ALL

Potret Lahan Parkir Timur Mal Galeria

Dulu, kantong parkir ini berada di sebelah barat Mal Galeria. Namun, itu menjadi tidak tertib, lalu dipindahkan oleh Dinas Perhubungan ke sebelah timur mal.
Hesti Widianingtyas

Kantong parkir timur Mal Galeria yang berada di Jalan Prof. Herman Yohanes telah beroperasi sejak 1996. Kantong parkir yang terbentang sepanjang 25 meter ini dikelola mandiri oleh RW 11 Purbonegaran, Kelurahan Terban. Parkir ini telah menjadi sumber pemasukan utama bagi banyak pemudanya, namun pemasukan mereka menurun tajam sejak pemberlakukan jalan satu arah di depannya.

Belakangan ini, pemasukan juru parkir RW 11 Purbonegaran mengalami penurunan sejak Jalan Prof. Herman Yohanes dibuat jalan satu arah menuju utara. Ade, yang telah menjadi juru parkir timur Mal Galeria selama kurang lebih 15 tahun, mengeluhkan berkurangnya pemasukan hingga 75%. “Sekarang karena satu arah, pemasukan per orang yang tadinya sehari bisa Rp. 200.000 sekarang paling sekitar Rp. 60.000,” katanya.

Sebagai tanggapan, Indarto, Koordinator Lapangan Parkir RW 11, mengatakan bahwa mereka telah mengajukan permohonan beberapa kali ke pada Dinas Perhubungan agar jalan kembali dijadikan dua arah. Mereka juga memohonkan agar mendapat keringanan target setoran, karena kantong parkir mereka menjadi sepi semenjak diberlakukannya satu arah. Akan tetapi hingga hari ini, Indarto mengaku belum mendapat jawaban pasti dari Dinas Perhubungan.

Pengelolaan lahan parkir timur Mal Galeria itu tidak banyak berbeda dengan lahan-lahan parkir lain di Yogya yang dikelola oleh warga setempat. Pengajuan izinnya melalui RW, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (KAMTIBMAS), lalu naik ke tujuh lembaga pemerintah daerah.

Pengurus RW 11 pertama meminta izin ke Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) kemudian mengajukan permohonan lagi kepada Polisi Wilayah (POLWIL), Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Tata Kota, Kejaksaan, Departemen Pekerjaan Umum, dan Dinas Perhubungan. Proses ini mereka tempuh selama sebulan dari Juni hingga Juli 1996.

Selain menjadi pilihan saat kantong parkir di dalam mal penuh, ini juga lapangan kerja bagi pemuda-pemudi RW 11 yang menganggur. Mereka digiatkan agar produktif membantu sebagai juru parkir. Kini juru parkir yang ada tidak hanya dari RW 11 saja, tetapi juga dari RW7 dan 8.

Operasionalnya dibagi ke dalam dua shift, yang masing-masing melibatkan 3 hingga 4 juru parkir. Shift pagi yaitu mulai pukul 10 pagi hingga 4 sore, dan shift malam mulai pukul 4 sore hingga 10 malam. Tiap shift harus menyetor dengan jumlah berbeda, shift pagi setorannya sejumlah Rp. 25.000 dan shift malam dengan jumlah setoran Rp. 26.000. Pengurus RW menentukan tarif setoran tersebut dan para juru parkir diharuskan untuk setor ke pengurus RW tiap harinya.

Pemasukan yang didapat dari kantong parkir tersebut tidak hanya untuk juru parkir dan pengurus RW saja. “Uang hasil parkir dipergunakan untuk setor ke Dinas Perhubungan tiap bulan sebesar Rp. 775.000, kemudian juga untuk posyandu, pendidikan anak usia dini (PAUD) dan pembangunan warga. Tiap bulannya juga kami memberikan Rp. 50.000 ke lima RT yang ada. Sisa pemasukan kami pakai juga untuk membeli karcis 16 bundel, terdiri dari roda dua 10 bundel dan mobil 6 bundel. Jadi hasil dari parkir juga saya kembalikan lagi ke warga,” kata Mulyono, Bendahara RW 11.

About the author

Hesti Widianingtyas

Hesti Widianingtyas

13/349590/SP/25821