ALL Transportasi Publik

Si Thole, Primadona Baru Wisata Jeron Beteng

mutiaslvn
Written by mutiaslvn

Sebagai kota wisata, Yogyakarta tak henti melakukan inovasi demi kenyamanan para wisatawan. Di bidang transportasi, sejak akhir 2014, pemerintah menyediakan Si Thole, armada wisata yang melayani wisatawan di daerah Keraton. Hanya dengan lima ribu rupiah, wisatawan bisa pulang-pergi dari Taman Parkir Ngabean dan Taman Parkir Senopati menuju kawasan Jeron Beteng.

Kendaraan beroda empat dengan kapasitas tujuh penumpang ini merupakan hasil kerjasama pihak Keraton, Pemerintah Kota Yogyakarta, dan Association of The Tour & Travel Agencies (ASITA).

Armada wisata berwarna hijau ini, yang sekarang baru berjumlah sepuluh, hanya mengangkut dan menurunkan penumpang di halte khusus Si Thole, yakni Taman Parkir Ngabean, Taman Parkir Senopati, Perempatan Nol Kilometer, Tamansari, dan Keben. Namun, halte ini masih sebatas tenda non-permanen berwarna kuning.

Pada hari biasa, Si Thole dapat mengangkut hingga 200 penumpang, dan lebih dari 1000 penumpang pada akhir pekan.

Si Thole memiliki dua rute. Rute pertama melintasi Taman Parkir Ngabean, Keben, Tamansari, Taman Pintar, dan Malioboro. Sedangkan rute kedua yaitu Taman Parkir Senopati, Keben, dan Tamansari. Si Thole yang beroperasi mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 pada hari biasa, dan hingga pukul 20.00 WIB di akhir pekan.

Si Thole merupakan solusi untuk mengurangi kemacetan di kawasan Keraton, sejalan dengan kebijakan pemusatan area parkir bus di Taman Parkir Ngabean dan Taman Parkir Senopati. Keberadaannya menambah pilihan angkutan bagi para wisatawan, di samping becak-becak yang tersedia. Namun, ini menimbulkan masalah baru berupa persaingan antara Si Thole dan becak.

“Kita tidak bersaing karena ini bersifat opsional. Kalau para wisatawan mau naik Thole, monggo. Kalo mau naik becak atau jalan kaki, ya tidak apa-apa,” ujar Arif, Manajer armada wisata Keraton tersebut.

Meski demikian, kekhawatiran akan berkurangnya jumlah penumpang becak tetap ada. Nguditomo, lelaki yang telah mengayuh becak selama 25 tahun di kawasan Ngabean, mengakui bahwa pendapatannya mengalami penurunan sejak kehadiran Si Thole. Namun Nguditomo tidak berkecil hati, karena target penumpangnya bukan hanya dari wisatawan, ia melayani siapa pun yang ingin naik becaknya.

Lain halnya dengan Surono. Ia mengaku bahwa keberadaan Si Thole tidak berpengaruh pada jumlah penumpangnya. “Si Thole kan biasanya cuma dijumpai di halte tertentu saja, sementara becak gampang bisa ditemui di mana saja,” kata lelaki yang sering menunggu penumpang di kawasan Taman Pintar.

Sampai saat ini, Si Thole masih menjadi primadona, solusi dari kebijakan pemusatan parkir bus wisata. Keberadaannya diyakini dapat menambah jumlah pilihan angkutan bagi para wisatawan.

Seperti halnya yang dikatakan oleh Gita, seorang wisatawan yang berasal dari Bekasi.  “Parkir busnya tadi lumayan jauh dari Keraton. Rombongan kami pun naik Si Thole.”

Lain dengan Gita, Rahma yang berasal dari Cianjur lebih memilih untuk naik becak. “Kalau saya lebih milih becak, lebih milih kendaraan yang tradisional biar kesan Jogja-nya  dapat.”

Kehadiran Si Thole ini tentunya masih membutuhkan adanya beberapa uji coba. Misalnya, jika dilihat dari aspek sosialisasi dengan masyarakat Yogyakarta. Banyak di antara warga yang belum mengetahui keberadaannya. Bisa jadi, dengan semakin banyaknya masyarakat Yogyakarta yang mengetahui, hal ini bisa mendukung nama Si Thole untuk terangkat menjadi salah satu ikon angkutan wisata Yogyakarta.

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah nasib pengayuh becak yang ada di sekitar Kraton. Dengan demikian, keduanya dapat jalan berdampingan sebagai ikon angkutan wisata Yogyakarta.

About the author

mutiaslvn

mutiaslvn