ALL Pendidikan

Menjaga Kualitas Sekolah Rumah

Dikpora Yogyakarta
liapram
Written by liapram

Sistem pendidikan sekolah rumah atau homeschooling dibangun salah satunya karena berbagai kelemahan dalam pendidikan formal. Namun, selama ini, sekolah rumah di Yogyakarta masih jauh dari model pendidikan mandiri yang berkualitas. Penyimpangan yang terjadi antara lain proses belajar yang terlalu mengakomodasi keinginan anak dan ujian kesetaraan yang tidak jujur.

Cara belajar murid sekolah rumah yang berbeda dari murid sekolah formal memang membawa banyak keuntungan bagi siswa, salah satunya siswa tidak dibebani dengan banyak sekali pelajaran. Namun, kadang proses itu terlalu fleksibel, dengan para tutor cenderung mengikuti ritme belajar atau mood anak sehingga kegiatan belajar menjadi sangat santai.

“Ada yang kalau saya datang anaknya baru bangun. ‘Aku sarapan dulu, ya, Bu. Aku mandi dulu, ya, Bu.’ Ya sudah. Ya, suka-suka dia saja,” kata Shendy Amalia,  tutor Cendekia Homeschooling.

Shendy juga mengungkapkan bahwa durasi belajar anak-anak sekolah rumah rata-rata menghabiskan waktu tiga jam, itu pun sudah termasuk makan, mandi, dan bermain.

Hal tersebut juga berpengaruh pada mental anak dalam menghadapi beban tugas dan ujian. “Anak-anak homeschooling tidak mau kalau dikasih PR. Saya biasanya memberikan PR yang ‘canggih’, seperti  saya suruh ke pasar untuk melakukan pengamatan, nanti fotonya dimasukkan ke Instagram,” tutur Shendy.

Walaupun terdengar menyenangkan, bila mood anak untuk belajar mulai menurun, akan sulit membujuk anak tersebut untuk mengikuti ujian.

Sistem pembelajaran seperti itulah yang kemudian diduga kuat menjadi salah satu penyebab mengapa banyak masyarakat yang memandang kemampuan anak-anak sekolah rumah dengan sebelah mata.

Shendy Amalia menambahkan, “Anak-anak homeschooling biasanya mulai kerja keras ketika menghadapi detik-detik menjelang ujian nasional (UN). Ada pressure tersendiri bagi mereka, sebab selama ini mereka terbiasa belajar dengan cara yang santai.”

Hal yang juga dikritik Shendy adalah sering terjadinya pembagian kunci jawaban ketika ujian kesetaraan berlangsung. Shendy mengungkapkan bahwa pihak yang biasanya memberi bocoran justru pengawas ujian, terutama jika mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika.

Shendy pun menilai hal itu merupakan pembelajaran buruk bagi anak. “Nanti dia akan berpikir, ‘Oh, ternyata mendapatkan segala sesuatu itu mudah, ya.’ Nah, besok kalau dia sudah bekerja juga begitu, ‘Oh… enak, ya, korupsi itu,’” katanya.

loading...

Sekolah rumah sudah mendapat standar nasional di Indonesia sebagai sekolah informal. Siswanya bisa melanjutkan pendidikannya di berbagai macam universitas di Indonesia karena mereka menempuh ujian nasional Paket C.

Pelaksanaan ujian kesetaraan itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 117. Untuk kurikulumnya, (lembaga) pendidikan sekolah rumah biasanya menyesuaikan dengan kurikulum pemerintah.

Salah satu kisah sukses siswa sekolah rumah dalam menghadapi ujian kesetaraan dan ujian masuk universitas adalah Olivia Roselin Wiguna, mantan murid Homeschooling Primagama.

Ia berhasil melalui ujian kesetaraan dan diterima menjadi mahasiswi Pendidikan Dokter UGM 2013.

“Saya mengikuti pendidikan di homeschooling selama setahun penuh dan akhirnya ikut ujian Paket C. Selama itu saya mengejar seluruh materi kelas XI dan XII dalam waktu bersamaan,” kata Olivia.

“Kemarin juga ada anak sekolah rumah yang berhasil masuk Psikologi UGM. Mereka itu sebenarnya bisa. Anak-anak sekolah rumah itu ‘ajaib’. Walaupun ada yang belajarnya sambil ngobrol tidak jelas, sambil main ular tangga, setelah itu baru masuk lagi ke pelajaran. Jadi memang harus menjaga mood-nya si anak agar tetap mau belajar,” kata Shendy.

Helly Angkasa Sujatmoko, Pemantau Mutu Pendidikan Sekolah Kesetaraan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Yogyakarta. (Sumber: Dikpora Smart Office)

Helly Angkasa Sujatmoko, Pemantau Mutu Pendidikan Sekolah Kesetaraan Dikpora Yogyakarta.
(Sumber: Dikpora Smart Office)

Di sisi lain, pemerintah juga telah berupaya menjaga kualitas peserta didik sekolah rumah. Menurut Helly Angkasa Sujatmoko, Pemantau Mutu Pendidikan Sekolah Kesetaraan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Yogyakarta, pembuktian hasil belajar sekolah rumah dilakukan melalui penilaian oleh pendidik, satuan pendidikan nonformal, dan/atau penilaian oleh pemerintah.

Helly mengatakan, “Lembaga satuan pendidikan nonformal juga harus mengikuti akreditasi lembaga dan program yang diselenggarakan oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas). Ini sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap peserta didik.”

loading...

About the author

liapram

liapram

Amalia Pramestiarini
13/345968/SP/25588