ALL Media Cetak

Tujuh Jam Sebelum Surat Kabar Terbit

Dimiliki oleh Grup Kompas Gramedia, percetakan ini dikhususkan untuk mencetak surat kabar Tribun Jogja dan Superball (Farras Muhammad)
Farras Muhammad
Written by Farras Muhammad

Percetakan surat kabar menyimpan fragmen kehidupan malam yang bahkan terkadang lebih menarik daripada membaca surat kabar itu sendiri.

“Saya tidak suka kopi, teh bikin saya lebih kuat melek semalaman,” ujar Agung Setyo Budi, pegawai Percetakan Tribun Jogja. Di Gedung Percetakan Tribun Jogja, Rabu (1/4), Agung dan tujuh karyawan percetakan lainnya tengah mengarungi panjangnya malam demi pembaca yang menunggu surat kabar esok pagi.

Malam di percetakan Tribun Jogja biasanya dimulai pada pukul 19:30 WIB, namun, jam kerja ini tidak baku. Supriyono, Manajer Percetakan Tribun Jogja, menerangkan bahwa penentuan jam kerja bergantung pada oplah surat kabar yang dicetak. Saat pertama kali terbit, oplah surat kabar Tribun Jogja mencapai 80 ribu eksemplar, sehingga, jam kerjanya pun berbeda. Saat ini, jam kerja disesuaikan dengan jumlah eksemplar yang dicetak yaitu 53 ribu eksemplar.

Jam kerja juga ditentukan berdasarkan koordinasi dengan bagian redaksi dan sirkulasi. Kegiatan di percetakan baru bisa dimulai ketika redaksi telah mengirimkan berkas elektronik yang harus dicetak. Bagian sirkulasi menentukan kapan aktivitas percetakan selesai dengan menghitung jarak terjauh agen surat kabar yang dipasok yaitu di Gombong. “Pukul 2:45 WIB biasanya semua surat kabar telah selesai dicetak,” jelas Supriyono.

 Kertas yang digunakan untuk mencetak surat kabar dipasok oleh PT Aspex Kumbong (Farras Muhammad)


Kertas yang digunakan untuk mencetak surat kabar dipasok oleh PT Aspex Kumbong (Farras Muhammad)

Untuk memastikan surat kabar tercetak sesuai jadwal, setiap bagiannya dicetak bergiliran dan terbagi menjadi sesi satu, sesi dua, dan sesi tiga. Hermawan, pegawai Percetakan Tribun Jogja, menjelaskan bahwa angka di setiap sesi tidak mencerminkan urutan cetaknya. “Sesi dua dicetak paling pertama, selanjutnya menyusul sesi tiga dan sesi dua”, lanjutnya.

Sesi dua, yaitu bagian Malioboro Blitz, dicetak pertama dan biasanya selesai dicetak pukul 22:00 WIB. Surat kabar Super Ball, yang merupakan sesi tiga, dicetak selanjutnya dengan durasi sekitar dua jam. Giliran terakhir adalah sesi satu, terdiri dari berita-berita utama Tribun Jogja, yang biasanya selesai antara pukul 2:00 hingga 2:45 WIB.

Segala proses percetakan dan pengiriman surat kabar memang telah selesai pada dini hari, namun, bukan berarti siang hari merupakan waktu bersantai. Setiap siang Supriyono wajib datang ke percetakan untuk melakukan perawatan rutin terhadap mesin. “Hal tersebut harus dilakukan karena kami tidak mau proses produksi terganggu,” jelas Supriyono.

Aktivitas kerja yang berjalan di siang dan malam membuat Supriyono terpaksa harus tidur di waktu-waktu yang berbeda dari kebanyakan orang. “Saya biasanya baru bisa mulai tidur jam 5:30 WIB dan bangun jam 10:00 WIB,” ujarnya. Baginya hal itu tidak menjadi masalah karena dirinya sudah terbiasa dan tubuhnya telah memiliki pola istirahat sendiri.

Apa yang dialami oleh Supriyono dirasakan pula oleh para pegawainya. Agung mengakui bahwa sejak bekerja di percetakan pola hidupnya menjadi terbalik. Sepanjang siang, ketika orang biasanya melakukan aktivitas, ia harus tidur dan menyimpan energi agar ketika malam bisa bekerja maksimal. Hal tersebut juga sedikit banyak berpengaruh pada kehidupan sosial pria penggemar fotografi ini. “Saya jadi susah mencari pacar,” canda Agung.

Bagi mereka bekerja di percetakan harus berpikir cepat dan tepat. Sebabnya, ketika proses percetakan berlangsung hal yang paling diharamkan adalah terjadinya masalah pada mesin. Masih jelas dalam ingatan Supriyono bagaimana rasanya ketika empat tahun lalu terjadi masalah pada mesin.

Saat itu sempat terjadi kepanikan di antara para pekerjanya karena masalah pada mesin membuat surat kabar terancam tidak bisa tercetak sesuai jadwal. Parahnya lagi para pekerja masih terbilang baru bekerja di percetakan. Untungnya, tidak lama setelah itu masalah dapat diatasi dan proses percetakan kembali berjalan sesuai jadwal.

Jika masalah sampai terjadi dan surat kabar telat dicetak maka agen-agen surat kabar akan marah karena surat kabar pasti terlambat sampai pembaca. Akibatnya, segala kerja keras dan kelelahan akan berakhir sia-sia karena koran tidak laku. ”Duka yang paling terasa ketika bekerja di percetakan adalah saat mesin bermasalah,” ujar Agung.

(Ki-ka) Supriyono, Rofika, dan Agung tengah memastikan tidak ada surat kabar yang cacat produksi (Farras Muhammad)

(Ki-ka) Supriyono, Rofika, dan Agung tengah memastikan tidak ada surat kabar yang cacat produksi (Farras Muhammad)

Di tengah himpitan beban kerja, Supriyono mencari cara agar anak buahnya bisa lepas dari kejenuhan. Di antaranya dengan membangun lapangan bulu tangkis di dalam percetakan. Ketika ada hari santai, biasanya pria asli betawi dan anak buahnya menggunakan lapangan tersebut. Selain itu, mereka juga pernah melancong ke Pantai Glagah dengan memanfaatkan sedikit waktu setelah bekerja.

Meski hanya sebentar, namun waktu-waktu sempit seperti itu benar-benar harus dimanfaatkan karena waktu libur di percetakan sangat sedikit. “Di percetakan libur hanya tiga hari ketika lebaran dan satu hari ketika natal,” ungkap Supriyono. Hal tersebut juga menyebabkan intensitas interaksi antara karyawan sangat tinggi.

Untungnya, konflik di antara karyawan sangat jarang terjadi, bahkan jika pun terjadi tidak pernah membesar. “Kalau sudah terlihat gelagat ada konflik langsung saya panggil dan diselesaikan saat itu juga,” jelas Supriyono. Keharmonisan sangat penting dijaga karena orang-orang di dalamnya setiap hari akan berkomunikasi dan menyelesaikan masalah bersama-sama. “Pada akhirnya naluri kami sebagai keluarga akan tumbuh,” tutup Supriyono.

 

About the author

Farras Muhammad

Farras Muhammad