ALL Media Radio

Radio Publik Masih Harus Banyak Berbenah

Tampak depan RRI Yogyakarta oleh Retyan Suci A.
Tampak depan RRI Yogyakarta oleh Retyan Suci A.
Retyan
Written by Retyan

Sebagai satu-satunya radio publik Indonesia, tentunya RRI boleh berbangga karena sudah mampu merangkul semua lapisan masyarakat melalui siaran yang disajikannya. Di luar itu, masyarakat masih memandang bahwa RRI belum sepenuhnya menjalankan tugas kepublikannya secara baik. Sehingga, pemusatan konten yang dituangkan melalui Programa 1, Programa 2, Programa 3, dan Programa 4 ini dirasa hanya bagus secara konseptual.

Darmanto, pengamat RRI yang juga penggiat Rumah Perubahan Lembaga Penyiaran Publik, menyatakan bahwa secara konseptual, pembagian dan pemusatan konten yang dilakukan RRI sudah mewakili kebutuhan masyarakat Indonesia meskipun praktiknya belum maksimal.

“Secara konseptual sudah baik, mungkin yang menjadi problem adalah aspek kualitas. SDM RRI yang hasil rekrutmen zaman Orde Baru memiliki alam bawah sadar yang masih pro terhadap pemerintah. Sehingga, masih ada konten-konten propaganda yang tersamar di RRI. Jadi, untuk merepresentasikan kepentingan publik seutuhnya belum bisa, terutama dalam program berita. Dalam hal hiburan, pendidikan, kebudayaan, tidak ada masalah, sudah cukup baik,” tuturnya.

Seorang mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, Alya Chandra, menilai bahwa radio publik yang baik seharusnya dapat bekerja secara netral. “Radio publik itu harusnya tidak ada intervensi dari pihak mana pun. Juga sebagai jembatan pemerintah dan masyarakat karena kadang ada hubungan yang kurang baik. Misalnya untuk penyuluhan program Keluarga Berencana (KB) dan sebagainya,” kata Alya.

Permasalahan yang ada tidak dapat diselesaikan hanya dengan me-recharge Sumber Daya Manusianya. Memang benar banyak tenaga honorer muda dan baru yang bekerja di RRI, namun kerja mereka pun masih dipengaruhi oleh SDM senior yang masih memiliki pola pikir Orde Baru tersebut. “Menurut saya, tidak cukup hanya dengan me-recharge SDM yang ada karena SDM yang ada rata-rata usianya di atas 40 tahun. Sehingga, agak sulit untuk dilakukan recharge,” tutur Darmanto.

Darmanto menilai langkah yang paling tepat guna memaksimalkan kerja RRI adalah dengan mengubah kedudukan atau status RRI menjadi RTRI (TVRI-RRI). Dalam wujud baru tersebut diharapkan bahwa hanya orang-orang berkompetensi yang dapat bekerja di dalamnya. Tentunya mereka adalah orang-orang dengan mindset berbeda dari pegawai RRI senior.

Tampak depan RRI Yogyakarta oleh Retyan Suci A.

Tampak depan RRI Yogyakarta (Retyan Suci A.)

Menyajikan Aneka Ragam Konten

loading...

Mantan Kepala Bagian Siaran RRI Yogyakarta, Yohanes Eko, menilai bahwa langkah yang RRI tempuh dalam rangka pembagian target pendengar  sudah cukup baik. Eko mengemukakan bahwa langkah tersebut diambil guna memenuhi tuntutan pendengar masa kini.

RRI sendiri terbagi ke dalam empat programa. Programa 1 atau PRO 1 memiliki segmentasi yang umum, Programa 2 atau PRO 2 yang memiliki segmentasi anak muda, Programa 3 atau PRO 3 yang fokusnya adalah informasi dan berita, serta Programa 4 atau PRO 4 yang mengangkat kebudayaan daerah.

PRO 1 sendiri merupakan cikal bakal berdirinya PRO 2, PRO 3, dan PRO 4. Jadi, PRO 1 dulunya disebut dengan RRI saja sampai kemudian RRI dibagi ke dalam empat programa di atas supaya lebih fokus. PRO 1 sendiri berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Di dalamnya banyak acara yang memuat dialog interaktif dengan pendengar dan para pakar, salah satunya “Jogja Menyapa”, yang memuat dialog interaktif antara walikota dan atau bupati dengan masyarakat. Sesuai dengan segmentasinya, PRO 1 juga menyediakan program acara seperti musik-musik dari suku budaya di Indonesia seperti acara musik Tionghoa.

PRO 2 dengan segmentasi kaum muda merupakan pusat kreativitas anak muda. Programa ini menyajikan 70% musik dan 30% informasi. Sebagian besar musik yang diputar di programa ini adalah musik Indonesia. PRO 2 turut memfasilitasi para pemusik indie dalam mengembangkan musik mereka.

Ada juga PRO 3 yang merupakan stasiun relay dari Programa 3 Pusat (Jakarta). Berita yang disiarkan dalam programa ini dihimpun melalui bagian pemberitaan di RRI tiap-tiap daerah. Berita yang sudah dikumpulkan kemudian dikirimkan ke Jakarta dan akan dipilih untuk disiarkan melalui PRO 3 sehingga tiap daerah dapat mendengar berita dari semua daerah di Indonesia.

Terakhir adalah PRO 4 yang merupakan pusat kebudayaan daerah. Mengingat Yogyakarta sangat kental dengan budaya Jawa, maka budaya yang diangkat di PRO 4 RRI Yogyakarta adalah budaya Jawa. Budaya Jawa tidak melulu tentang tarian daerah, lagu daerah, dan sebagainya. Budaya Jawa dapat juga berupa kearifan lokal seperti nilai gotong royong, tolong menolong, dan apresiasi terhadap adat.

 

loading...

About the author

Retyan

Retyan

Retyan Suci A.
13/349587/SP/25818