ALL Klub Sepakbola

Pembububaran PSIM, Kekecewaan Berbagai Kalangan

Muhammad Zulfikar

Matahari sudah nampak  jauh di ufuk barat dan sinar kemerahan menyinari langit Yogya sore itu (12/5). Wisma dan sekretariat klub PSIM Yogyakarta mendadak sedikit tertutup, tidak sembarangan orang bisa mendapatkan akses masuk. Saat itu Agung Damar Kusumandaru sebagai Ketua Umum dan Manajer Klub sedang memimpin pertemuan manajemen dan beberapa pihak luar. Jajaran manajemen terlihat pasrah dengan keputusan yang tidak menguntungkan untuk pihak klub.

“Berdasar pertemuan manajemen, karena tidak memungkinkan untuk diteruskan lagi, tim ini resmi dibubarkan. Tentang para staf dan pemain, akan kami kabarkan saat rapat pleno (13/5),” ungkap Agung Damar di Wisma PSIM.

Akhirnya PSIM menyusul Persiba Bantul dan PSS Sleman yang telah terlebih dahulu membubarkan diri. Berita pembubaran klub tersebut memang sangat disayangkan banyak pihak. Salah satunya oleh Pelatih Kepala Seto Nurdiyantara., Pemberitahuan dari pihak manajemen itu membuatnya sedih. Namun Seto tetap siap menjalankan apa pun instruksi manajemen sesuai kapasitasnya sebagai pelatih.

“Jika tim dibubarkan saya akan menerima karena memang sudah jadi keputusan dari pihak manajemen. Namun jiwa raga saya tetap PSIM, semoga keputusan ini menjadi yang terbaik untuk klub,” ungkap Seto.

Seto legawa dengan keputusan manajemen yang tak membayar gajinya dan pemain untuk bulan Mei ini. Situasi sepak bola di tanah air yang tak stabil membuatnya memahami keputusan manajemen itu. Seto melihat bahwa manajemen PSIM dihadapkan pada kondisi sulit. Kisruh sepak bola di level pusat memang membuat manajemen tak bisa berkutik.

“Kalau kecewa jelas ada, tapi kondisinya memang serba sulit. Jadi coba saya pahami,” ungkap Seto.

Senada dengan apa yang disampaikan Seto, sang kapten dan tulang punggung tim Topas Pamungkas juga menyesalkan hal tersebut. Banyak pemain yang kecewa tidak bisa mendapatkan gaji seperti yang dijanjikan. Sebagian besar pemain yang berasal dari luar daerah memilih untuk pulang ke kampung halaman daripada menganggur di Yogyakarta.

“Untuk menyambung hidup, saya berniat untuk memulai wirausaha dengan uang tabungan saya. Semoga bisa memberikan pemasukan yang jelas,” ungkap Topas.

Saat ini PSIM masih memiliki tanggung jawab memenuhi gaji pemain Agung Damar menyebut bahwa klub akan tetap menggaji pemain. Namun akan ada sedikit penyesuaian atau rasionalisasi, tentu karena keadaan finansial klub tidak bagus.

Tidak adanya kompetisi membuat tidak ada pemasukan yang berarti bagi PSIM Yogyakarta. Pemasukan tiket yang selama ini diandalkan menjadi berhenti dan hanya mengalir jika PSIM  melakukan laga uji coba.

“Gaji akan kami penuhi namun ada rasionalisasi, tidak mungkin kami memberikan secara penuh karena keterbatasan finansial yang dialami klub, ” ungkap Agung Damar.

Kekecewaan juga disampaikan oleh salah satu Calon Presiden Brajamusti Zana Rolly Afgan, yang ditemui di kediamannya. Rolly sangat menyayangkan hal tersebut, karena untuk musim ini jumlah keanggotaan Brajamusti meningkat drastis dan memiliki semangat yang sangat besar untuk mendukung tim kesayangan.

“Kami siap melakukan apa pun untuk selalu mendukung PSIM Jogja, semoga musim depan liga bisa lebih jelas dan menguntungkan untuk klub-klub seperti PSIM,” ungkap Rolly.

About the author

Muhammad Zulfikar

Muhammad Zulfikar

Ilmu Komunikasi UGM 2013