ALL Iklan Luar Ruang

Seturan dan Jakal, Contoh Terbaik Papan Iklan Tanpa Aturan

Bagi para pelesir dan pendatang yang baru menginjakkan kaki di Yogyakarta, Jalan Kaliurang dan Seturan adalah dua tempat yang sangat menarik minat mereka. Hal ini salah satunya karena kedua tempat tersebut memiliki banyak sekali tempat kuliner.

Menurut Fidhita Auliya (19), mahasiswi dari Jakarta, jalan Kaliurang dan Seturan memang menarik karena kelengkapannya. Selain tempat makan, kedua jalan tersebut dihiasi oleh outlet baju dan hotel sehingga kedua jalan itu bisa dibilang jantung kota Yogyakarta karena selalu ramai dari pagi hingga malam.

Namun, keberadaan tempat makan dan banyaknya pertokoan di jalan tersebut tidaklah selalu dianggap positif oleh orang lain. Muhamad Sulhan, dosen komunikasi di Universitas Gadjah Mada, menilai Seturan merupakan titik terparah kesemrawutan iklan luar ruang.

Sulhan mengatakan, “Seturan memiliki jalanan kecil sehingga tak pantas dihujani papan iklan sebegitu banyak. Berbeda dengan jalan Kaliurang yang  jalanannya cukup besar sehingga titik pandangnya juga tak terlalu padat, meskipun jalan ini juga sangat kacau dengan reklame iklan.”

Mengapa kedua jalan tersebut bisa menjadi titik semrawut? Menurut Sulhan lagi, dalam perilaku orang yang baru memahami iklan. Ada hal yang disebut getok tular (penyebaran sesuatu dari mulut ke mulut), Yogyakarta sempat merasakan euforia kehadiran papan iklan ini bertahun lalu untuk menunjukkan sebuah merk dagang, getok tular itu membuat produsen lainnya berlomba untuk menampilkan merk dagangnya dalam bentuk yang seperti itu.

Masalahnya, para perusahaan papan iklan tak menerapkan prinsip yang mendukung terciptanya lingkungan yang apik. Perusahaan hanya memasang, dan urusan lain seperti evaluasi dan pemeliharaan tidak lagi jadi tanggung jawab perusahaan papan iklan. Karena bagi mereka, begitu sudah terpasang ya sudah. Selain itu, unit bisnis yang ada di kedua tempat tersebut sejenis, sehingga para produsen memilih papan iklan sebagai pembeda. Dalam kasus ini ada efek yang mucul berupa efek domino, ketika saty toko memasang papan iklan ia percaya semakin besar papannya semakin mudah konsumen melihat. Saat itu pula toko lain akan mengikuti toko tersebut. Maka tak heran ada banyak papan iklan muncul.

Fenomena papan iklan ini sudah lama menjamur di Daerah Istimewa Yogyakarta. Media luar ruang memang memiliki fleksibilitas tinggi, ia tidak terjebak pada durasi dan penempatan yang kaku. Jenis iklan ini juga memiliki daya tarik yang tinggi apabila diletakkan di tempat yang pas.

“Masalahnya, Yogyakarta bukanlah kota yang metropolis. Kota ini kecil dan titik pandangnya dekat, sehingga adanya papan iklan tidak lagi menarik perhatian orang lain seperti harapan produsen,” kata Sulhan. Titik pandang yang dekat ini mengakibatkan orang lain malah menangkap papan iklan sebagai sampah visual yang memenuhi ruang publik.

Pernyataan itu juga dibenarkan oleh Yoyo, seorang pengendara motor asal Terban yang sering melakukan mobilisasi ke daerah Seturan. Menurutnya, papan-papan iklan tersebut mengganggu jarak pandang dan sudah seharusnya ditertibkan oleh dinas terkait.

 

20150317_163924

tumpukan baliho di lampu merah

Bahkan tanpa harus melakukan pengamatan secara intensif, kesemrawutan ini bisa dirasakan secara mudah bagi pengguna jalan. Papan iklan itu bertumpuk di Jalan Kaliurang dan Seturan dengan titik pasang terbanyak di daerah lampu merah. (mia)

About the author

miaainun

miaainun