ALL Transportasi Publik

TransJogja Belum Ramah Difabel

Nanda
Written by Nanda

Fasilitas transportasi umum bagi kaum difabel di Yogyakarta masih jauh dari memadai. TransJogja sebagai moda transportasi umum yang banyak digunakan belum mampu melayani seluruh penumpang yang memiliki kebutuhan khusus. Untuk menggunakan jasanya, kaum difabel harus mendapatkan bantuan dari orang lain.

Sebagian besar halte TransJogja memiliki tiga pintu utama, yaitu pintu masuk, pintu keluar, dan pintu untuk naik ke dalam bus. Pintu masuk berupa anak tangga sedangkan pintu keluar berupa jalan yang landai (ramp). Keadaan ini tentu menyulitkan pengguna kursi roda untuk masuk ke dalam halte, ditambah lagi tepat setelah pintu masuk dipasangi gerbang yang posisinya sangat dekat dengan dinding halte.

Heri Purnomo, seorang petugas halte, mengatakan bahwa ketika ada pengguna kursi roda yang akan masuk halte, ia harus membantu mendorongnya menggunakan ramp yang terdapat di pintu keluar. Di samping itu, ramp yang ada juga memiliki kemiringan yang cukup curam sehingga tidak mungkin pengguna kursi roda masuk tanpa bantuan. Ditambah lagi terdapat beberapa ramp yang langsung berbatasan langsung dengan pohon, tiang, atau penghambat lainnya sehingga pengguna kursi roda kesulitan menggunakan fasilitas tersebut. Bahkan halte yang cukup ramai seperti halte bandara pun tidak menyediakan ramp di pintu masuknya.

Halte Giwangan, salah satu halte yang "ramah" difabel

Halte Giwangan, salah satu halte yang sudah ramah kaum difabel.

Halte dengan ukuran ruang tunggu yang kecil seperti yang terdapat di dekat Stadion Kridosono juga menyulitkan kaum difabel. Mobilitas pengguna kursi roda di halte tersebut sangat terbatas, apalagi ketika halte sedang ramai. Kendala lain adalah perbedaan ketinggian dan jarak halte dengan pintu bus sehingga untuk masuk ke dalam bus, pengguna kursi roda lagi-lagi memerlukan bantuan petugas halte untuk mengangkat kursi rodanya. Halte yang sudah cukup memadai bagi kaum difabel terdapat di UIN Sunan Kalijaga dan Terminal Giwangan, di pintu masuk dan keluar sudah terdapat ramp dan ukuran ruang tunggu juga cukup luas.

Akan tetapi, fasilitas lain seperti papan informasi dengan huruf braille tidak disediakan sehingga penyandang tuna netra seringkali kesulitan menentukan trayek mana yang harus ia naiki. Informasi kedatangan bus juga hanya disampaikan oleh petugas, tidak ada informasi visual maupun audio yang disediakan.

Edi, seorang penyandang tuna netra, pada awalnya merasa kesulitan mendapat informasi trayek mana yang harus ia naiki, “Jadi saya harus tanya petugasnya. Di dalam bus saya juga sering tanya penumpang di sebelah, ini sudah sampai mana. Tapi petugasnya baik-baik, saya jadi tertolong,” katanya. Lama-kelamaan karena sudah rutin menggunakan TransJogja, Edi sudah hafal trayek mana yang harus ia naiki dan berapa halte yang harus ia lewati untuk sampai ke tujuan.
Dari total 74 armada bus TransJogja, hanya sebagian saja yang “ramah” difabel. Bus-bus yang lama menyediakan ruang di dekat pintu darurat untuk pengguna kursi roda, tapi armada yang baru justru tidak menyediakan fasilitas itu, semua sudah terisi kursi sehingga ruang kosong yang tersisa hanyalah gang yang digunakan untuk akses keluar-masuk penumpang.

Salah satu armada bus TransJogja yang memiliki ruang untuk pengguna kursi roda

Salah satu armada bus TransJogja yang memiliki ruang untuk pengguna kursi roda

Secara keseluruhan, pelayanan yang diberikan TransJogja untuk kaum difabel masuk jauh dari baik. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan karena kesamaan kesempatan bagi kaum difabel dalam segala aspek kehidupan sudah diatur dalam UU Nomor 4 tahun 1977 pasal 10 tentang Penyandang Cacat.

About the author

Nanda

Nanda