ALL Seni Tradisional

Sungai Bedog Kasongan, Tuan Rumah Terracotta Biennale 2015

Yogyakarta menjadi tempat Terracotta Biennale 2015 bertajuk Art On The River, perhelatan seni rupa terakota pertama di kota ini pada Juni-Juli 2015. Karya seniman dipajang sejauh satu kilometer di tepian Sungai Bedog, Kasongan, Kabupaten Bantul.

Setidaknya 55 seniman Indonesia dan 15 seniman dari luar negeri memajang karya seni rupa berbahan tanah liat. “Ada instalasi karya yang dipajang di tepian Kali Bedog,” kata penggagas Biennale Terracotta 2015, Noor Ibrahim.

Noor Ibrahim, Terracota Biennale saat ditemui 20/5 di galerinya

Noor Ibrahim, penggagas Terracota Biennale saat ditemui (20/5) di galerinya

Karya seniman Indonesia yang dipamerkan di antaranya ciptaan Djoko Pekik, pematung Edhi Sunarso, Dicky Chandra, Hari Budiono, Teguh Ostenrik, dan Kondang Sugito. Sedangkan, seniman luar negeri yang terlibat di antaranya dari Swedia, Jepang, Italia, Jerman, Inggris, Serbia, Slovakia, dan Hongaria.

Menurut Noor Ibrahim, Biennale Terracotta mengangkat media terracotta atau tanah liat sebagai media utama karya seni. Sejarah Indonesia yang kaya akan budaya dan seni tanah liat menginspirasinya untuk mendirikan Terracotta Biennale Foundation. Pengunjung bisa menikmati karya seni yang dipajang di pinggir sungai sembari menyusurinya menggunakan perahu yang dirancang khusus.

finishing pada kerajinan Terracotta bertema "Puteri Duyung"

Proses pembuatan  patung tanah liat “Puteri Duyung”

Sungai dipilih sebagai ruang pameran karya seni terakota karena sejarah dan budaya Indonesia tumbuh dari situ. Sungai menjadi sumber kehidupan manusia.
Tapi, di zaman modern, banyak sungai di Indonesia yang mulai ditinggalkan dan dipenuhi sampah. Terracotta Bienalle 2015 diharapkan mampu mengembalikan kejayaan sungai sebagai fungsi penyeimbang dan harmonisasi dengan alam. Sungai menjadi urat nadi bumi, sumber ekonomi, dan transportasi.

Seorang seniman lokal tengah membuat kerajinan Terracota

Seorang seniman lokal tengah membuat kerajinan tanah liat.

Kasongan sebagai sentra gerabah, kata Noor Ibrahim, memiliki sejarah panjang. Di tempat ini dahulu terdapat tokoh yang melawan kolonialisme Belanda bernama Kiai Song. Perlawanan itu muncul ketika ia menyaksikan lingkungan kampung halamannya yang dipenuhi tanah liat. Ia menggerakkan masyarakat desa dengan taktit bawah tanah agar tidak memilih jalan hidup sebagai petani. Sebab, hasil panenan sebagai petani cenderung diserahkan kepada Belanda.

Dalam situasi itu, Kiai Song mencari jalan lain, meyakinkan masyarakat
bahwa ada cara hidup yang lebih bermartabat dan tidak terjajah. Caranya adalah dengan jalan menjadi seorang pekundhi, yakni bekerja dengan membuat peralatan dapur yang menggunakan bahan baku tanah liat. Siasat Kiai Song pun menjadi profesi alternatif yang berakar dari kultur agraris-tradisional dan kini berkembang pesat menjadi industrial-modern.

Beberapa Kerajinan Terracotta yang akan dipajang di tepi Sungai Bedog pada Juni-Juli mendatang

Beberapa kerajinan tanah liat yang akan dipamerkan di tepi Sungai Bedog pada Juni-Juli mendatang.

Lewat kegiatan itu, Noor Ibrahim ingin mengajak seniman menengok akar budaya nusantara. Pembukaan perdana pameran ini digelar pada 15 Mei 2015 di Kalipucang. Sedangkan, pembukaan akbarnya 7 Juni 2015. Acara itu juga menghadirkan arkeolog dari Universitas Indonesia, Mitu M Prie.

Karya seniman dibuat di pendopo tak jauh dari rumah Noor Ibrahim di kawasan desa budaya Gesik, Kalipucang, Kasongan, Bantul.  Salah satu karya di pendopo itu adalah kura-kura raksasa karya seniman kondang Sugito.

Sugito memberi judul karya itu “Apa Kabar”. Ia membubuhkan tulisan aksara Cina yang punya arti Ni Hau Ma atau “apa kabar” di tubuh kura-kura itu. Ia ingin menggambarkan adanya akulturasi budaya lewat tulisan itu.

"Apa Kabar" salah satu karya seniman kondang Sugito yang siap dipamerkan dalam Terracotta Biennale 2015

“Apa Kabar” salah satu karya seniman kondang Sugito yang siap dipamerkan dalam Terracotta Biennale 2015

Kura-kura ia pilih karena menyimbolkan binatang yang punya umur panjang dan lamban. Selain satu kura-kura raksasa, ia juga menciptakan 100 kura-kura mini. “Saya membuatnya setidaknya selama dua minggu,” kata Sugito. Semua bahan yang ia gunakan adalah tanah liat dari Kasongan. Kura-kura raksasa miliknya kini hanya menunggu proses pembakaran.

About the author

panggihprabowo

panggihprabowo

your future diplomat

12/328645/SP/25027