ALL Tata Kota

Sampah Sunmor: Minim Tempat Sampah dan Kesadaran

chikianwar
Written by chikianwar

Seorang pengunjung Sunday Morning terlihat asyik menikmati kue cubit yang baru saja ia beli. Selepas santapannya ludes, tanpa beban ia membuang bungkus plastik ke jalanan dan kembali melangkahkan kaki menyusuri Sunmor.

Pemandangan di atas lumrah terlihat dalam kerumunanan pengunjung Sunday Morning atau Sunmor. Sunmor adalah pasar kaget yang rutin digelar setiap hari Minggu. Daya tarik Sunmor terletak pada beragam produk yang dijajakan oleh lebih dari 784 pedagangnya. Makanan, pakaian, peralatan kos, aksesoris, hamster hingga ikan hias ditawarkan berderet dari Jalan Agro, Jalan Olahraga hingga ujung Jalan Notonagoro.

DSC_0030

Geliat Sunmor kembali stabil setelah terbebas dari isu relokasi yang sempat mengancam pedagang pada pertengahan 2014 lalu. Keunikan Sunmor membuatnya ramai didatangi beragam pengunjung, termasuk turis mancanegara.

Namun, tingginya jumlah pengunjung tidak diimbangi dengan tingginya kesadaran untuk mewujudkan lingkungan Sunmor yang bersih. Plastik dan bekas pembungkus makanan berserakan di sepanjang jalan, menimbulkan pemandangan yang tak sedap dipandang mata. Jika hari beranjak siang, dapat dipastikan sampah akan semakin berserakan. “Pengunjung seperti kita, termasuk juga saya, nggak cari tempat sampah. Asal buang saja,” kata Randy Achmad, salah satu pengunjung rutin Sunmor. Minimnya kebersihan Sunmor juga diamini oleh Habibah Soleman yang berasal dari Tidore, “Sisi kebersihan masih kurang, masih kotor. Mau gimana lagi, kita juga nggak mungkin bisa mungutin sampah. Takutnya malah ganggu pengunjung lain yang jalan.”

Jika ditelusuri, kotornya Sunmor dapat disebabkan oleh minimnya tempat sampah yang tersedia. Tidak semua pedagang menyiapkan tempat sampah di area ia berjualan. Pedagang makanan dan camilan yang notabene paling laris diborong pengunjung pun jarang terlihat menyediakan tempat sampah. Namun, hal ini dibantah oleh salah satu pedagang lesehan bernama Nila Marianti, “Pedagang sudah menyiapkan tempat sampah. Dari paguyuban memang juga diwajibkan sedia tempat sampah di depan tenda (lesehan). Tapi kadang pengunjung yang bawa makanan kecil itu buang sembarangan di jalan. Kalau satu dua sih nggak apa-apa, tapi kan pengunjung Sunmor juga banyak,” ujarnya. Selama tujuh belas tahun berjualan di Sunmor, Nila menuturkan bahwa sampah dan kebersihan adalah salah satu masalah yang belum bisa terselesaikan dengan baik. Yang jelas, setiap Minggu para pedagang diwajibkan membayar iuran sebesar dua puluh ribu rupiah kepada pihak paguyuban. Dari jumlah tersebut, separuhnya sebagai iuran kebersihan.

Perhatian dan kepedulian terhadap Sunmor juga disuarakan oleh Komunitas Mahasiswa Peduli Pedagang Sunmor (KOMPPAS). Mereka mengingatkan pengunjung Sunmor dengan cara menempatkan papan-papan berisi himbauan untuk menjaga kebersihan. KOMPPAS tahun lalu juga mencoba menyediakan tempat-tempat sampah di sepanjang Sunmor. Namun, program tersebut tidak berlanjut karena tak ada tenaga pengawas sehingga tempat sampah tersebut kerap hilang.

Sementara itu, Pardal, Ketua Paguyuban Fajar Wiradigama, mengakui bahwa sampah, kebersihan, ketertiban lalu lintas dan parkir adalah masalah yang selalu dibahas dalam rapat bulanan Himpunan Paguyuban (HIMPA) Sunmor. “Kalau untuk sampah, dari sisi pedagang sendiri kadang cuma gencar menyediakan tempat sampah di minggu pertama atau kedua setelah rapat. Setelah itu sepertinya sudah bosan. Kadang ada juga pedagang yang tidak menyediakan,” ujarnya. Pardal yang juga menjabat sebagai Ketua 1 HIMPA tersebut berandai-andai jika setiap pedagang Sunmor menyediakan satu tempat sampah, pasti pengunjung tidak akan membuang sampah secara sembarangan. “HIMPA juga sudah bayar tukang bersih-bersih di Jalan Notonagoro. Kalau lokasi sudah sepi, mereka sapu jalan, dengan bayaran satu juta sekali membersihkan,” kata Pardal.

Kotornya Sunmor tambah jelas terlihat ketika para pedagang tuntas membereskan lapaknya selepas Sunmor berakhir pukul dua belas siang. Plastik-plastik berserakan tak hanya di jalanan bekas lokasi Sunmor, namun juga di area Lembah UGM hingga sepanjang Jalan Sosio Humaniora dan Justicia. Delapan orang tenaga pembersih yang disiapkan oleh HIMPA tidak mampu membersihkan semua sampah secara cepat dan menyeluruh. Barulah di Minggu sore, area Sunmor tuntas dibersihkan dari sampah-sampah. Itu pun tidak menjangkau area Sosio Justicia yang terkadang masih dibiarkan kotor hingga Senin pagi.

Pada Minggu sore, beberapa petugas kebersihan terlihat menyapu sisa-sisa sampah Sunmor di sepanjang Jalan Notonagoro. Salah satu petugas, Rudi, mengaku membutuhkan tiga hingga lima jam untuk bisa membersihkan seluruh sampah.

Memang, diperlukan upaya dari berbagai pihak untuk mewujudkan Sunmor yang bersih dan nyaman. Tak hanya para pedagang yang memiliki tanggung jawab untuk menyediakan tempat sampah, dibutuhkan juga kesadaran dari pengunjung. Jika keberadaan tempat sampah susah untuk ditemui, setidaknya para pengunjung dapat membawa sampah mereka bersama dengan barang-barang belanjaan. Kebersihan adalah tanggung jawab bersama. (chk)

(Visited 4 times, 1 visits today)

About the author

chikianwar

chikianwar

Memiliki nama asli Dzikri Sabillah Anwar.
13/345885/SP/25574.

  • Saat ini pasar ‘dadakan’ mulai semarak diberbagai daerah Indonesia. Misalkan pasar Sunmor yang dibahas dalam artikel ini. ataupun ‘pasar kalangan’ yang sudah terkenal didaerah pedesaaan provinsi Sumatera Selatan serta pasar dadakan lainnya yang ada di Indonesia. Memang masalah pengelolaan sampah menjadi kendala pada dari dibukanya/digelarnya pasar dadakan tersebut. Perlu keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan sampah tersebut. Iya misalkan pengadaan tempat sampah untuk para pengunjung pasar dan bak bak sampah dengan ukuran yang lebih besar untuk menampung sampah sampah dari tiap pedagangnya.

  • Win

    Hal seperti ini, kita harus mengedukasi supaya lebih baik kedepannya.. sehingga setiap individu sadar akan sampah 🙂