ALL Pendidikan

Sekolah Rumah: Orangtua atau Lembaga?

Cendekia Group
liapram
Written by liapram

Sekolah rumah atau homeschooling mulai marak dipilih oleh banyak orangtua di Yogyakarta. Alasan mereka beraneka ragam, mulai ketidakpuasan terhadap pendidikan formal hingga kebutuhan khusus anak. Tapi, apa sebenarnya pengertian sekolah rumah? Bagaimana sebenarnya peran orangtua di sana?

Menurut Fauzan Asmara, Direktur Cendekia Homeschooling, sekolah rumah lahir dari anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa sekolah formal tapi ingin belajar dan mendapatkan ijazah.

Ia mengatakan, anak-anak yang memiliki kesibukan tertentu seperti artis atau atlet, anak yang pernah di-bully di sekolah atau anak autis menjadi faktor terbesar alasan orangtua menyekolahkan anaknya di (lembaga) sekolah rumah. “Yang hamil di luar nikah juga ada,” kata Shendy Amalia, tutor Cendekia Homeschooling bidang IPS dan Pendidikan Kewarganegaraan

Sesungguhnya, pendidikan sekolah rumah juga mencakup pendidikan yang berada di tangan orangtua secara penuh. Ini berarti, orangtua tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah formal maupun lembaga sekolah rumah, tetapi memberikan pembelajaran secara mandiri di rumah.

“Ada orangtua yang tidak percaya dengan pendidikan di sekolah pemerintah. Akhirnya, anaknya diajarkan sendiri di rumah. Untuk belajarnya dia mengadopsi kurikulum dari Cambridge. Banyak orangtua yang seperti itu,” kata Shendy. “Jadi nanti kalau anaknya mau kuliah dan butuh ijazah, anaknya ikut ujian penyetaraan. Kalau dia mengadopsi kurikulum Cambridge, dia beli lisensi dari sana. Jadi ujiannya online , terus nanti hasilnya di-email. Hasilnya bisa buat daftar kuliah,” lanjutnya.

"Kami membantu masyarakat yang ingin menyelesaikan studinya tanpa harus terikat waktu dan tempat seperti sekolah formal," kata Dr. Fauzan Asmara, M.M.

“Kami membantu masyarakat yang ingin menyelesaikan studinya tanpa harus terikat waktu dan tempat seperti sekolah formal,” kata Fauzan Asmara.

Semntara itu, Maria Susilowati, orangtua yang anaknya ikut lembaga sekolah rumah, mengatakan pendidikan sekolah rumah sebenarnya tak jauh berbeda dengan sekolah formal, yaitu hanya fokus pada kegiatan belajar yang bersifat akademik. Ia merasa peran orangtua tetap yang paling penting dan diharapkan.

Maria berkata orangtua harus turut berpartisipasi dalam kegiatan tambahan sekolah rumah yang bersifat nonakademik. “Orangtua harus mengisi hari-hari kosong anak dengan kegiatan sosial, keagamaan, kesenian,” katanya.

Seno Wahyu Aji Pamungkas, salah satu pendiri Komunitas Pendidikan Mandiri (Koper Mandiri). menjelaskan bahwa orangtua memiliki peran yang lebih besar dalam sekolah rumah, “Karena hanya orangtua dari anak tersebutlah yang paling memahami anaknya. Di dalam homeschooling, pendidikan formal, informal, dan nonformal dalam pelaksanaannya seringkali terlebur menjadi satu.”

loading...

Di komunitasnya sendiri, Koper Mandiri, tidak ada metode belajar khusus yang digunakan. Komunitas tersebut hanyalah wadah, bukan lembaga, yang menyediakan berbagai aktivitas untuk orangtua dan anak dalam bentuk pendidikan. “Bisa dibilang bahwa Koper Mandiri merupakan ekstrakurikuler dari aktivitas homeschooling,” katanya.

Lantas, dengan campur tangan orangtua yang begitu besar dalam pendidikan anak, terutama bagi orangtua yang tidak menyekolahkan anaknya ke lembaga mana pun, kesetaraan antara guru atau tutor dan orangtua menjadi pertanyaan besar. Mengingat sebagian besar masyarakat masih meragukan kemampuan orangtua untuk “menyekolahkan” si anak di tangannya sendiri, apakah hasil belajar anak tersebut bisa dikatakan sejajar dengan anak-anak lainnya?

“Setiap keluarga memiliki cara menjalankan homeschooling yang berbeda satu sama lain berdasarkan visi pendidikan dalam keluarga tersebut. Dengan homeschooling, orangtua harus aktif dan sangat memahami apa yang dibutuhkan oleh anak, bukan apa yang harus dilakukan oleh anak,” tegas Seno.

“Kalau secara ijazah itu sama saja. Ada paket kesetaraan itu. Masalahnya justru dari segi administrasinya. Itu yang agak repot, harus menyediakan nilai rapor dan sebagainya,” kata Shendy, yang juga mempertanyakan objektivitas orangtua dalam menilai rapor anaknya.

Olivia Roslin Wiguna, mantan siswa Homeschooling Primagama Yogyakarta mengatakan, “Peran orangtua di homeschooling itu lebih pada pengawasan anak dalam belajar di rumah. Ini terutama karena jumlah pertemuan formal guru-murid yang sangat sedikit dalam seminggu. Murid dituntut untuk aktif dalam self-learning. Dalam hal ini orangtua berperan untuk mengawasi  dan mendorong belajar mandiri anaknya.”

Olivia adalah mahasiswi Pendidikan Dokter 2013 Universitas Gadjah Mada yang mengikuti pendidikan sekolah rumah selama 1 tahun lantaran ditolak untuk melanjutkan sekolahnya kembali di SMA Stella Duce I Yogyakarta setelah satu tahun mengikuti pertukaran pelajar di Amerika Serikat.

“Saya harus mengulang di kelas XI untuk bisa masuk kembali ke Stella Duce I. Kemudian muncul alternatif homeschooling. Mereka menerima saya dengan syarat rapor dari sekolah saya di Amerika harus dilegalisir oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Akhirnya saya bisa melanjutkan pendidikan lagi tanpa harus mengulang satu tahun,” ceritanya. “Dan menurut saya peran orangtua dan guru sama besarnya. Karena guru juga crosscheck sama orangtua dan ikut mengawasi kita di rumah secara tidak langsung,” katanya.

Maria, ibu dari Olivia, menambahkan bahwa sekolah rumah juga bisa membuat anak kurang memiliki hubungan sosial. “Sekolah di homeschooling membuat anak kurang bersosialisasi, temannya lebih sedikit. Nah, di situlah orangtua harus mengisi dan mendorong anak agar tetap bersemangat, karena homeschooling lebih butuh kemauan dari diri sendiri.”

loading...

About the author

liapram

liapram

Amalia Pramestiarini
13/345968/SP/25588