ALL Media Radio

Radio Swara Kenanga , Setia dengan Seni dan Budaya Jawa

Tampak Depan Radio Swara Kenanga Jogja
eva
Written by eva

 

Di Yogyakarta, stasiun radio dengan isi siaran seni dan budaya Jawa masih memiliki banyak penggemar setia.  Salah satunya adalah Radio Swara Kenanga Jogja, di frekuensi 783 AM. Program siarannya mencakup beragam wujud seni, mulai dari musik etnik seperti campursari dan gendhing Jawa, musik pop lama, hingga acara hiburan lain seperti wayang kulit, kethoprak, dan sandiwara radio.

Sejak berdiri pada 2004, Swara Kenanga konsisten mengusung konten seni dan budaya Jawa. Pada awal pendirinnya hingga saat ini pun radio tersebut sudah melibatkan banyak penggiat kesenian Jawa. Sudah lebih dari 100 kelompok kesenian meliputi grup orkes keroncong, grup karawitan, grup campursari, grup ketoprak, grup elektone musik, grup macapat, dan grup sholawatan yang terlibat sebagai pengisi siaran di radio tersebut.

Berbeda dengan radio lain yang sebagian besar pendapatannya dari iklan, Swara Kenanga termasuk minim iklan dibandingkan lainnya. Untuk dapat bertahan di dunia penyiaran, radio ini juga menerapkan konsep iuran dari pengisi acara. Iuran ini adalah sebagai bentuk keikutsertaan pengisi acara dalam pembiayaan perawatan sarana prasarana yang ada di Swara Kenanga. Pembayaran iuran dibagi dalam tiga waktu yaitu saat bergabung sebagai pengisi acara tetap, setiap bulan, serta pada saat menampilkan karya seninya melalui radio tersebut.

Akan tetapi, konsep seperti ini tidak menyurutkan keinginan para pengisi siaran. Dikarenakan mereka memegang prinsip ‘Seneng Kui Larang Regane’ atau jika diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah ‘Kesenangan Itu Mahal Harganya’. Maka dari itu, Swara Kenanga Jogja ini tetap menjadi media pilihan untuk menyalurkan aktivitas dan kreativitas seni dan budaya Jawa.

Mengusung konten seni dan budaya Jawa, Radio Swara Kenanga Jogja menyadari bahwa audiensnya berusia 30 tahun ke atas. Maka dari itu, penyiar yang bekerja di dalamnya pun disesuaikan dengan target audiensnya.

loading...

“Di sini penyiar tidak dapat disebut regenerasi. Justru penyiar yang sudah lanjut usia dan pensiun dari radio yang hanya membutuhkan penyiar muda akan bergabung ke sini. Makanya di sini malah banyak penyiar yang sangat berpengalaman.” ujar Martan Kiswoto, Penanggung Jawab Siaran Radio Swara Kenanga Jogja saat ditemui di kantornya.

Hal unik lain yang dapat terlihat dari radio ini adalah pengelolaannya yang berbeda dari radio lain. Jika radio swasta lain yang berbentuk perseroan terbatas mengejar keuntungan dari usaha yang dijalankannya, Radio Swara Kenanga Jogja memilih untuk hidup dari fungsinya memberikan manfaat bagi pendengar.

Persaingan radio yang semakin ketat serta munculnya banyak media lain yang lebih digemari membuat terjadinya pergeseran dalam pengelolaannya. Di radio ini, keuntungan investor bukan lagi pertimbangan utama dalam menjalankan bisnis. Keuntungan investor adalah prioritas terakhir setelah radio mampu bermanfaat bagi pendengar dan setelah karyawannya sejahtera. Pendengar mendukung tetap bertahannya Radio Swara Kenanga karena, sejak awal, Dinas Kebudayaan, seniman, dan wargalah yang mendorong pendirian radio tersebut.

Bahkan, tidak hanya melestarikan “Citra Seni Budaya Bangsa” di Yogyakarta, radio ini juga berupaya memperluas jangkauan wilayah siarannya. Hal ini dapat dilihat dari pengadaan radio streaming oleh Radio Swara Kenanga Jogja pada situs daringnya.

Walaupun tidak menghasilkan banyak keuntungan material, Swara Kenanga tetap diuppayakan serius oleh pengelolanya. Bagi mereka, keuntungan dalam persaudaraan dan manfaatnya bagi pendengar lebih penting daripada keuntungan material semata.

loading...

About the author

eva

eva