ALL Seni Tradisional

Seni Tak Jauh dari TBY

TBY dulu bernama Societet Military, gedung peninggalan Belanda yang didesain sebagai pertunjukan seni.
Hidayatmi
Written by Hidayatmi
Andil TBY tak bisa dipisahkan dari seni Kota Jogja

Kegiatan Seni di Yogya semakin identik dengan Taman Budaya Yogyakarta.

Bagi pecinta dan penikmat seni yang tinggal di Yogyakarta, Taman Budaya Yogyakarta atau  TBY adalah tempat yang wajib dikunjungi secara berkala. Gedung di timur Jalan Malioboro ini memang salah satu tempat paling strategis untuk menggelar perhelatan seni.

Hampir setiap bulan selalu ada acara seni yang ditampilkan, baik pagelaran seni musik, seni tari, seni rupa, wayang, dan ketoprak semua ada disini. Menurut Kepala TBY, Diah Tutuko Suryandaru, TBY tidak hanya untuk pagelaran dan pameran seni, namun juga dimanfaatkan para seniman sebagai tempat berlatih.

“Para seniman bebas menggunakan gedung di Taman Budaya untuk latihan dan gratis,” ujar Diah. Selama masih dalam jam kerja dan berkoordinasi dengan seniman lainnya untuk pembagian tempat hal ini tidak masalah, tambahnya.

Sebagai salah satu wadah dalam mengembangkan seni budaya, Taman budaya mencoba memenuhi kebutuhan para seniman dalam meningkatkan kualitas seni. Taman Budaya terdiri dari beberapa bangunan dalam mendukung aktivitas tersebut, seperti Societet Militair, Concert Hall, Tembi Theatre, dan Perpustakaan.

Fasilitas-fasilitas tersebut dapat dipergunakan oleh pengunjung, entah untuk acara atau sekadar untuk latihan. Setiap gedung memiliki fungsinya masing-masing, Societet Militair yang merupakan gedung peninggalan penjajah ini lebih sering digunakan untuk pagelaran seni musik dan tari. Sedangkan, Concert Hall lebih sering menampilkan hasil karya para seniman dalam bentuk seni rupa dan lukisan, atau yang bersifat benda. Lain lagi dengan Tembi Theatre yang berada di luar gedung dan berada di belakang Consert Hall digunakan untuk pertunjukan seni drama dan puisi.

TBY  sendiri merupakan kompleks pusat pengembangan kebudayaan daerah Yogyakarta yang berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY. Pada mulanya TBY bernama Purna Budaya yang dibuat sebagai sarana dan prasarana untuk membina, memelihara dan mengembangkan kebudayaan di DIY.

Menurut Diah, awalnya Taman Budaya berada dalam lingkungan Universitas Gadjah Mada bernama Purna Budaya yang berdiri pada 11 Maret 1977. Kemudian pada 1995, Prof. Soekanto H. Reksohadiprojdo, Rektor UGM saat itu, meminta Mendikbud RI untuk menjadikan Purna Budaya yang berada dalam kompleks Bulaksumur sebagai sarana kegiatan kemahasiswaan UGM.

Pemindahan gedung akhirnya disepakati beberapa tahun kemudian oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan beberapa penjabat daerah. Akhirnya TBY kembali dibangun di kawasan cagar budaya Benteng Vrederbug yang berdampingan dengan gedung Sociatet Militair. Selain itu posisi sekarang menurut Diah dianggap stategis karena berada di 0 km, bersebelahan dengan Pasar Bringharjo di sebelah utara, Malioboro di sebelah barat, serta Taman Pintar di sebelah selatan.

Teater Tembi, salah satu wadah untuk menampung karya seni para seniman Jogja.

Teater Tembi, salah satu wadah untuk menampung karya seni para seniman Yogya.

Selain itu, Taman budaya juga merupakan tempat berkumpul dan belajar bagi pelajar SD, SMP dan SMA dalam mendalami seni baik seni tari, musik, wayang, ketoprak, teater, seni rupa dan lain sebagainya. Maka tak heran setiap akhir minggu, bangunan pada 4 November 2002 silam ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY selalu ramai dikunjungi. Selain itu, TBY juga menerbitkan majalah sendiri setiap tiga bulan sekali. Mata Jendela dipilih sebagai nama majalah tersebut yang berisi permasalahan-permasalahan seni yang ada di sekitar kita. Selain itu, sekali dalam satu tahun TBY juga menerbitkan buku yang berisi profil para seniman.

Untuk penyelenggaraan acara, TBY tidak pernah sepi dari berbagai kegiatan, baik itu pagelaran seni rupa, seni tari, musik dan sebagainya. Komunitas dan seni yang ditampilkan tidak berbatas pada lingkup Yogya saja, tapi semua jenis seni dari semua wilayah di Indonesia bisa melakukan kegiatan disini. Gedung yang berdiri di atas lahan seluas 1.2 hektar ini pun dalam waktu dekat akan melaksanakan acara besarnya bernama Artjog. Acara sekali setahun ini selalu memiliki daya tarik sendiri bagi para seniman dan pengunjung. Terbukti pihak yang terlibat dalam kegiatan ini tak hanya seniman yang berasal dari Yogya ataupun Indonesia saja, namun beberapa seniman luar negeri ikut andil. Wajar jika kegiatan yang berlangsung 6-28 Juni akan datang ini telah mulai dipersiapkan dari jauh-jauh hari.

Namun, di balik keterlibatan Taman Budaya sendiri dalam mengembangkan seni dan budaya, tentunya tak luput dari berbagai kekurangan. Menurut Diah, dengan keadaan TBY yang sudah mulai dikenal masyarakat luas, lahan yang ada sekarang dirasa kurang memadai untuk menampung pengunjung yang hadir apa lagi ketika ada acara.

Selain itu, kantor para karyawan yang berjumlah 44 orang masih menyatu dengan bagian gedung pertunjukkan sehingga dirasa kurang efektif, “Kami berharap kantor bisa pisah dengan gedung. Selain kenyamanan pegawai, kami juga mempertimbangkan kenyamanan para seniman dan pengunjung,” tutup Diah.

About the author

Hidayatmi

Hidayatmi