ALL Pendidikan

Pro-Kontra Perubahan Kurikulum 2013 ke KTSP Di Yogyakarta

Buku-buku penunjang penyelenggaraan kurikulum juga ikut berubah, yang seringkali memberatkan orangtua siswa.
Buku-buku penunjang penyelenggaraan kurikulum juga ikut berubah, yang seringkali memberatkan orangtua siswa.

Kurikulum adalah salah satu program penting dari pemerintah untuk penyelenggaraan rencana pendidikan. Bukan saja sebagai sebuah program, kurikulum juga dipandang sebagai merintis upaya revolusi mental. Oleh karena itu, perubahan kurikulum seringkali terjadi dan indikator kesuksesannya yaitu ketika tujuan untuk mengarahkan pendidikan menuju arah kegiatan pembelajaran dilakukan secara menyeluruh dan merata.

Anies Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Januari 2015 lalu menghentikan Kurikulum 2013 (K-13) dan menggantikannya dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Dikutip dalam Suara Pembaruan edisi 2 Mei 2015, Anies mengatakan bahwa  K-13 dirasa belum cukup matang untuk diterapkan, selanjutnya akan dibenahi dan dikembangkan lagi.

Namun, kebijakan itu dinilai tidak tepat oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah Nur Khalida, mahasiswa PGSD Universitas Negeri Yogyakarta.

“Bagi saya perubahan kurikulum K-13 ke KTSP adalah hal yang tidak perlu. Menurut saya K-13 sudah lebih baik KTSP, di dalam K-13 siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran saja namun juga menekankan aspek-aspek lain seperti aspek afektif, sosial, keterampilan dan ketuhanan. Yang perlu dibenahi dalam K-13 hanyalah sistem penilaiannya,” kata Nur pada Senin (27/04).

Aspek-aspek tersebut dijelaskan dalam Kompetensi Inti (KI) 1 sampai 4 yang terdapat dalam K-13. KI 1 menekankan aspek ketuhanan, KI 2 menekankan aspek sosial, KI 3 pengetahuan dan KI 4 keterampilan. Dalam pembelajaran di dalam kelas pun, siswa di tekankan untuk lebih aktif sehingga guru tidak lagi menjadi center of knowledge.

loading...

Pro dan kontra terhadap keputusan itu juga muncul dari pihak sekolah. Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah Kleco, Amir, mengatakan bahwa perubahan kurikulum sifatnya objektif. “Kurikulum memang bagus mulai KTSP, lebih bagus lagi K-13 karena pendekatan scientific artinya anak bersentuhan engan kehidupan langsung. Namun gurunya repot sekali, harus persiapan yang banyak,” ujarnya saat ditemui, Senin (11/05).

Menurut Amir, walaupun dalam hal persiapan tidak mudah dan penilaiannya sangat repot tetapi teman-temannya menyambut dengan baik dengan adanya K-13.

Siti Aminah, salah satu orantua murid Muhammadiyah Kleco, mengatakan bahwa kesulitan pergantian kembali ke KTSP ada pada siswa karena waktu pergantian kurikulum tersebut nanggung. Pelaksanaan semester ganjil siswa menggunakan K-13 sedangkan kurikulum genap kembali menggunakan KTSP.

“KTSP materinya sangat banyak dan lumayan menyulitkan belajar anak saya,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Rabu (22/04/2015). Menurut Siti, pada pelajaran IPS yang tadinya hanya berbentuk Tematik 1 atau Tematik 2 yang merupakan penggabungan menjadi dipisah-pisah lagi seperti pelajaran Sejarah, PKN, dan sebagainya.

Siti mengaku kendala utama dalam K-13 itu berada pada SDM pengajar/guru. Beberapa diantaranya aktif mengembangkan diri dengan berlatih kemampuan bernarasinya. Terkait dengan K-13, pengajar/guru dituntut aktif menggunakan narasi sebagai penunjang pembelajaran. Menurutnya, tidak semua pengajar/guru memiliki latar belakang pendidikan yang sama, ada yang lulusan S1, ada yang hanya lulusan SMA adapula lulusan SPG untuk guru yang mungkin sudah usia lanjut. Selain itu penguasaan IT yang dimiliki pengajar/guru juga berbeda-beda.

loading...

About the author

Annisa Puspa Nugraheni

Annisa Puspa Nugraheni