indonesia yang dibahas dalam diskusi tersebut. Tahun 2014 lalu, tim nasional Indonesia untuk pertama kalinya tersingkir dari Piala AFF dalam dua edisi secara beruntun. Hal tersebut hanyalah lanjutan dari kekacauan sepakbola. Dalam laga babak 8 besar Divisi Utama, masyarakat dikagetkan oleh insiden sepak bola gajah yang melibatkan PSS Sleman dan PSIS Semarang. Dua tim itu berlomba mencetak lima gol bunuh diri.

Sepak bola gajah hanya puncak sementara dari masalah sepak bola nasional yang selama ini dikelola PSSI. Fakta bahwa tim nasional kita miskin gelar dan kompetisi kita penuh cacat adalah cerminan dari tidak becusnya PSSI. Akibat parahnya permasalahan di tubuh PSSI, intervensi pemerintah harus ada. Dari sinilah awal dibekukannya PSSI oleh Menpora. Pemerintah harus membekukan kepengurusan PSSI saat ini dan mengambil alih organisasi sembari melakukan penataan ulang.

Sanksi FIFA itu tak akan terjadi selamanya. Justru, pengasingan dari dunia internasional tersebut sesungguhnya bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki sepak bola nasional. Beberapa negara sudah merasakan efeknya, seperti Brunei Darussalam dan Bosnia Herzegovina yang mampu berbenah setelah dikenai sanksi FIFA pada 2009 dan 2011. Bosnia lolos ke Piala Dunia 2014 dan Brunei yang tadinya sering kita bantai bisa menang dua kali atas Indonesia (2012 dan 2014).

Nasib pemain yang lolos masuk ke dalam tim profesional pun ternyata belum tentu sejahtera. Ditemui di gerai atribut sepakbola miliknya di Seturan (14/5), Anang Hadi, kapten tim senior PSS Sleman, menuturkan bahwa gaji para pemain di PSS saja sudah tertunda selama lima bulan.

Keadaan tersebut juga didukung oleh keterangan dari Guntur Utomo, mantan pelatih mental Timnas U-19. Dalam diskusi di Fisipol UGM, Guntur menjelaskan bahwa sepakbola di Indonesia memang kacau apabila dilihat dari kepengurusan PSSI, jatuhnya sanksi oleh FIFA, sepakbola gajah, dan masalah gaji pemain. Gaji pemain yang suatu saat akan nunggak sudah ditutupi oleh klub atau timnas dengan cara memberikan modal bagi para pemainnya untuk berwirausaha.

Sirajudin Hasbi menjadi pembicara dalam diskusi sepakbola di Fisipol UGM.

 Sirajudin Hasbi menjadi salah satu pembicara dalam diskusi sepakbola di Fisipol UGM.

Selain itu ada pula permasalahan pemain Timnas U-19, yang melibatkan usia krusial pemain. Mereka harus memutuskan untuk tetap berkarier di tanah air atau berkarier di bidang lain. “Sepakbola Indonesia tidak menjamin bahwa jika ada pemain yang gagal ia bisa berkarier di pekerjaan yang lain,” ujar Sirajudin Hasbi.

Masalah lain yang cukup krusial adalah peningkatan kualitas pelatih dan teknis pelatihannya. Hal ini juga menentukan kualitas dan pematangan pemain. Beberapa tahun ini, sekolah sepakbola bertaraf internasional yang ada di Indonesia cukup marak. Dengan bayaran yang mahal, banyak pelatih berlisensi yang lebih memilih bekerja di sana dengan alasan keamanan dan kenyamanan. Sayangnya, sistem yang ada di Indonesia malah mendukung keadaan sekolah sepakbola sebagai taman bermain anak-anak.

About the author

nathasha

nathasha

Banyak prioritas dan (entah mengapa) tertarik dengan kata "media"