ALL Apartemen dan Kos

Tanggung Jawab Besar Pemilik Kos

bateedolce
Written by bateedolce

Orangtua yang mengirimkan anak mereka untuk kuliah di Yogyakarta tentunya ingin anak mereka bisa belajar dan hidup secara baik. Salah satu yang mereka pertimbangkan adalah bagaimana rumah kos itu dikelola. Semakin tingginya persaingan usaha kos, semakin besar pula tuntutan para orangtua dan masyarakat terhadap pemilik kos.

Selain sebagai pemilik, mereka juga diharapkan berperan sebagai penjaga, pengawas dan orangtua bagi penghuni kos. Ini berarti menciptakan kehidupan sosial yang baik terhadap para penghuni kos.

Salah satu pemilik kos “ideal” itu adalah Umi Suliati. Sebagai pengusaha kos di Seturan, Umi menerapkan aturan yang ketat untuk penghuni kos dan melibatkan mereka dalam aktivitas sosial di sekitarnya.

“Memberikan aturan ketat bukan berarti membatasi. Tapi ini merupakan pencegahan dari semua hal buruk yang bisa saja terjadi. Sebagai pemilik kos, saya juga mengajak penghuni kos agar gabung dalam kegiatan sosial warga sini,” kata Umi.

Pengakuan Umi didukung oleh Fadil Yusuf, Ketua RT 12, RW 01 Seturan. Fadil berkata bahwa penghuni kos daerah ini cukup memberi perhatian terhadap kegiatan sosial yang dilakukan oleh warga. Mereka juga mengikuti aturan yang diterapkan masing-masing pemilik kos.

Akan tetapi, menurut Fadil, tidak semua pemilik kos seperti itu.Sebagian hanya bertujuan meraup keuntungan, tanpa memerhatikan kehidupan sosial para penghuni kos.

Fadil menceritakan kejadian pada 2012 lalu, ketika salah seorang penghuni kos putra RT 12, RW 01 Seturan tertangkap oleh warga membawa perempuan di dalam kamarnya. Ia dilaporkan kepada Ketua RT dan hanya diberi peringatan. Beberapa bulan kemudian, pria tersebut tertangkap oleh polisi karena menggunakan narkoba dan membawa perempuan lagi di dalam kamarnya. Setelah diselidiki, kejadian ini bisa terjadi karena tidak adanya pemilik kos (induk semang) yang tinggal di sana.

“Ini salah satu akibat dari ketidakpedulian beberapa pemilik kos. Menyerahkan kehidupan penghuni kos hanya kepada penjaga,” kata Fadil.

IMG_0417
Salah satu contoh rumah kos yang diberikan oleh Ketua RT 12, di mana banyak penghuninya  kurang terlibat dalam kegiatan sosial daerah sekitar.

Fadil Yusuf menambahkan bahwa terjadinya masalah seperti asusila, tindakan kriminal atau bentuk kejahatan karena tidak adanya penjagaan ketat dari pemilik kos. Hubungan yang baik antara pemilik kos dan penghuni kos bisa menciptakan kenyamanan. Sehingga para penghuni kos bisa terbuka dengan pemiliknya. Selain itu, penataan rumah kos-kosan juga menjadi faktor selanjutnya untuk menciptakan kehidupan sosial yang baik. Misalnya, tidak mendirikan kos putri berdekatan dengan kos putra. Ini salah satu pencegahan juga.

“Hubungan baik yang dilakukan pemilik kos adalah faktor utama kenyamanan dan keselamatan semua penghuni kos. Sebab kejahatan itu ada karena kelonggaran  yang diberikan pemilik kos,” kata salah satu mahasiswa penghuni kos RT 01 di Seturan yang tidak mau disebutkan namanya.

Beberapa warga lokal daerah Seturan juga membenarkan hal itu. Dalam lima tahun terakhir, warga daerah Seturan mengamati bahwa para penghuni kos di sini tidak mau terlibat dalam kegiatan sosial warga sekitar. Mereka cenderung tertutup dan tidak terlibat dalam kegiatan sosial di sini. Akibatnya warga sekitar juga tidak mau berinteraksi dengan penghuni kos.

Salah satu warga lokal Seturan itu menambahkan bahwa mereka yang tinggal di rumah kos yang ada induk semangnya biasanya lebih memerhatikan lingkungan sekitarnya. Mereka juga jarang mendapatkan masalah atau peringatan dari Ketua RT atau warga sekitar. Akibatnya mereka lebih terbuka dengan kegiatan-kegiatan warga.

About the author

bateedolce

bateedolce

13/345733/SP/25563