ALL Lingkungan

Pembangunan Ruang Terbuka Hijau di Yogyakarta

Taman kota Abu Bakar Ali, salah satu ruang terbuka hijau di pusat kota yang dibuat oleh Badan Lingkungan Hidup.
Taman kota Abu Bakar Ali, salah satu ruang terbuka hijau di pusat kota yang dibuat oleh Badan Lingkungan Hidup.
Wita
Written by Wita

Salah satu andalan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menjaga lingkungan adalah pengadaan ruang terbuka hijau. Hingga 2014, Kota Yogyakarta telah memiliki 35 lokasi RTH di 14 kecamatan, dan akan terus menambah RTH di setiap kelurahan yang belum memiliki.

Irfan Susilo. SH, Kepala Badan Lingkungan Hidup, mengatakan, “Proporsi ruang terbuka hijau di perkotaan minimal 30%. Kota Yogyakarta telah melebihi proporsi tersebut, yakni sekitar 32%. Angka ini terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau pribadi.”

Ruang terbuka hijau publik di Kota Yogya merupakan taman kota interaktif yang berada di setiap kelurahan. Taman interaktif ini berfungsi untuk warga yang ingin belajar, tempat anak-anak bermain, hingga tampat untuk berkumpul warga. Di setiap taman interaktif itu juga ada layanan wi-fi yang disediakan oleh Telkomsel.

Saat ini, masih ada beberapa kelurahan yang belum memiliki ruang terbuka hijau. Jika semua kelurahan telah selesai, rencananya pemkot akan melakukan pengadaan ruang terbuka hijau di setiap kampung. “Pengadaan tanah disediakan oleh pemda dan BLH akan membangun ruang terbuka hijau tersebut,” kata Irfan.

Dengan luas wilayah hanya 32,5 km2, pemerintah harus upaya semaksimal mungkin dalam pengadaan ruang terbuka hijau baik di pusat kota maupun setiap kelurahan.

“Memiliki luas yang sempit menjadi salah satu masalah pengadaan ruang terbuka hijau di Yogya. Tidak seperti di kota besar yang memiliki taman interaktif khusus, Yogya hanya bisa mengoptimalkan ruang terbuka hijau di setiap kelurahan. Di pusat kota, ruang terbuka hijau berada di Abu Bakar Ali, Gejayan, Malioboro, sedangkan di kelurahan salah satunya Brontokusuman,” kata Irfan.

Menurut Irfan, peran masyarakat berpengaruh pada pencapaian proposi ruang terbuka hijau di Kota Yogya. “Pemerintah dan masyarakat saling berkomunikasi mulai dari pengadaan lahan hingga perencanaan konsep RTH. Perpaduan ide dan keinginan pemkot dan warga menjadi penting dalam kesepakatan membangun RTH. Hal tersebut dilakukan sebab setelah di bangunnya RTH di kelurahan, warga akan melakukan pemeliharaannya.”

loading...
RTHP Brontokusuman yang diresmikan oleh Walikota Yogyakarta memiliki banyak fungsi untuk warga

RTHP Brontokusuman yang diresmikan oleh Walikota Yogyakarta memiliki banyak fungsi untuk warga

Suhardi, Ketua RT 15/ RW 05 Kelurahan Brontokusuman, pada Rabu (13/5) mengatakan, “Ruang terbuka hijau publik Brontokusuman yang dibangun pada 2014 digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melakukan berbagai macam kegiatan warga. Selain itu pemkot juga membangun sebuah TK yang berfungsi sebagai kegiatan belajar mengajar anak-anak.”
Bangunan tersebut tidak hanya digunakan sebagai TK, tetapi digunakan untuk kegiatan lain seperti tempat posyandu, pemilihan ketua RT, dan kepentingan lainnya.

Selama pembangunan RTHP, Suhardi mengatakan tidak ada warga sekitar yang menolak, melainkan warga sangat mendukung dengan pembangunan RTHP di sekitar rumah mereka.

“RTHP Brontokusuman dikelola oleh beberapa orang termasuk saya. Akan tetapi yang banyak berpartisipasi adalah Bowo,  salah satu warga di kelurahan ini,” ujar Suhardi.

Suhardi menjelaskan, biaya pembangunan dan pengelolaan RTHP berasal dari Pemkot. Sebelum melakukan pembangunan, Pemkot telah melakukan sosialisasi rancangan pembangunan RTHP. Pemkot juga melakukan beberapa perbaikan infrastruktur, di antaranya pavling blok, cor blok jalan permukiman, pembuatan sumur resapan dan drainase. Total biaya tersebut mencapai Rp 481.771.000,-, sedangkan untuk pengelolaan RTHP setiap bulan pemkot memberikan Rp 250.000.

Tidak hanya pembangunan RTH di kelurahan, Badan Lingkungan Hidup juga melakukan pengadaan jalur hijau di pinggir jalan Kota Yogya.

“Ini merupakan upaya lain BLH dalam pengadaan ruang terbuka hijau. Kami melakukan penanaman pohon seperti pohon sawo, tanjung, dan sebagainya sesuai dengan peraturan menteri pekerjaan umum,” kata Indiyah, Ketua Bidang Keindahan Badan Lingkungan Hidup.

loading...

About the author

Wita

Wita