ALL

Ndadi dalam Jathilan, Keterlibatan Makhluk Halus

Pawang jathilan sedang membangunkan penari jaran yang kerasukan supaya ikut menari, 18 April 2015. (Fuad Noor Rahardyan)
Fuad Rahardyan
Written by Fuad Rahardyan

Jathilan adalah salah satu seni yang pentasnya melibatkan makhluk halus, yakni saat ndadi atau ketika penari jaran dirasuki makhluk halus dan menari sesuai irama musik. Keterlibatan makhluk halus pun harus dipersiapkan secara matang, termasuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Budi, seorang penari jaran Paguyuban Jathilan Krido Manunggal, mengatakan adanya ritual yang dilakukan penari sebelum pentas. “Beberapa hari menjelang pentas, penari dibukakan auranya oleh pawang dengan ditanyai nama lengkap dan dibacakan doa-doa. Hal tersebut bertujuan agar nantinya dikenali dan mudah dirasuki. Kami diperintahkan untuk tenang dan memfokuskan pikiran. Terkadang, ada yang sudah dibuka auranya tetapi gagal dirasuki karena belum sepenuhnya menekan ego,” kata Budi.

“Pawang pun akan membantu memilih makhluk halus yang akan merasuki. Terkadang, ada yang hanya memanggil langganan (bawaan dari kecil yang merasuki) hingga mencari ke sungai dan mengajaknya. Setiap akan bermain, makhluk yang merasukinya bisa berbeda. Tataran makhluk halus yang merasuki dapat berupa tiga wujud. Pertama, jelmaan yang berupa buto. Kedua, hewan buas yang dapat berupa macan dan ular. Terakhir, yang paling sulit keluar, berupa manusia, kyai, atau penari,” kata Budi.

Yatno, pawang Jathilan asal Turen, menjelaskan hal yang harus dipersiapkan oleh pawang sebelum pentas. “Sebelum pementasan, kami membeli jajanan pasar dan buah-buahan untuk pemain, penonton, dan makhluk halus yang berada di sekitar arena permainan. Tujuannya agar tidak ada yang merasa terganggu dengan diadakannya pementasan,” kata Yatno.

Dalam pementasan Jathilan, penari topeng (gedruk) menandai akan dimulainya tahap ndadi. Setelah tarian selesai, penari jaran berkumpul mengelilingi pawang sebelum masing-masing dimasukkan makhluk halus. Setelah kerasukan, penari jaran tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa pawang, penjaga, hingga penonton dapat kesambet di tengah-tengah ndadi itu.

Wanto, seorang penari topeng Paguyuban Jathilan Krido Manunggal, menjelaskan bahwa penari topeng juga dapat kerasukan. “Kalau auranya sudah terbuka, makhluk halus bisa masuk. Ditambah lagi, topeng yang digunakan juga diisi makhluk halus. Namun, secara prosesi, hadirnya penari gedruk tidak untuk mengundang makhluk halus. Suara krincing hanya bertujuan untuk meramaikan suasana,” kata Wanto.

Budi, yang sudah bermain Jathilan sejak SD, menerangkan bahwa penari yang kemasukan akan meminta sesajen kepada pawang. “Saat ndadi, badan sepenuhnya digerakkan oleh makhluk halus. Biasanya, yang diminta adalah kembang tujuh rupa, cempaka, dupa yang sudah dinyalakan, air kelapa, dan beling. Untuk yang lain-lain terserah yang merasukinya,” kata Budi.

“Herannya, dari dulu tidak pernah mengalami masalah setelah makan beling. Paling hanya mulut merasakan pahit. Mungkin makhluk halusnya yang memakan itu. Kalau dipecut juga tidak terasa. Terkadang setelah bermain ada rasa sakit seperti habis disabet sesuatu dan panas,” kata Budi.

Haryanto, juga penari jaran Krido Manunggal, menceritakan bagaimana rasanya ketika dirasuki. “Saat itu, pikiran sudah kosong. Sebelumnya hanya ingat ada pawang lalu tidak ingat apa-apa lagi. Ketika makhluk halus sudah dikeluarkan, rasanya sangat lemas. Tapi, saya sama sekali tidak ada rasa takut,” kata Haryanto.

Budi menjelaskan soal tahap dikeluarkannya makhluk halus dalam badan penari. “Keluarnya makhluk halus berdasarkan permintaannya masing-masing. Kalau tidak dituruti kemauannya, akan susah keluar. Setelah keluar, penari tidak perlu dibacakan doa-doa lagi oleh pawangnya,” kata Budi.

“Terkadang, masih ada saja makhluk halus yang menempel setelah permainan selesai. Rasanya seperti ada anggota tubuh yang sulit digerakkan, atau bisa juga sulit didiamkan karena bergetar terus-menerus. Kalau yang dirasuki kuat, makhluk halus tersebut bisa ia keluarkan sendiri. Selain itu, terlihat juga ciri-ciri yang masih ketempelan, contohnya saat dipanggil tidak menyahut dan bengong dengan tatapan kosong,” kata Budi.

Sinergi antara manusia dan makhluk halus merupakan daya tarik utama dari pementasan Jathilan. Tidak hanya itu, ada juga yang percaya bahwa prosesi ndadi dapat menjadi sarana penyembuhan. Makhluk halus yang keluar setelah ndadi turut membawa keluar penyakit yang diderita oleh penari. Hanya saja, sang penari tidak akan sadar akan hal tersebut.

About the author

Fuad Rahardyan

Fuad Rahardyan

  • Marselina

    Hallo selamat siang, saya marselina https://uploads.disquscdn.com/images/243ba304a64d54d67b74ad67d6ecc547cf754d37b1d9dfa77c884ee6fb42b26b.jpg saya sebenarnya dari kecil ada bakat menari cuman baru bisa tersalur saat klas 2SmK itu saja saya mengikuti reog pakem bareng orang tua2 🙂 , kemudian saya dipanggil ke desa untuk ikut festival kab. Dan sampai lukus sekolah saya masih menari baik sanggar maupun jathilan, nah yang perlu saya tanyakan, setiap saya nari jathilan saya tidak pernah bisa kerasukan/ndadi, padahal jiwa/ hati ketika mau main denger suara kendang aja udah greget, kata teman saya katanya pikiran harus kosong saya sudah mencoba tapi nihil, sekarang saya gak menari lagi karena merantau, tapi masih sering denger musik jathilan seakan2 saya ingin ingin ato punya greget pgen kerasukkan/ndadi kalo denger suara kendang, tapi gak bisa cuman bikin emosii sama hati dongkol, mohhon tanggapannya ya bloggers terimakasih.. https://uploads.disquscdn.com/images/243ba304a64d54d67b74ad67d6ecc547cf754d37b1d9dfa77c884ee6fb42b26b.jpg