ALL Seni Tradisional

Sanggar Kilat Wayang Suket di 0 Km Yogya

anisa rizki sabrina

Ketika anak-anak sibuk dengan gawainya untuk mengakses permainan, saat itulah perlahan-lahan dolanan tradisional ditinggalkan.

Kekhawatiran itu mendorong 30 Finalis Dimas Diajeng Kota Jogja (DDKJ) 2015 untuk turut melestarikan dolanan anak dan kesenian tari pada anak. Menurut Ratri Ayuni Dewi, salah satu finalis, mereka ingin lebih dekat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Akhirnya, 30 finalis DDKJ membuat Sanggar Kilat:Kreasi Dolanan lan Tari yang diselenggarakan pada 10 Mei lalu di Car Free Day 0 km Yogyakarta.

Stella Nadya Arvita, yang juga seorang finalis, menjelaskan bahwa Sanggar Kilat berlangsung pukul 7:00-10:00 dan diikuti oleh 200 anak SD se-kota Yogyakarta. Dibuka dengan flashmob tari topi, tari kreasi yang diciptakan oleh salah satu finalis DDKJ 2015, Rr Shinta Restu Wibawa. Acara dilanjutkan dengan membagikan bibit tanaman oleh komunitas Muda Menginspirasi. Selain itu, ada juga kegiatan belajar singkat tentang ilmu alam dari fun science.

Acara utama yaitu pengenalan dolanan anak berupa wayang suket. Aji Widyatmaja selaku ketua panitia Sanggar Kilat menjelaskan, wayang suket adalah mainan wayang yang terbuat dari rumput. Wayang ini tidak menjurus pada tokoh wayang tertentu, tetapi menjadi simbol wayang secara universal. Ide tersebut berasal dari salah satu finalis DDKJ yaitu Bastian Widyatama, yang akhirnya dielaborasi untuk menjadi suvenir yang bisa dibawa pulang anak-anak. “Ada sekitar 400 buah wayang, dikerjakan sendiri oleh 30 finalis Dimas Diajeng Kota Jogja selama 1 minggu,” tambahnya.

Menurut Stella, melalui wayang suket tersebut anak-anak bisa berkreasi memainkan seni peran dengan tokoh wayang kreasi mereka sendiri. Hal itu dapat memicu kreativitas anak dengan medium permainan tradisional.

Seluruh finalis DDKJ 2015 melakukan persiapan acara ini selama tiga minggu. Aji mengatakan, “Awalnya, kami menuangkan ide, mengerucut pada sanggar kilat kreatif dan menari. Kenapa? Karena ingin memopulerkan budaya tari di kalangan anak-anak. Kami ingin menyampaikan bahwa belajar tari itu mudah. Belajar tari juga mempunyai efek psikologis yang baik untuk anak-anak, mereka bisa lebih bisa mengendalikan emosi. Mereka bisa lebih berinteraksi dengan teman-temannya. Selain itu, dapat mengasah motorik anak sehingga bisa lebih responsif.”

“Kebetulan ini acara besar, tetapi diusahakan akan bisa rutin dan dikembangkan lebih baik lagi. Ini salah satu rangkaian acara Pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja 2015, tetapi dananya 0. Jadi dari finalis sendiri mengusahakan dana dari sponsor dan donatur. Dapat 100 buku dan komik juga untuk dibagikan kepada adik-adik,” ujar Aji.

Acara tersebut mendapat berbagai macam komentar dari anak maupun staf pengajar yang mengikuti acara tersebut. Yohana, salah satu murid kelas 5 SD Kanisius mengatakan, “Aku senang, di sini diajarin nari, nanam pohon, dan dapet wayang suket juga.”

Tidak sejalan dengan yang dirasakan anak-anak, staf pengajar justru melontarkan beberapa kritik dan masukan untuk panitia terkait masalah teknis. ”Sebenarnya esensi awalnya bagus, tetapi mengemasnya saja. Kegiatannya tidak fokus, sound system-nya kurang memadai. Di sebelah sana ada kegiatan lain, yang sound system-nya lebih cetar membahana. Ditambah lagi ada yang dakwah di sana, waduh lebih keras lagi tuh. Jadi tadi anak-anak waktu belajar kimia atau fisika kan nggak fokus. Besok lagi mungkin kalau mau gelar kegiatan lagi untuk anak-anak, mereka harus menyadari bahwa anak-anak butuh tempat khusus untuk belajar,” ujar Niken, guru SD Kanisius Kota Baru Yogyakarta.

Selain masalah teknis, Niken juga mengomentari esensi acara. “Untuk tarinya, tidak ada masalah dengan tari kreasi, tetapi lebih baik gerakan dasar tari klasik tetap diajarkan. Dolanan anak juga seharusnya akan lebih banyak seperti dakon, ingkling, biar lebih intens dengan nilai kebersamaan dan kerjasama, bukan individualis,” ujar Niken.

Masukan-masukan tersebut menjadi evaluasi untuk finalis DDKJ 2015. Kabar baiknya, dengan adanya masukan tersebut, secara tidak langsung program mereka telah mendapat perhatian dari masyarakat. “Itu adalah apresiasi tersendiri bagi kami. Kami siap berproses untuk lebih baik lagi,” ujar Aji.

About the author

anisa rizki sabrina

anisa rizki sabrina