ALL Pendidikan

Tanggapan Orangtua dan Sekolah Soal Pelaksanaan Kurikulum

Raport yang merupakan salah satu proyek pengadaan dalam kurikulum

Sejak 1947, kurikulum pendidikan nasional sudah berganti hingga sembilan kali. Tujuan utamannya memang menyempurnakan sistem dan mutu pendidikan nasional. Namun, bagaimana pelaksanaan nyata di sekolah dan rumah?

Subandiyah, seorang orangtua murid, mengatakan sebenarnya orangtua hanya menginginkan adanya sosialisasi yang memadai dari pihak sekolah terkait perubahan. “Perubahan kurikulum seringnya lahir prematur dan dalam pelaksanaannya membuat bingung anak saya yang harus mengikuti KBM. Tidak hanya siswa, pengajar juga harus ekstra cepat mengikuti sekaligus menerapkan perubahan tersebut.” ujarnya saat ditemui, Selasa (12/05).

Subandiyah juga mengatakan bahwa sarana dan prasarana penunjang kurikulum masih sangat minim. Selain itu, untuk perubahan dari Kurikulum 2013 yang kembali ke KTSP kali ini,  ia menilai ada pemborosan untuk  pembelian buku karena pergantian berada di tengah semester.

Bagi Siti Aminah, ibu tiga anak, pendanaan buku bukan masalah utama, tetapi pada materi yang harus dipelajari anak karena waktu pergantiannya yang nanggung.

Siti Aminah mengaku khawatir dan kasihan pada anaknya. Salah satu upaya yang ia lakukan adalah bertukar informasi dengan teman-temannya yang ada di Kota Yogya karena terkadang pelaksanaan di Bantul berbeda dengan di Kota.

Subandiyah mengatakan bahwa perubahan kurikulum pelaksanaanya harus matang karena mencakup beberapa proyek pengadaan, dimulai dari pendanaan penyusunan kurikulum, sosialisasi, diklat, pengadaan buku, raport, sertifikasi guru, hingga penilaian.

“Sosialisasi 2013 sudah ada, taraf dari dinas, perserikatan dan untuk guru termasuk model pembelajaran langsung diberi cara mengajar secara langsung. Di daerah-daerah pelatihannya berbeda dengan di kota-kota besar dan yang paling krusial, ya, tetap model penilaiannya.” ujar Amir saat ditemui, Senin (11/05).

Dari pihak sekolah, Amir, Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah Kleco, mengungkapkan bahwa selain penilaian, teknis juga perlu diperbaiki. Misalnya, pengadaan buku yang terlambat sehingga pegangan guru menjadi tidak kokoh, padahal distribusi dimulai pada November tahun lalu.

Kendala teknis lainnya adalah sosialisasi yang belum siap secara keseluruhan. “Ya, bagus kalau ditunda, tetapi bukan berarti KTSP buruk namun memang pelaksanaannya saat ini sangat repot.” ujarnya (11/05)

Amir mengatakan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 di tempatnya tergolong efektif karena keduanya, baik sekolah maupun siswa komitmen menjalankan dengan baik. Terlebih pengembangan standar sarana dan prasarana terkait kurikulum seperti pengadaan LCD untuk membantu KBM. Menurutnya, penggunaan LCD merupakan bentuk rill (mendekati riil) penggambaran contoh, misalnya ketika mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dan dihadapkan dengan contoh-contoh tanaman akar tunggang dan sebagainya.

Sementara itu, Fahira Idris, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), mengaku mendapat banyak SMS dan e-mail dari banyak orangtua murid yang menginginkan adanya kurikulum yang mampu menghadirkan proses belajar menjadi asyik dan menyenangkan.

About the author

Annisa Puspa Nugraheni

Annisa Puspa Nugraheni