ALL Iklan Luar Ruang

Perang ala Yogya: Melawan Teror Visual

laksamanashan
Written by laksamanashan

Sepanjang satu dasawarsa terakhir, wajah Yogyakarta menjadi semrawut dengan media iklan luar-ruang, yakni reklame di pinggir, pojok, maupun tengah jalan. Reresik Sampah Visual adalah suatu gerakan sosial yang peduli dengan wajah ruang publik  akibat sampah visua tersebut. Mereka melakukan berbagai kegiatan seperti mencabuti spanduk hingga diskusi dan kampanye.

Sebagai sebuah gerakan, Reresik Sampah Visual dimulai sejak Juli, 2012. Saat itu mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta akan menggelar bakti sosial. Sumbo Tinarbuko, dosen pengajar di institut tersebut, menawarkan gagasan segar dan unik berupa aksi mencabuti sampah-sampah visual yang tertengara telah menampar wajah anggun kota ini. Gagasan sang dosen bersambut hingga terbentuklah sebuah komunitas Reresik Sampah Visual.

Sumbo bersama komunitasnya bergerak tidak populer dan mengambil langkah berani yakni mencabuti reklame dan media iklan yang berizin pemasangan maupun yang liar tanpa izin di kawasan seputar kampus ISI, Yogyakarta. Gebrakan pertama gerakan pencabutan reklame bertara sampah visual itu  terkumpul sampai bervolume dua mobil pikap. “Dan semua sampah tersebut kemudian kami bakar,” kata penulis buku “Semiotika Komunikasi Visual” itu.

Reklame-reklame tersebut, dari sudut desain menurut Sumbo, menumpulkan kreativitas karena bentuk dan isinya hampir sama. Selain itu, pemasangannya juga mengusik kenyamanan publik. Sumbo bertambah jengah, pemasangan reklame telah menjarah dan berekspansi di sudut-sudut tersisa seperti batang pohon, tiang listrik, lampu jalan, dan rambu lalu lintas. “Ini sudah menjadi teror visual,” kata Sumbo.

Sebagai gerakan unik, Reresik Sampah Visual mengajak berbagai pihak untuk membangun kesadaran bersama dan aktualisasi revolusi mental. Dalam hal ini mengedukasi warga masyarakat agar melek atas polusi sampah visual yang merebak parah di ruang publik. Aksi revolusi mental mencakup tindakan nyata membersihkan lingkungan dan sekitar tempat tinggal warga dari ekspansi sampah visual. Selama ini kebanyakan orang menganggap pemasangan media-media iklan luar-ruang bagai wajar saja. Pemerintah juga menyerapnya sebagai kesempatan besar meraup pajak.

Akan tetapi seorang Sumbo sebagai pengkaji desain komunikasi visual, merasa kecipratan “dosa’” karena sebagian pembuat media iklan luar-ruang tersebut pernah menjadi mahasiswanya ataupun koleganya. Sumbo lantas memutuskan  mengampanyekan melalui kanal di dunia maya: gagasan anti-sampah visual. Menjelang tahun 2012, Sumbo rajin menyebarkan  pandangan bahwa reklame-reklame tertentu layak bila disebut sebagai sampah visual di akun Facebook pribadinya. “Ternyata yang menyambut gagasan ini banyak,” kata Sumbo.

Selain giat membersihan sampah visual, Gerakan Reresik Sampah Visual  aktif menggugah kesadaran masyarakat juga. “Gerakan dalam skala kecil berjumlah maksimal sepuluh orang warga yang mukim satu kampung. Sekarang mencakup kampung-kampung di berbagai kawasan, seperti Umbulharjo dan kawasan Sonopakis,” kata Sumbo.

Gerakan aktif memerangi ekspansi sampah visual yang merebak itu diawali dari lingkup kecil. “Mulai dari sekitar lingkungan kita di tingkat RT, atau kampung. Ideologi lingkungan mestinya dikedepankan dalam penataan lingkungan dan ruang di mana pun. Jangan membiarkan ruang publik dikuasai oleh pemilik modal,” kata Sumbo.

Perang pun dilancarkan, tapi “kegiatan mencabuti sampah visual tak perlu tegang. Santai, dengan riang saja. Jadi, situasinya bukan seperti mau perang,” kata Sumbo.

Tujuh Sikap Komunitas Reresik Sampah VIsual menjadi panduan komunitas ini dalam mengajak semua elemen memberantas adanya sampah visual di ruang publik.

Tujuh Sikap Komunitas Reresik Sampah VIsual menjadi panduan komunitas ini dalam mengajak semua elemen memberantas adanya sampah visual di ruang publik.

Selaku penggiat, Sumbo mengaku akan terus bergiat dalam gerakan hingga pemerintah memberikan kontribusi nyata terkait kelestarian ruang publik Yogyakarta yang semakin hari semakin menciut terdesak oleh sampah visual. Sumbo menilai, pemerintah kabupaten dan kota di DIY belum memiliki Perda yang tegas mengatur pembatasan iklan luar ruangan. “UU Reklame pun sekarang masih kami pantau pelaksanaannya”, kata Sumbo.

Sejak foto-foto aktivitas Reresik Sampah Visual diunggah luas di jejaring sosial Facebook, berbagai dukungan mengalir dari banyak komunitas di Yogyakarta. Saat ini telah terbentuk kelompok-kelompok beraktivitas sama, masing-masing beranggotakan sepuluhan orang warga satu kampung dan kini menjangkau sekian kampung di Yogyakarta. Setiap kelompok ini membersihkan sampah visual lingkup kampungnya sendiri dan dilakukan kurang dari dua jam hingga mirip kesenggangan olahraga. “Dilakukan santai, dengan riang saja,” kata Sumbo dengan gaya khas Ngayogyakarta.

Gerakan reresik sampah visual telah meluas ke Semarang dan Malang dalam nama serupa. “Bentuknya sama. Cair, tidak terstruktur secara formal. Tak kalah penting lagi, gerakan berjejaring luas dengan komunitas lain,” kata Sumbo.

Setelah gerakan itu meluas, Sumbo mendorong supaya jaringan komunitas bervisi maslahat atas sampah visual. Misalnya bekas spanduk dijahit menjadi tas, celemek, taplak meja, atau lainnya.

Genderang perang telah ditabuh bertalu, tapi dengan gaya Yogya yang riang dan santai.

About the author

laksamanashan

laksamanashan