ALL Media Radio

Menjadi Penyiar Menurut Lusy Laksita

Lusy laksita 2
Mida
Written by Mida

Menjadi penyiar yang baik adalah menjadi sahabat bagi pendengar radio, demikian keyakinan Lusy Laksita, penyiar radio sukses yang telah membuktikan bahwa profesi ini bisa membuka jalan ke banyak hal lain.

Berawal dari penyiar, dirinya mampu mengembangkan sayapnya hingga selebar saat ini. Menjadi penyiar radio memberikannya kesempatan untuk menjadi seorang penyiar di TVRI Yogyakarta. Seiring dengan itu, ia juga telah berkarir sebagai MC profesional, public speaker, trainer dan juga motivator di usia yang muda.

Di industri radio, ia telah memegang jabatan direktur program Radio Geronimo di usianya yang ke 26. Berkat keuletan dan kegigihannya, ia terus menerus diberi kepercayaan untuk memegang jabatan penting di radio-radio ternama, dengan pernah menjadi manajer pemasaran, station manager, dan general manager untuk Female Radio Jogja dan Prambors Jogja Radio. Saat ini ia memegang jabatan station manager untuk radio Ardia FM Yogyakarta.

Menurut Lusy, penyiar radio adalah profesi yang menjanjikan, tapi ini bergantung bagaimana penyiar pemula menyikapinya. Banyak yang menjadikan penyiar hanya sebagai pekerjaan sampingan. Bagi yang serius menekuni dunia penyiar, pekerjaan itu dapat menjadi batu loncatan untuk ke depannya. Ketika penyiar pemula menemukan dunianya pada pekerjaannya, tidak ada salahnya untuk tetap bertahan di sana. Justru dengan bertahan, kelak dirinya akan diuntungkan.

Untuk menjadi penyiar sukses seperti dirinya, Lusy Laksita memiliki idealisme yang terus dipegangnya. Menjadi seorang penyiar harus berpegang pada tiga hal, yakni karakteristik diri, konsistensi, dan komitmen. Penyiar harus memiliki karakter sendiri, jangan sampai meniru karakter penyiar lain. Karakte lah yang akan terus melekat pada diri penyiar. Ketika pendengar mendengarkan suaranya, pendengar langsung mengetahui siapa identitas penyiar. Begitulah karakter terbentuk melalui air personality.

loading...

Kemudian, jika ingin serius menekuni dunia penyiar, ia haris konsisten pada pekerjaan penyiar. Banyak keinginan di luar pekerjaan ini justru akan menghambat karier. Jika sudah konsisten, muncul komitmen pada diri penyiar. Pekerjaan sebagai penyiar jauh lebih menantang komitmen diri daripada pekerjaan lain.

“Ketika orang-orang masih terlelap dengan tidurnya, penyiar sudah harus bersiap diri untuk siaran. Ketika orang-orang hendak beristirahat, penyiar masih harus bekerja dan menjadi teman tidur mereka. Di situlah komitmen penyiar harus kuat, jangan pernah mengeluh,” ujar Lusy Laksita.

“Menjadi penyiar jangan asal siaran. Siaranlah dengan rasa,” kata Lusy. Tugas penyiar bukan hanya memutarkan lagu di radio, namun menjadi sahabat yang setia melayani pendengarnya. Penting bagi penyiar untuk bisa mengolah rasa, kecerdasan, dan suara dengan baik. Membangun perasaan dari hari itu perlu, sehingga hubungan dengan pendengar dapat terjalin dengan baik. Otak penyiar pun harus cerdas, jangan sampai tidak paham dengan musik-musik yang ia putarkan. Setelah itu baru suara diperhatikan karena suara penyiar dapat dibentuk dan dilatih, pesan Lusy.

Mencintai dunia radio dan profesi penyiar radio membuat Lusy tergerak untuk melakukan pengabdian pada masyarakat atas profesinya. Pada 2007 ia mendirikan Lusy Laksita Partner in Comm., yakni lembaga pelatihan MC, public speaking, marketing, dan public relation. Karena ingin menyalurkan ilmu dari profesi yang telah ia jalani selama ini, maka pada tahun 2010 Lusy memutuskan untuk mendirikan Lusy Laksita Broadcasting School. Ini sebuah lembaga kursus komunikasi untuk membentuk broadcaster radio dan televisi andal.

loading...

About the author

Mida

Mida