ALL Sosial

SSCJ, Demi Anak Jalanan dan Kaum Marjinal

Pengurus SSCJ bersama anak jalanan yang mereka bina.
Pengurus SSCJ bersama anak jalanan yang mereka bina.
miaainun
Written by miaainun

Sejak berdiri pada 2011, Save Street Children Jogjakarta telah banyak melakukan kegiatan demi memperjuangkan kepentingan anak jalanan dan kaum marjinal. Dengan total pengurus dan sukarelawan 96 orang, SSCJ perlu mendapat dukungan lebih luas karena pengaruhnya nyata bagi berbagai komunitas yang sering dilupakan masyarakat.

Salah satu keistimewaan SSCJ adalah komunitas ini tidak hanya menyoal isu anak jalanan saja, tapi juga kaum marjinal. “Kaum marjinal merupakan anak-anak yang ayah dan ibunya menggantungkan hidupnya di jalanan. Sehingga meski mereka tidak hidup di jalanan, secara tidak langsung anak-anak itu juga terkena imbasnya” kata Arsyad,  pengurus SSCJ.

Kegiatan SSCJ tertuang dalam bentuk program kerja. Salah satu program kerja yang paling berhasil yakni program kelas mengajar. Program ini diadakan setiap Senin dan Rabu di lokasi yang berbeda dengan siswa yang berasal dari kaum marjinal dan anak jalanan. Kelas Senin dilakukan di daerah Jalan Solo dan kelas Rabu di daerah Tegalmodjo. Menurut Sekar, staf Humas SSCJ, program ini paling konsisten terlaksana dibanding program lainnya.

“Salah satu harapan kami akan adanya SSCJ ini, agar anak-anak jalanan dan kaum marjinal bisa belajar hidup selayaknya warga lainnya. Agar kelak mereka bisa membaur bersama masyarakat,” kata Arsyad yang juga staf humas SSCJ.

Berbekal harapan itu, pengurus dan sukarelawan SSCJ giat mencari rumah baru yang akan dipakai untuk menampung anak-anak jalanan. Rumah tinggal anak jalanan yang disebut shelter ini juga merupakan salah satu program kerja SSCJ yang masuk ke ranah edukasi.

Menurut Sekar, dengan adanya rumah tersebut, diharapkan anak-anak jalanan yang memang tidak memiliki rumah bisa merasa punya rumah dan bisa belajar bertanggung jawab terhadap rumah tersebut. Sehingga mereka punya kesadaran untuk menjaga dan membersihkan rumah sekaligus belajar bersosialisasi dengan warga di sekitarnya.

loading...

Selain program edukasi, program lainnya adalah BHAJKM, advokasi, dan pelatihan. Salah satu program BHAJKM atau bantuan hak anak jalanan dan kaum marjinal adalah berjualan di Sunmor UGM.

“Kegiatan berjualan di Sunmor UGM ini sedang coba dirutinkan, tujuannya agar uang yang terkumpul bisa diberikan kepada anak-anak asuh SSCJ yang membutuhkan,” kata Sekar.

Untuk program advokasi, SSCJ melakukan penolakan terhadap Perda Gelandangan dan Pengemis No 1 Tahun 2014 Yogyakarta. Alasannya, beberapa hal yang direalisasi dalam Perda tersebut dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

“Perda itu menyebutkan bahwa siapa pun yang menggantungkan hidup di jalanan akan dimasukkan ke kamp untuk ditangani dan dibina dengan baik. Masalahnya berdasarkan penuturan teman-teman jalanan yang pernah masuk, kamp tersebut tidak layak ditinggali. Airnya kuning pekat dan kebutuhan pangan mereka tidak tercukupi dengan baik” kata Arsyad.

Untuk program pelatihan, yang sedang berlangsung saat ini adalah pelatihan kesehatan reproduksi. Seperti yang dikatakan Sekar, setiap Minggu para pengurus dan sukarelawan SSCJ secara rutin mengikuti pelatihan agar nantinya ilmu yang sudah didapat bisa dibagi ke adik-adik. Hal ini menjadi penting karena salah satu anak jalanan yang diasuh SSCJ sempat ada yang hamil dan itu terjadi karena kurangnya pendidikan seksual di kalangan anak-anak tersebut.

Terkait pencapaian terbesar, saat ini SSCJ sudah mampu menuntun seorang anak jalanan untuk bisa hidup mandiri. “Saparianto adalah pahlawan kami, ia contoh kesuksesan SSCJ membina anak jalanan. Ia yang dulunya hidup di jalanan kini sudah bisa bekerja di salah satu usaha milik anggota SSCJ,” kata Fatih, selaku koordinator program edukasi. “Bahkan, dari uang upah menjaga kedai tersebut, Saparianto sudah berencana mengkredit motor dalam waktu dekat ini,” tambahnya.

 

 

loading...

About the author

miaainun

miaainun