ALL Iklan Luar Ruang

Petarung, Menata Ruang Menyoal Papan Iklan

petarung
miaainun
Written by miaainun

Tata ruang kota selalu menjadi topik hangat untuk diulas karena kompleksitas masalah dan beragam pihak yang terlibat di sana. Atas dasar inilah, sekelompok mahasiswa Perencanaan Wilayah Kota UGM membentuk komunitas peduli tata ruang bernama Petarung, atau Pemuda Tata Ruang, pada 2012.

Dengan visi “Memasyarakatkan Tata Ruang dan Menata Ruang untuk Masyarakat”, Petarung melakukan banyak kegiatan untuk kebaikan tata kota Yogya, terutama penataan baliho dan reklame iklan.

Dengan anggota sebanyak 60 orang, Petarung bergerak melalui berbagai divisi untuk mewujudkan visinya, yakni hubungan masyarakat, multimedia, aksi, keilmuan, dan inisiator.

Meskipun diprakarsai oleh mahasiswa Perencanaan Wilayah Kota, Petarung tidak menutup kesempatan bagi mahasiswa dari jurusan lain untuk turut andil dalam komunitas ini. Sayangnya hal tersebut tidak banyak diketahui orang karena kebanyakan orang ciut duluan ketika mendengar nama ‘pemuda tata ruang,’ seperti yang dituturkan Novi, salah satu aktivis petarung.

Hal lain yang banyak disalahartikan orang yakni definisi dari ruang itu sendiri. Menurut Novi, “Ruang tidak terbatas pada wilayah dan bangunan saja, karena sebenarnya ruang itu sendiri tidak memiliki batas, bahkan sekat antara tanah dan langit juga sudah merupakan ruang.” Dari pemahaman itulah, komunitas ini bergerak untuk tidak hanya menyoal isu terkait bangunan saja. Segala sesuatu yang ada selama masih di atas tanah dan di bawah langit merupakan ruang yang akan diperjuangkan komunitas ini jika terjadi masalah.

loading...

Dalam komunitas petarung, para anggotanya dituntut untuk bisa “melek” tata ruang, dan salah satu permasalahan tata ruang yang membuka mata mereka yakni membludaknya papan iklan di Yogyakarta tanpa penataan yang benar. Isu papan iklan ini turut dikaji karena papan iklan merupakan ruang media, ruang untuk wadah iklan, dan papan iklan termasuk ruang sehingga isu ini turut diangkat, seperti yang dijelaskan Novi.

Bhita Hervita, humas Petarung, mengatakan “Yang pertama pasti merusak visual kota dan estetika. Yang kedua, kadang untuk mendirikannya ada pohon-pohon yang harus dikorbankan, itu tidak boleh,” tuturnya.

Peran papan iklan dalam memasarkan produk juga dinilai sudah tidak terlalu efektif, menurut Muhamad Shulhan, dosen komunikasi di Universitas Gadjah Mada. Papan iklan sebenarnya ditunjukan kepada orang yang kurang berpendidikan, karena orang yang berpendidikan akan mencari informasi bukan malah dipersuasi.

Terkait solusi dari permasalahan ini, menurut Novi, sebenarnya masalah semrawutnya papan iklan ini bisa diatasi jika toko-toko yang memasang papan iklan mau memasang papan itu di atas tokonya tanpa harus menaruhnya secara menyamping ke bahu jalan. Karena dalam ilmu arsitektur, orang cenderung akan tetap menengok jika melihat iklan di sebuah bangunan selama iklan yang ditampilkan menarik.

loading...

About the author

miaainun

miaainun