ALL Radio

Radio dan Perubahan Kebiasaan Pendengar

Tidak hanya media cetak, bisnis radio juga berubah banyak akibat kehadiran pesat internet. Salah satu perubahan itu adalah pergeseran cara audiens mendengarkan radio, yang melibatkan streaming dan interaksi melalui media sosial. Jumlah pendengar pun berkurang, menurut data Nielsen,  sebanyak 3 persen secara nasional.  Stasiun-stasiun radio pun memasang strategi-strategi baru agar tetap bisa bersaing.

Pada 2014 hingga awal 2015 lalu, kondisi ekonomi Indonesia sempat labil akibat pergantian presiden. Para investor yang awalnya sudah siap menanamkan modal ke Indonesia pun menunda niatnya.  Kampanye produk pun banyak yang tertunda. Hal ini menyebabkan porsi iklan di radio berkurang, terutama dalam skala nasional. Penurunan iklan di tingkat nasional sangat berdampak di radio-radio Yogya, karena hampir sebagian besar target pengiklan mereka berada pada skala nasional.

Untuk menutupi penurunan tersebut, radio Swaragama memfokuskan diri ke pengiklan lokal sehingga mereka tidak terpengaruh oleh bisnis merek besar. Oleh karena itu, pengiklan di Radio Swaragama dapat kembali stabil.

Supaya tidak kalah  bersaing dengan media lain di skala nasional, terutama radio, radio-radio swasta asli Yogya seperti UNISI dan Swaragama serius mengangkat konten lokal yang tidak dimiliki radio lain.

Keistimewaan lain sebagai radio swasta di Kota Yogya adalah bertambahnya pendengar di tiap tahunnya. Sebagai kota pelajar, Yogya setiap tahunnya menerima ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa baru inilah yang lantas menambah maupun menggantikan jumlah pendengar radio.

Hadirnya media sosial dan digital juga merupakan faktor yang mengakibatkan perubahan itu. Contohnya, radio streaming yang semakin tumbuh jumlah pendengarnya. Dengan adanya pendengar radio streaming dan media sosial seperti twitter dan facebook, data pendengar yang disodorkan kepada pengiklan pun tidak hanya berupa data pendengar radio konvensional saja. Data pendengar streaming dan followers dalam twitter maupun facebook, juga disertakan kepada pengiklan.

Jalinan relasi dan koneksi juga salah satu strategi yang digunakan dalam meraih pengiklan di radio. Contohnya Radio Geronimo FM yang tidak memiliki account excecutive. Mereka mengandalkan koneksi yang dimiliki seluruh karyawan Geronimo FM untuk menawarkan iklan di radio mereka. Biasanya yang memiliki koneksi paling banyak adalah penyiar karena mereka terkadang memiliki pekerjaan sambilan. Dari sambilan tersebut, lalu akan terbuka koneksi-koneksi dengan para pengiklan. Faktor koneksi pula yang membuat radio UNISI FM berhasil menjalin kerjasama iklan dan media partner dengan Unilever selama hampir sepuluh tahun.

Faktor loyalitas juga sangat menentukan dalam menjaga hubungan dengan pengiklan. Banyak klien-klien lama yang telah berlangganan mengiklan di radio-radio tersebut. Untuk menjaga loyalitas klien, dibutuhkan kepercayaan dan kenyamanan antara klien dengan pihak radio. Ketika telah tumbuh kepercayaan maka klien tidak akan masalah  dengan radio rate yang dipasang. “Asalkan sudah ada trust, pasti bisnisnya akan berjalan lancar,” ungkap Dewi.

Setiap radio memiliki strateginya masing-masing agar tetap eksis dan tidak kalah saing. Akan tetapi, karena masing-masing radio telah memiliki segmentasinya sendiri-sendiri sehingga persaingan antara radio di Jogja tidak terlalu sengit yang dibayangkan, seperti yang diungkapkan oleh marketing dari Swaragama FM, Geronimo FM dan UNISI FM. Mereka tetap menjaga hubungan baik satu sama lain, bahkan radio-radio di Yogya bekerjasama dalam membuat gerakan “Jogja Dengar Radio”.

About the author

anindyaghassani

anindyaghassani

a student and loyal fangirl. my life divided on book, food, sweets, oppa and you, peeps. cheers!